Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapitalisme Digital, Generasi Dihantam Kerusakan Mental

Thursday, December 11, 2025 | Thursday, December 11, 2025 WIB Last Updated 2025-12-11T06:22:41Z

 



Ammylia Ummu Rabani
Muslimah Peduli Generasi


Luar biasa. Indonesia mencetak rekor dunia. Bukan terkait prestasi olahraga ataupun ekonomi, tapi penggunaan ponsel untuk mengakses internet.


Laporan Digital 2025 Global Overview mencatat sebanyak 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online, melampaui Filipina dan Afrika Selatan yang mencatat 98,5% (cnbcindonesia.com, 29-11-2025) 


Fenomena kapitalisme digital di Indonesia telah menimbulkan kerusakan serius pada kesehatan mental generasi muda. Banyak anak muda kini mengalami gangguan mental akibat screen time berlebihan, kecanduan gadget, serta terpaan konten media yang tidak terkontrol. Penggunaan gawai yang tidak terarah menyebabkan gejala digital dementia, penurunan kemampuan berpikir, rasa kesepian, hingga ketergantungan emosional terhadap dunia maya. 


Padahal Allah telah memperingatkan, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya; pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36). 


Namun, tidak adanya pembatasan usia dalam penggunaan media sosial di Indonesia membuat anak-anak semakin rentan terhadap dampak negatif tersebut.


Dalam analisisnya, media digital dalam sistem kapitalisme pada akhirnya menjadi alat yang merusak generasi muda demi keuntungan perusahaan teknologi. Logika kapitalisme mengabaikan kesehatan mental generasi demi kepentingan ekonomi. Indonesia pun hanya dijadikan pasar bagi platform digital global, sementara negara tidak memiliki ketegasan yang cukup untuk melindungi generasi muda yang kelak akan memimpin bangsa. 


Padahal Islam menegaskan larangan menjerumuskan diri ke dalam bahaya, sebagaimana firman Allah, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195). 


Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). 


Ini menunjukkan bahwa membiarkan generasi rusak oleh sistem dan teknologi yang tidak terkendali adalah bentuk kelalaian kepemimpinan. Sebaliknya, kepemimpinan Islam memiliki visi kuat untuk membentuk generasi terbaik yang mampu memimpin peradaban. Negara dalam Islam mengambil langkah preventif untuk membentengi generasi dari kerusakan media digital, melalui penerapan sistem pendidikan Islam yang membangun pola pikir dan akhlak, penguatan peran orang tua sebagai madrasah ula, serta sinergi masyarakat dalam amar makruf nahi mungkar. 


Hal ini sejalan dengan perintah Allah, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm [66]: 6). 


Selain itu, negara melakukan langkah khusus berupa pengawasan terhadap konten media agar tetap sesuai nilai Islam, pemberian sanksi bagi penyebar konten yang merusak, pembatasan jenis media sosial yang boleh beroperasi, penetapan batas usia penggunaan media digital, hingga pengaturan pemanfaatan AI agar tidak membawa mudarat bagi generasi. 


Semua ini mencerminkan tanggung jawab negara Islam dalam menjaga kualitas generasi, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan.” (HR. Ibn Mājah). 


Dengan demikian, kepemimpinan Islam hadir sebagai pelindung dan pembentuk generasi unggul demi kejayaan peradaban. Wallahu a'lam bissawab



No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update