Oleh D Budiarti Saputri
Tenaga Kesehatan
Internet
saat ini sudah menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
sehari-hari. Terutama bagi kalangan muda. Tetapi sayangnya internet selain
memiliki manfaat baik tetapi juga membawa dampak buruk. Salah satunya
penyebarluasan judol dan pinjol. Mirisnya yang banyak menjadi korban paparan
judol dan pinjol ini adalah dari kalangan muda, terutama kalangan muda dengan
finansial terbatas.
Hal ini disampaikan dalam Penelitian di Spanyol menemukan bahwa anak muda kelas bawah menerima hampir dua kali lebih banyak iklan produk keuangan berisiko dibandingkan rekan mereka dari kelas atas. Sebaliknya, kaum muda dari kelas sosial ekonomi lebih tinggi justru lebih sering melihat iklan perjalanan dan rekreasi.
Algoritma platform media sosial mampu menyimpulkan status sosial ekonomi pengguna dari jejak digital mereka, termasuk alamat dan perilaku daring, lalu menampilkan iklan yang sesuai dengan kerentanan mereka. Karena anak muda dari keluarga kurang mampu memiliki keinginan kuat untuk mobilitas sosial, mereka menjadi sasaran utama iklan yang menjanjikan penghasilan cepat, tetapi berisiko tinggi. Di antara data lainnya, studi ini mengungkapkan bahwa persentase kaum muda kelas bawah yang menerima iklan produk keuangan berisiko (15 persen) hampir dua kali lipat dari rekan-rekan mereka dari kelas atas (8 persen). Dikutip dari kompas.com.
Himpitan ekonomi yang lahir dari sistem kapitalis yang memberikan standar kebahagian berupa materi mendorong sebagian anak muda terjerumus ke judol dan pinjol sebagai jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hedonis mereka. Nilai-nilai sekuler dan materialis dalam sistem pendidikan dan lingkungan masyarakat membuat generasi rentan pada tindakan spekulatif dan berisiko. Hal ini menunjukan kegagalan negara dalam melindungi generasi. Ruang digital yang dikuasai logika Kapitalisme menjadikan platform (lewat algoritmanya) berfokus pada kebiasaan, bukan keselamatan pengguna, semata-mata demi mendapatkan keuntungan dan menjadikan generasi sebagai pasar.
Hal ini berbeda dengan Sistem Islam. Islam menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya (individu per individu), termasuk generasi. Pendidikan Islam membentuk kepribadian Islam, sehingga generasi menyandarkan perbuatannya pada halal-haram, bukan manfaat materi.
Infrastruktur digital dalam sistem Islam dibangun di atas paradigma Islam bukan hanya sekedar meraih keuntungan semata. Sehingga mampu melindungi generasi dari konten merusak, normalisasi maksiat, dan kriminalitas. Generasi Muslim harus memahami identitasnya sebagai muslim dan sebagai pembangun peradaban melalui pembinaan Islam dan aktivitas dakwah bersama kelompok dakwah Islam ideologis. Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment