Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dua Generasi Satu Amanah, Menuju Peradaban Islam Gemilang 

Tuesday, December 09, 2025 | Tuesday, December 09, 2025 WIB Last Updated 2025-12-09T16:34:09Z

 

Oleh : Rengganis Santika A 

Dalam sebuah peribahasa Arab klasik yang kalimatnya sebagai berikut "Syababu Yaum Ar Rijalu Ghod" Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari (masa yang akan datang). Memang benar demikian, masa depan sebuah negeri bahkan sebuah peradaban, ada ditangan para pemudanya hari ini. Nasib bangsa yang akan datang ditentukan oleh generasi hari ini. Lantas "Apa kabar wahai pemuda masa kini?". Bagaimana generasi muslim hari ini? Sungguh miris, banyak pemuda hari ini, alih-alih jadi generasi bawa perubahan,  justru malah jadi generasi rebahan. 

Kaum Gen Z dan  gen alpha, yang lahir di tahun 90-an sampai 2000 an, kerap disebut "generasi strawberry" atau "generasi sandwich. Kemilau namun mudah rapuh dan menjadi generasi yang merasa dihimpit beban mental dan fisik. Namun jangan lupa siapa petani strawberrynya? Atau siapa yang membuat sandwichnya? Kitalah para orangtua petani dan pembuatnya. Kita harus bertanggungjawab dalam mencetak generasi pelopor perubahan. Masa depan peradaban Islam ada ditangan mereka dan tentu saja kita yang mencetaknya.

Digitalisasi Dan Budaya Global Menciptakan "Gap" Antara generasi.

Di era digital saat ini tantangan mencetak generasi pelopor perubahan semakin tak mudah.  Seperti ada jarak yang memisahkan antar lintas generasi. "Generation Gap First Emerged" slogan ini pertama kali dipopulerkan pada tahun 1952 oleh Mannheim Karl, Sosiolog Jerman dengan bukunya "The Problem of Generation". Pada tahun 1960-an sosiolog Amerika, Margaret Mead mengangkat fakta ini. Tahun 60-an realitas "gap generation" (kesenjangan generasi) mulai marak di AS. Pada era tersebut fenomena konflik antara orangtua dan anak kian kompleks.

Sering terjadi Konflik nilai antara generasi orang tua dan generasi anak muda, yang dipengaruhi perubahan sosial yang sangat cepat. Fenomena ini menguat di era Revolusi Budaya 60-an, seiring munculnya gerakan hippies, perlawanan terhadap norma tradisional, perubahan gaya hidup, liberalisme, dan perkembangan teknologi mass media. Sehingga nilai orang tua tak lagi otomatis menjadi nilai anak. Kesenjangan ini sering menimbulkan, ketidaksinkronan komunikasi. Kerap terjadi salah paham antara Generasi Tua dan Generasi Muda.  Perbedaan standar moral juga ketidakselarasan visi hidup mulai terasa. Adapula karena konflik dalam pengasuhan dan pendidikan. Hal ini juga dipengaruhi perubahan teknologi yang terlalu cepat. Generasi muda "digital native" (terlahir dengan teknologi). Sebaliknya Generasi tua "digital immigrant" (kenal teknologi saat dewasa). 

"Gap" juga terjadi dalam cara belajar, berkomunikasi, dan cara mencari makna hidup. Hal tersebut dipengaruhi perubahan sosial dan budaya, serta globalisasi budaya barat. Kultur yang menormalisasi individualisme, kebebasan tanpa batas, dan gaya hidup instan. Seiring nilai agama semakin tersisih dari ruang publik (sekularisme). Media dan Algoritma sukses membentuk anak muda melalui TikTok, YouTube, Netflix, dan IG. Sementara Generasi Tua sering kalah cepat dan kalah pengaruh. Pendidikan, sangat akademik (study oriented) memperbesar jarak dengan nilai agama. Tuntutan tekanan hidup, prestasi tinggi, serta situasi ekonomi yang makin kompetitif. Sistem kapitalisme yang materialistik memperparah kondisi ini.

Keadaan kian rumit, ketika Institusi pembentuk peradaban Islam yaitu madrasah dan ulama saat ini, justru lemah setelah sistem Islam hilang. Agama dipisahkan dari urusan hidup; Islam hanya dianggap ritual, bukan sistem hidup. Benar-salah ditentukan perasaan dan opini, bukan standar  halal–haram. Kebebasan pribadi dianggap paling penting; nilai keluarga dan komunitas melemah. Kurikulum pendidikan dibangun di atas nilai sekuler, bukan aqidah Islam. Nilai Islam hanya menjadi "pelengkap", bukan landasan berpikir. Pendidikan modern membuat anak muda mengejar karier, bukan makna hidup. Budaya global (musik, film, game, lifestyle) lebih berpengaruh membentuk karakter anak muda dibanding keluarga atau guru. Generasi muda masa kini  memiliki dua identitas: online dan kehidupan nyata, yang seringkali bertentangan.

Visi Islam Menyatukan Dua Generasi Dalam Satu Amanah 

Al Qur'an surat as shaffat 102, mengajarkan bagaimana nabi Ibrahim sebagai ayah membangun ruang dialog dengan putranya Ismail as yang akan menginjak remaja. Disana jelas walau perintah namun nabi Ibrahim tidak otoriter meminta pendapat putranya terhadap suatu hal penting dan genting. Ismail pun nampak memiliki pemahaman buah didikan ibunda hajar dan arahan sang ayah Ibrahim as. Inilah gambaran dua generasi namun satu visi yaitu ketaatan terhadap perintah Allah. Demikian pula dialog Lukmanul hakim dan putranya. Bukan komunikasi searah yang bersifat instruksional namun menggunakan bahasa dan diksi empati dan simpati. 

Hari ini tak jarang Generasi yang lebih tua lebih banyak menggurui/menghakimi. Padahal Generasi muda bukan melawan tapi mereka ingin didengar, bukan dihakimi. Jadi Gap sesungguhnya bukan soal kesenjangan umur tapi terputusnya Generasi Muda dari nilai peradaban Islam. Hilangnya institusi pelindung yaitu Khilafah (1924), yang berakibat terputusnya generasi dari sistem hidup Islam yang seharusnya menaungi mereka. Hukum dan aturan hidup diganti dengan sistem buatan manusia, bukan syariah. Oleh karena itu mencetak generasi pelopor bukan tugas mudah yang bisa dilakukan individu atau sekolah. Tapi ini merupakan project besar dan berjama'ah. Generasi tua dan muda satu visi satu amanah, berjuang bersama  untuk melanjutkan kehidupan Islam, mengembalikan peradaban Islam yang gemilang. Wallahu 'alam


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update