Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z dan Perubahan Ideologis Sistemis

Wednesday, December 31, 2025 | Wednesday, December 31, 2025 WIB Last Updated 2025-12-31T05:02:35Z



Oleh Umi Lia


Member Akademi Menulis Kreatif


Di tahun 2025 ini gelombang protes gen z di berbagai tempat menunjukkan kekuatan kaum muda dalam menuntut perubahan. Dengan medsos sebagai katalisator, aksi ini pun semakin meluas. Mulai dari Maroko, Nepal, Indonesia, Bangladesh, Srilangka, Filipina, Timor Leste hingga Madagaskar dan Prancis. Para ahli menilai mereka bergerak didorong oleh faktor yang sama, yaitu korupsi yang merajalela, ketidakadilan sosial dan sempitnya lapangan kerja. 


Fenomena ini tidak terjadi begitu saja, menurut laporan Bloomberg pada Agustus 2025, pemuda yang lahir antara 1997-2012 menghadapi tantangan hidup lebih susah dibanding generasi sebelumnya. Dengan pengangguran global mencapai 13,6% pada tahun 2024 menurut International Labour Organization (ILO). Khusus di negeri ini BPS mencatat ada 13,9% pengangguran pada Februari 2025 di rentang usia 15-24 tahun. (Kaspa Space, 5/10/2025)


Generasi muda sekarang tumbuh dalam krisis berlapis: Ekonomi, iklim, pandemi dan polarisasi sosial hingga akhirnya menjadi remaja yang kritis, berani menyuarakan ketidakadilan. Mereka mengusung gerakan glocal, aksi lokal yang diperluas secara global melalui dunia maya sebagai digital native. Tahun 2025 menjadi saksi gelombang pergerakan pemuda tersebut. Mereka menantang kezaliman penguasa bahkan menyinggung kegagalan sistem meski belum sampai pada solusi sistemis. DNA aktivisme ini masih pragmatis belum ideologis.


Selain itu kapitalisme berkepentingan mempertahankan pragmatisme. PBB sejak 2024 mengarusutamakan keterlibatan pemuda. Sementara di Indonesia arus moderasi beragama sejak 2020 menjauhkan mereka dari ideologi Islam. Platform digital tidak hanya mempercepat arus informasi, tapi juga membentuk ruang diskusi yang dangkal dan sekuler. Sehingga pergerakan pemuda belum mampu membawa perubahan hakiki. Apalagi menggugat ideologi kapitalisme. Aktivisme digital membuka ruang mobilitas cepat di mana biaya komunikasi hampir nol. Konten bisa diproduksi dari ponsel dan jangkauan global tanpa organisasi formal. Gen z mampu membangun solidaritas lintas negara dalam isu Palestina misalnya, iklim dan keadilan sosial. Namun kuatnya narasi sekuler, membuat aktivisme mereka rentan dibajak oleh kekuatan pro demokrasi, dan kelompok progresif untuk kepentingan agenda politik mereka dalam hegemoni digital yang mengokohkan sekularisme demi melanggengkan penjajahan.


Selain itu aktivisme digital generasi muda mempunyai ciri utama, yaitu pergerakan mereka yang cair tanpa pemimpin tunggal. Dominasi influencer menjadi kunci kekuatan mereka sehingga sulit dipatahkan. Inilah yang disebut sosiolog Spanyol Manuel Castells sebagai networked social movements (gerakan sosial berjaringan). Karakteristiknya tidak ada pusat kendali sehingga memungkinkan partisipasi yang luas. Medsos menjadi andalan dalam  berkomunikasi. Kemudian individu dan kelompok terhubung melalui jaringan longgar dan berkolaborasi dalam isu-isu tertentu. Contoh nyata dari aksi ini adalah Arab Spring, Occupy Wall Street dan Black Live Matter di Amerika Serikat. Peristiwa-peristiwa tersebut hanya mengganti rezim karena tidak ada visi perubahan yang jelas.


