Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Imbas Kesenjangan Ekonomi, Pemuda Takut Menikah

Wednesday, December 10, 2025 | Wednesday, December 10, 2025 WIB Last Updated 2025-12-10T05:47:38Z

 



Oleh: Yani Astuti

Ibu Rumah Tangga


Menikah merupakan sebuah ibadah terpanjang yang di dalamnya dipenuhi dengan kasih dan kenyamanan antarpasangan. Namun, persepsi tersebut tidak semua generasi muda mau menerimanya. Mirisnya, karena menolak persepsi tersebut malah membuat mereka takut untuk menikah. Tapi, tidak sedikit juga yang melaksanakan pernikahan muda akhirnya melakukan perpisahan. 


Menunda menikah lebih baik ketimbang harus menikah muda. Itulah cara berpikirnya anak muda saat ini. Mereka beranggapan menikah menjadi sebuah beban tersendiri, dengan kata lain takut miskin melebihi dari takut tidak menikah. Fenomena ini menjadi trending topik setelah ramai di media sosial pada akhir Oktober 2025. Kebanyakan yang menyukainya pun para generasi muda. (Kompas.com, 22-11-2025).


Hal ini jelas, setiap manusia pasti mempunyai pola pikir yang berbeda-beda. Apalagi hari ini kebutuhan hidup untuk sehari-hari terus mengalami kenaikan, seperti bahan pokok, rumah atau tempat hidup yang memerlukan biaya tidak sedikit, dan persaingan antarpekerja satu sama lain. 


Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan biaya hidup di Jakarta bagi rumah tangga yang dihuni dua sampai enam orang, pengeluarannya mencapai Rp14,88 juta. Sedangkan untuk hidup sendiri diperkirakan mencapai Rp4,5 sampai 6 juta. Selain itu, ketakutan akan hal-hal seperti KDRT, perceraian, dan perselingkuhan atau biasa disebut marriage is scary sudah masuk dalam benak generasi muda saat ini. Jadi, wajar jika hal ini menjadi alasan generasi muda lebih mempertahankan masa lajangnya daripada menikah. 


Ketakutan Menikah Akibat Sistem Rusak


Fenomena takut menikah sebenarnya tidak lepas dari masalah economic scarring atau luka ekonomi. Kondisi ini penyebab generasi muda lebih memilih mencari kemapanan dari pada cepat-cepat menikah. Gen Z menganggap hidup sendiri saja sudah berat, apalagi hari membangun rumah tangga. Terlebih, biaya hidup saat ini yang serba membutuhkan materi, upah kerja yang rendah dan tidak sesuai kebutuhan sehari-hari. 


Takut menikah terjadi bukan hanya pada pria saja, melainkan pada wanita juga. Pasalnya, hari ini wanita jika tidak bekerja dianggap tidak berharga. Bahkan, wanita yang sudah menikah pun dituntut harus bekerja hanya untuk memenuhi isi perut. Belum lagi, fenomena perceraian pun kian meningkat, kebanyakan masalahnya karena ekononi. 


Ketakutan Gen Z untuk menikah, sejatinya hasil dari buah penerapan sistem kapitalisme. Sistem yang menjadikan materi sebagai tujuan satu-satunya mendapatkan kebahagiaan seseorang. Ironinya Gen Z tidak menjadikan pernikahan sebagai padang pahala serta kebahagiaan, melainkan beban hidup yang menakutkan. Oleh karena itu, kemapanan lebih utama demi gaya hidup. 


Dalam hal ini semestinya negara hadir sebagai pengurus dan pelindung rakyat. Sumber daya alam yang luas, seharusnya dikelola negara untuk kepentingan rakyat. Dengan begitu, rakyat akan terjamin kebutuhannya dan sejahtera. Namun, pada kenyataannya negara di bawah naungan sistem sekuler kapitalisme seakan lepas tangan terhadap kesejahteraan rakyat. Pada akhirnya, rakyat harus berupaya memikul beban hidup yang menyebabkan generasi takut menikah. 


Islam Hadir sebagai Solusi


Dalam Islam, kedudukan pernikahan adalah suatu ibadah terpajang. Islam juga menghadirkan sistem pergaulan menurut syariat Islam untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Dengan begitu, antara suami maupun istri paham mengenai kewajiban masing-masing. Dalam hal ini, tidak membuat sebuah pernikahan sebagai permainan, dengan kata lain pernikahan seumur jagung sudah melakukan perceraian.


Namun, jika dalam pernikahan sudah paham tentang kewajiban masig-masing, dan istri mempunyai sifat kanaah atas pemberian nafkah suami, maka pernikahan tersebut akan mendapatkan pernikahan yang sakinah, mawadah, dan rahmah. Dalam hal ini, setiap manusia akan sadar bahwa tujuan hidup dalam pernikahan hanya mencari rida allah Swt., bukan hanya mengejar materi belaka. 


Sementara itu, ketakutan generasi muda untuk menikah sejatinya akan terselesaikan apabila negara hadir sebagai pengurus rakyat. Negara memberikan kebutuhan rakyat seperti, tersedianya lapangan pekerjaan untuk suami-suami tanpa dipersulit, murahnya biaya hidup seperti tempat tinggal dan kebutuhan rumah tangga, serta upah kerja yang sesuai. Niscaya generasi muda tidak lagi takut menikah karena takut miskin. 


Dalam hal ini, akan terwujud jika SDA hanya dikelola negara, bukan oleh swasta/asing. Karena jelas ini sangat keliru, kesejahteraan terabaikan, imbasnya pada rakyat. Namun, jika SDA dikelola oleh negara, tekanan biaya hidup seperti hari ini tidak akan terjadi. Oleh karenanya, ketakutan menikah karena tidak stabilnya ekonomi di negeri ini yang justru menunda menikah jelas tidak dibenarkan, apalagi sudah terpaut usia. Rasulullah saw. bersabda, "Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan". (HR. Muslim) 


Hal ini dikhawatirkan adanya kemaksiatan seperti pacaran dan berdua-duan sesama lawan jenis. Maka, sudah saatnya meninggalkan sistem kapitalisme yang jelas rusak dan kembali kepada Islam sebagai solusi setiap permasalahan umatnya.

Waallahualam bissawab.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update