Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Muda Diburu Algoritma Kapitalis: Judol & Pinjol, Perangkap Sistemik yang Mencekik Masa Depan

Thursday, December 11, 2025 | Thursday, December 11, 2025 WIB Last Updated 2025-12-11T06:23:04Z


Oleh. Zulfa A.Md.Keb.
Muslimah Peduli Ummat 


Di banyak kota, kita semakin sering melihat wajah-wajah muda yang terlihat penat, terburu-buru, dan cemas—seakan mereka sedang dikejar sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa mereka taklukkan. Sebagian masih duduk di bangku kuliah, sebagian baru memulai pekerjaan pertama, sebagian lain masih mencari pijakan hidup. Namun di balik kesibukan itu, ada jeratan senyap yang mengintai mereka setiap hari, bahkan setiap jam: iklan judi online, notifikasi pinjaman instan, dan rekomendasi algoritma digital yang tampaknya tahu persis kapan anak muda sedang rapuh.


Fenomena ini bukan sekadar cerita individu. Ia telah menjadi kisah generasi — terutama Gen Z — yang tumbuh dalam tekanan ekonomi, budaya konsumtif, dan ruang digital yang dikuasai logika keuntungan. Sebuah survei dari berbagai lembaga dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa besar proporsi anak muda yang akhirnya menggunakan pinjaman online untuk kebutuhan gaya hidup dan hiburan. Persentasenya menembus lebih dari setengah populasi Gen Z. Lebih mengkhawatirkan lagi, rekening pinjaman usia muda meningkat drastis dalam laporan OJK terbaru. Ini bukan lagi tanda-tanda peringatan. Ini adalah alarm darurat sosial.


Namun, banyak pihak masih melihat fenomena ini sebagai persoalan pribadi: kurangnya literasi keuangan, lemahnya kontrol diri, atau buruknya manajemen waktu anak muda. Padahal persoalan ini jauh lebih kompleks, jauh lebih struktural. Kita sedang menyaksikan bagaimana generasi diburu oleh algoritma yang bekerja jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia menyadari bahayanya. Sebuah sistem yang memosisikan mereka bukan sebagai pemuda yang harus dibimbing, melainkan sebagai pasar yang harus dieksploitasi.


Di ruang digital, semuanya bergerak senyap tapi mematikan. Begitu seseorang mencari informasi pekerjaan, algoritma bisa menghubungkannya dengan iklan “penghasilan cepat” dari judi online. Begitu seseorang membuka video tentang gadget baru, muncul penawaran pinjaman kilat. Begitu seseorang mengunggah postingan tentang stress karena tugas kuliah, ia bisa disodori iklan hiburan yang menawarkan pelarian instan—meski berujung pada jeratan finansial.


Algoritma bukanlah musuh itu sendiri, tetapi logika yang menggerakkannya adalah masalah besar: logika kapitalisme yang memaksimalkan keuntungan, bahkan jika harus menghancurkan hidup generasi. Tidak ada pertimbangan moral dalam pilihan algoritma. Ia hanya belajar dari kebiasaan, bukan kebutuhan. Ia memetakan kerentanan, bukan keselamatan. Ia memprediksi kapan seseorang sedang goyah—dan saat itu pula jerat dipasang.


Sementara itu, banyak anak muda yang berada dalam tekanan ekonomi yang nyata. Mahalnya biaya hidup, sulitnya mencari pekerjaan layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan beban sosial tentang “gaya hidup ideal” membuat banyak dari mereka merasa tertinggal. Di tengah himpitan itu, tawaran pinjol dengan proses cepat terasa seperti jalan keluar, meski pada akhirnya menjadi jebakan. Begitu sekali terjerat, bunga berlipat ganda mengubah masalah sederhana menjadi beban bertahun-tahun.


Di sisi lain, dunia pendidikan gagal membentuk benteng kepribadian yang kokoh. Nilai-nilai yang diajarkan justru kian sekuler dan materialis: ukuran keberhasilan dinilai dari harta, gaya hidup, popularitas. Sekolah mempromosikan kompetisi, tetapi seringkali tidak memberikan bekal moral untuk menghadapi tantangan hidup. Akibatnya, banyak anak muda yang rapuh, mudah terpengaruh, dan mudah mencari pelarian ketika tekanan datang.


Lingkungan masyarakat pun tak jauh berbeda. Budaya konsumtif yang menjamur, gaya hidup serba instan, dan normalisasi “healing” yang kadang menjauhkan dari problem solving justru memperkuat kerentanan generasi. Dalam suasana seperti ini, tawaran judi online atau pinjol bukan hanya terlihat sebagai risiko — tetapi justru tampak seperti solusi jangka pendek yang masuk akal.