Ruang digital melahirkan aktivisme instan dan emosional. Para pemuda ini terbukti kreatif, berani dan mampu menggerakkan ribuan orang dalam waktu singkat. Mereka pun tidak gentar menghadapi sikap represif aparat penguasa. Namun perhatian mereka cepat beralih dari satu isu ke isu yang lain. Gerakan bisa ramai di satu saat, lalu sepi di kemudian hari. Tidak adanya struktur formal yang menyatukan gen z membuat mereka kesulitan menemukan solusi konkrit. Mereka memang bisa menggulingkan kursi pejabat, tapi belum mampu melahirkan perubahan regulasi apalagi sistem. Narasinya masih dangkal belum fundamental dan gerakannya bersifat reaktif, sporadis, tidak ada strategi jangka panjang sehingga mudah dibajak.


Kapitalisme mudah membajak aktivisme gen z dengan membentuk pola pikir, pola sikap dan perilaku sekuler liberal kapitalistik melalui medsos. Tujuannya agar gerakan para pemuda tidak meruntuhkan hegemoninya meski sudah terlihat kerusakannya. Sementara itu remaja yang kritis dan mempunyai kepedulian tinggi ini juga rentan terjebak dalam konsumerisme yang dikendalikan algoritma digital. Mereka juga diarahkan pada perilaku permisif, FOMO, hedonistik, sekuler dan liberal. Walaupun dengan kemasan "islami" sehingga seolah mewakili aktivis muslim. Padahal Islam yang "diizinkan" bukan yang kafah hanya tampil pada aspek akidah, akhlak dan ibadah ritual saja.


Gerakan gen z yang reaktif, sporadis dan berbasis momentum tetap mempunyai nilai lebih dibanding parpol sekuler yang tidak bisa diharapkan. Setidaknya aksi para pemuda ini, menjadi pintu masuk bagi mereka untuk terlibat politik. Anak-anak muda ini masih dalam pencarian jati dirinya dan menemukan ruang gerak di dalam gerakan yang bersifat cair, horizontal dan afektif. Namun jika hal semacam ini dibiarkan tanpa arah yang jelas, tidak terstruktur dan tanpa upaya perubahan yang lebih terorganisasi, maka hanya menjadi tempat pelarian emosional yang tidak membawa hasil. Karena itu harus ada proses yang lebih ideologis dengan tujuan yang jelas. Sehingga kemarahan di dunia maya tidak berhenti pada pergantian person, tapi lebih pada sistem yang berubah.


Untuk itu harus ada pemikiran yang bersifat mendasar atau ideologis demi bisa melawan hegemoni digital yang telah merusak cara berpikir generasi. Hanya Islam yang mampu melakukan ini semua dengan prosesnya sesuai fitrah manusia. Diawali dengan menjawab uqdatul qubra, yaitu tiga pertanyaan besar supaya bisa menemukan kembali hakikat hidup. Dari mana manusia berasal, untuk apa dilahirkan ke dunia dan akan kemana setelah kematian, serta apa hubungan ketiganya? Dari sini akan melahirkan pemikiran dan hukum yang berkaitan dengan akhirat sekaligus persoalan di dunia. Seperti urusan politik, ekonomi, sosial, hukum, peradilan dan lain-lain. Seharusnya pemuda muslim menjadikan pemikiran mendasar atau akidah ini sebagai dasar beragama dan berpolitik (ruhiyah dan siyasiyah). Mereka yakin alquran adalah wahyu dari Allah Swt. sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan mereka. Inilah yang bisa menjadi bekal menghadapi informasi yang masif beserta algoritmanya.


Pemikiran yang mendasar serta hukum yang bisa menjadi solusi segala permasalahan kehidupan harus terus disebarkan baik di dunia nyata ataupun maya. Meski ruang digital dihegemoni kaum kapitalis global. Generasi muda harus tetap semangat membuat konten-konten dakwah serta memberi like dan memposting ulang. Harapannya supaya Islam ideologis menjadi alternatif perubahan di tengah-tengah kejenuhan sistem sekuler buatan manusia yang sudah usang. Masyarakat dunia harus disadarkan dengan kebobrokannya yang sudah semakin nampak. Adanya demo-demo gen z di berbagai negara hanya secuil isu yang diangkat di antara fakta kerusakan penerapan ideologi kapitalisme.


Demi tugas mulia tersebut gen z harus melebur dengan generasi yang lebih senior dalam jemaah Islam ideologis. Turut serta dalam pembinaannya dan kemudian bergerak dalam dakwah yang berbasis pemikiran dan politik tanpa kekerasan yang lahir dari akidah yang sahih. Gerakan ini untuk menyambut seruan Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104:

"Hendaknya ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung."

Wallahu a'lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update