Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menakar Bencana Alam Yang Terjadi Pada Tahun 2025: Mengkritisi Akar Masalah Sistemik

Monday, December 29, 2025 | Monday, December 29, 2025 WIB Last Updated 2025-12-29T10:09:32Z

 


Oleh: Suryani


Kutipan indonesia baik.id – Menurut Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 4 desember tercatat indonesia telah mengalami 2.997 kejadian bencana alam sepanjang tahun. Data tersebut menegaskan bahwa negara indonesia berada di zona risiko tinggi terhadap bencana alam.


Terdapat beberapa bencana alam yang terjadi yaitu kebakaran hutan dan lahan (546 kejadian), tanah longsor (218 kejadian), kekeringan (36 kejadian), gempa bumi (23 kejadian), gelombang pasang dan abrasi (20 kejadian), erupsi gunung api (6 kejadian), dan 1 tsunami.


Dari beberapa bencana alam tersebut, banjir menempati posisi teratas dengan 1.503 kejadian, disusul cuaca ekstrem sebanyak 644 kasus. Tingginya intensitas hujan, alih fungsi lahan, dan kondisi geografis menjadi faktor yang memperkuat kerawanan tersebut. Namun yang perlu di garis bawahi bahwa salah satu penyebab kuat terjadinya banjir maupun tanah longsor salah satunya karena ulah manusia sendiri yang rakus yaitu mengubah alihkan fungsi hutan maupun lahan menjadi komoditas penghasil.


Analisis:


Sejatinya sistem kapitalis-sekuler menjadi akar penyebab bencana alam seperti banjir dan tangah longsor berfokus pada bagaimana ideologi ini mampu mengubah perilaku manusia terhadap alam. Dalam perspektif ini , bencana bukan sekedar fenomena alam murni faktanya sering di sebut bencana buatan yang dipicu oleh perilaku manusia yang dibentuk oleh sistem tersebut.


Manusia memandang dirinya sebagai pusat alam semesta dan pemilik sah atas sumber daya alam yang ada. Alam dianggap sebagai objek yang siap di eksploitasi untuk kepuasan materi, bukan tampa sebab kerana saat ini manusia berada dibawah naungan sistem yang penuh dengan kebebasan dan penganut keuntungan, ini terjadi ketika pengaturan hidup tidak berlandaskan pada agama sehingga manusia bebas tidak ada kontrol diri sehingga pengrusakan terjadi di mana-mana contohnya penggundulan hutan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menjadi pemicu utama terjadinya banjir dengan dampak yang luar biasa mengerikan seperti yang terjadi di aceh dan sumatera.


Lemahnya penegakkan hukum, seringkali aturan mengenai analisis mengenai dampak lingkungan dikalahkan oleh kepentingan investasi atas nama pembangunan ekonomi, ini juga merupakan bentuk ketidakpedulian atau kelalaian negara.


Singkatnya adalah sistem kapitalis-sekuler mereduksi jati diri manusia menjadi sekedar konsumen dan produser yang rakus. Hal ini menghilangkan keseimbangan alam yang telah di atur secara alamiah (sunatullah). Bencana banjir maupun bencana alam lainya merupakan sinyal bahwa daya dukung alam telah melampaui batas akibat tekanan sistemik yang mengutamakan materi di atas keselamatan nyawa dan lingkungan.


Kontruksi islam:


Dalam perspektif islam, pencegahan banjir bukan sekedar masalah teknis lingkungan, melainkan bagian dari tanggung jawab kepemimpinan untuk mengurusi urusan rakyat. Negara (Khilafah) dalam sistem islam memiliki pendekatan komprehensif yang memadukan perencanaan tata kota, kelestarian alam, dan kesiapan infrastruktur.


Pertama, konsep Hima, hima adalah kawasan yang dilindungi dan dilarang untuk dieksploitasi untuk kepentingan pribadi yang ditetapkan oleh negara demi kesejahteraan umum dan konservasi. Konsep ini telah diterapkan sejak masa nabi muhammad SAW.


Kedua, Pemerintah menerapkan sanksi berat termasuk denda, pencabutan izin, hingga hukuman penjara bagi pihak manapun baik individu maupun korporasi, yang terbukti melakukan penebangan liar atau perusakan lingkungan yang menyebabkan kerugian publik seperti banjir.


Ketiga, pencegahan kerusakan lingkungan (Dar’u al-mafasid) dan pengolahan sumber daya alam (siyasah syar’iyyah) yang didasarkan pada prinsip teologis dan hukum. Pendekatan ini mengatasi akar masalah banjir dengan menyeimbangkan hak individu dan tanggung jawab kolektif.


Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update