Namun akar persoalan tidak berhenti pada konteks sosial dan psikologis saja. Akar masalah sesungguhnya terletak pada sistem yang mengatur masyarakat: kapitalisme. Sebuah sistem yang memindahkan tanggung jawab negara kepada individu, seakan-akan pemuda yang gagal menghadapi tekanan ekonomi adalah kesalahannya sendiri. Padahal, tidak ada sistem ekonomi yang seharusnya membuat generasi muda kewalahan bahkan sebelum mereka memulai hidup.


Kapitalisme menempatkan rakyat — termasuk generasi muda — sebagai konsumen, bukan warga yang harus dilindungi. Seluruh infrastruktur digital dibangun bukan untuk menjamin keselamatan, tetapi untuk memaksimalkan klik, waktu layar, dan belanja. Karena itu, platform besar tidak pernah benar-benar serius menghapus iklan merusak. Mereka memblokir beberapa, namun membiarkan ribuan lainnya bersembunyi di setiap celah. Bukan karena tidak mampu — tetapi karena iklan itu mendatangkan uang.


Di titik ini, kita tidak bisa lagi hanya menyalahkan individu yang berjatuhan ke dalam jerat judol dan pinjol. Mereka berada dalam sistem yang mendorong mereka jatuh, lalu menyalahkan mereka karena jatuh. Mereka bukan pelaku kesalahan; mereka adalah korban dari mesin raksasa yang bekerja tanpa henti demi keuntungan.


Jika demikian, apa jalan keluarnya?


Islam sebagai sebuah sistem memiliki jawaban yang berbeda, lebih fundamental, lebih manusiawi, dan lebih menyeluruh. Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan individu per individu, bukan sekadar menjaga indikator makro yang membanggakan pemerintah. Dalam sistem ini, kebutuhan dasar rakyat dipenuhi dengan mekanisme nyata, bukan sekadar retorika. Negara bukan penonton — negara bertanggung jawab langsung memastikan masyarakat hidup layak.


Dalam konteks generasi muda, sistem pendidikan Islam tidak membentuk manusia yang hanya siap kerja, tetapi membentuk kepribadian kokoh yang menjadikan halal-haram sebagai standar dalam bertindak. Ketika seorang pemuda memahami bahwa mengambil pinjol ribawi adalah haram dan merusak kehidupannya, ia akan jauh lebih kokoh sekalipun tekanan ekonomi melanda. Ketika seorang pemuda memahami bahwa judi — baik offline maupun online — adalah dosa besar yang menghancurkan akal dan harta, ia akan mampu menahan godaan bahkan ketika algoritma mengejarnya.


Sementara itu, infrastruktur digital dalam sistem Islam dibangun di atas paradigma perlindungan, bukan keuntungan. Negara memiliki kontrol penuh untuk memastikan konten merusak tidak tersebar, bahwa ruang digital steril dari kriminalitas, bahwa teknologi digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk menjerat generasi. Dalam kerangka ini, tidak ada ruang bagi judi online, pinjol berbunga, atau iklan manipulatif. Negara hadir bukan setelah generasi hancur — tetapi hadir sejak awal untuk mencegah kehancuran.


Namun perubahan sistem bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Ia membutuhkan kesadaran kolektif generasi muda, bahwa mereka bukan hanya konsumen algoritma, tetapi bagian dari umat besar yang memiliki identitas, tanggung jawab, dan misi peradaban. Mereka adalah generasi Muslim yang seharusnya menjadi penerus kejayaan, bukan korban dari sistem yang menindas mereka. Untuk itu, mereka membutuhkan pembinaan Islam yang ideologis, bukan sekadar motivasi sesaat. Dan mereka membutuhkan wadah dakwah yang mampu mengarahkan potensi mereka untuk berjuang membangun perubahan sistemik, bukan sekadar menghibur luka-luka kecil yang terus berulang.


Pada akhirnya, persoalan judol dan pinjol bukan hanya persoalan aplikasi atau platform. Ini adalah persoalan peradaban. Persoalan tentang arah hidup generasi. Persoalan tentang sistem yang menentukan apakah anak muda akan hidup sebagai individu merdeka atau sebagai pasar yang dieksploitasi.


Hari ini, generasi muda diburu oleh algoritma. Namun esok hari, mereka bisa menjadi generasi yang membentuk algoritma, mengendalikan teknologi, dan memimpin arah dunia — melepaskan diri dari jeratan kapitalisme dan kembali pada sistem Islam yang membawa martabat, perlindungan, dan kesejahteraan hakiki.

Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update