Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gaza Tidak Baik-baik Saja: Saat Solusi Barat Gagal, Islam Menawarkan Jalan Keluar

Monday, December 01, 2025 | Monday, December 01, 2025 WIB Last Updated 2025-12-01T01:25:07Z

 

Oleh: Rumaisha 

(Pejuang Literasi)


Di tengah kabar yang berseliweran di media internasional bahwa kondisi Gaza mulai “stabil”, fakta di lapangan justru memperlihatkan sesuatu yang sangat berbeda. Musim dingin yang datang membawa badai dan banjir telah menghantam tenda-tenda yang menjadi tempat tinggal sementara bagi sebagian besar warga Gaza. Banyak tenda sobek, roboh, dan tidak lagi mampu melindungi penghuninya dari udara yang menggigit. Mereka yang selamat dari bom, kini harus berjuang menghadapi dingin dan banjir.


Kondisi ini membuat keluarga-keluarga pengungsi tersisa tanpa perlindungan sama sekali. Kantor media pemerintah Gaza memperkirakan sekitar 93 persen tenda pengungsian sudah tidak layak huni, yakni sekitar 125.000 dari total 135.000 tenda. (aa.com, 20/11/2025)


Ironisnya, meski gencatan senjata telah disepakati, blokade material perlindungan tetap berlangsung. Zionis terus mencegah masuknya tenda layak, rumah mobil, dan bantuan vital lain. Situasi ini memperlihatkan bahwa istilah gencatan senjata lebih banyak digunakan sebagai kosmetik politik, bukan langkah nyata untuk menghentikan penderitaan rakyat Gaza.


Sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober, setidaknya 260 warga Palestina tewas dan lebih dari 630 lainnya mengalami luka-luka. Angka-angka ini membuktikan bahwa apa yang disebut “redanya konflik” sebenarnya hanya ilusi yang diproduksi oleh narasi global. Gaza jelas tidak baik-baik saja.


Gencatan Senjata Bukan Solusi: Akar Masalahnya Adalah Penjajahan


Krisis yang terus berulang ini bukan sekadar akibat perang sesaat, melainkan buah pahit dari penjajahan yang tak pernah dihentikan. Selama akar masalah berupa pendudukan tetap dibiarkan, kondisi Gaza tidak akan pernah pulih. Gencatan senjata hanya menghentikan tembakan untuk sementara, tetapi tidak menyentuh akar persoalan, yakni keberadaan entitas penjajah yang terus memperluas kontrol dan mengekalkan penderitaan rakyat Palestina.


Bagi penjajah, masa gencatan hanyalah jeda untuk konsolidasi, bukan untuk mengizinkan rakyat Palestina bernafas. Karenanya, setiap momentum “damai sementara” selalu diikuti dengan tragedi baru. Gaza seolah dibiarkan hidup sekadar untuk terus merasakan derita berikutnya.


Dunia Menganggap Gaza Pulih? Narasi Itu Lahir dari Kendali Politik AS


Mengapa dunia bisa begitu cepat menganggap Gaza baik-baik saja? Mengapa penderitaan rakyat yang kian memburuk tidak dianggap darurat kemanusiaan?


Jawabannya sederhana,  narasi global berada di bawah kendali poros politik yang sama, yakni Amerika Serikat dan sekutunya. Mereka adalah arsitek berbagai kesepakatan yang berpura-pura menghadirkan solusi damai, padahal sejatinya melanggengkan penjajahan. Dunia menormalisasi penderitaan Gaza karena kepentingan geopolitik lebih diutamakan ketimbang kemanusiaan.


Selama poros Barat memegang kendali narasi, Gaza akan terus digambarkan pulih meski rakyatnya menjerit di tengah banjir, blokade, kelaparan, dan kehilangan tempat tinggal.


Solusi Barat Gagal Total


Berbagai pendekatan Barat, baik melalui PBB, proposal dua negara, maupun gencatan senjata berkala, berulang kali terbukti gagal, tidak mampu menghentikan penjajahan. Bahkan sering kali justru memperkuat posisi agresor. Dunia diminta percaya bahwa krisis ini bisa selesai dengan diplomasi, padahal sejarah panjang konflik menunjukkan sebaliknya.


Faktanya, solusi-solusi ala Barat hanya membuat Palestina semakin kehilangan tanah, hak, dan perlindungan. Gaza dibiarkan terombang-ambing tanpa kepastian.


Gaza Butuh Junnah: Perlindungan Sejati dari Umat Islam


Dalam kondisi seperti ini, solusi Islam bukan hanya alternatif, tetapi satu-satunya jalan keluar hakiki. Islam memandang bahwa penjajahan adalah kezaliman besar yang wajib dihapus. Karena itu umat Islam diperintahkan untuk menolong saudaranya yang tertindas, bukan hanya dengan doa, tetapi dengan perlindungan nyata yaitu jihad yang dipimpin oleh seorang khalifah.


Itulah mengapa Khilafah dalam Islam disebut sebagai junnah, yaitu perisai bagi umat. Sebuah institusi politik yang bertanggung jawab penuh untuk menghentikan penjajahan, menjaga kehormatan umat, dan memastikan tidak ada darah kaum Muslim yang ditumpahkan tanpa pembelaan.


Gaza tidak membutuhkan belas kasihan sesaat atau bantuan yang dihalangi blokade. Gaza membutuhkan kekuatan yang mampu memutus dominasi penjajah, membebaskan tanahnya, dan mengembalikan kemuliaannya sebagai bagian dari tanah kaum Muslim.


Kaum Muslimin, semestinya mengingat kembali bagaimana sejarah mencatat bahwa Palestina adalah tanah kaum Muslimin sejak dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khathab pada abad ke-7 dan kembali ditegakkan kehormatannya oleh Khalifah Shalahuddin Al-Ayubi pada abad ke-12. Sejak itu, selama berabad-abad Palestina berada dalam naungan pemerintahan Islam yang menghadirkan keamanan, kemakmuran, serta perlindungan bagi seluruh penduduknya tanpa memandang agama. Karena itu, bagi umat Islam hari ini, Palestina bukan sekedar isu kemanusiaan, tetapi bagian dari wilayah Islam yang pernah dijaga oleh para pemimpin agung. 


Solusi Islam Harus Terus Disuarakan


Di tengah derasnya narasi yang menormalkan penderitaan Gaza, kewajiban umat Islam adalah terus mengeraskan seruan kepada solusi hakiki. Dakwah Islam ideologis harus terus berjalan, memperlihatkan bahwa Islam memiliki sistem yang komprehensif untuk membebaskan manusia dari kezaliman, termasuk kezaliman penjajahan.


Selama narasi ini terus dijaga dan disebarkan, umat Islam tidak akan kehilangan arah. Mereka akan tetap yakin bahwa penderitaan Gaza hanyalah satu babak dari perjalanan panjang menuju kemenangan yang dijanjikan Allah Swt. bagi kaum yang berjuang di jalan-Nya.


Gaza sedang tidak baik-baik saja. Untuk itu, dunia terutama umat Islam, tidak boleh diam. Ketika solusi Barat terus gagal, saatnya kembali kepada solusi yang telah Allah Swt tetapkan. Umat harus terus berupaya untuk segera menegakkan khilafah agar saudara-saudara di Palestina bisa terlepas dari kezaliman Yahudi Israel laknatullah.


Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update