Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bijak Bermedsos Menurut Islam

Sunday, December 28, 2025 | Sunday, December 28, 2025 WIB Last Updated 2025-12-28T14:29:49Z


 


Oleh :Ummu Naufal 

Praktisi Pendidikan 


Media sosial kini menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan di kalangan generasi zaman sekarang baik tua maupun muda. Setiap kali merasa bosan, tanpa disadari kita mulai membuka ponsel dan menikmati beragam konten yang tersedia di dalamnya. Sayangnya, tidak semua konten yang dikonsumsi berkualitas, bahkan lebih parah lagi terdapat banyak konten yang dapat merusak cara berfikir.


Dilansir dari GEMAGAZINE – . Fenomena ”Brain Rot”  yang secara harfiah berarti “Pembusukan Otak” bisa terjadi karena seringnya mengonsumsi konten-konten receh tanpa nilai edukatif atau tidak bermanfaat. Dapat berakibat pada penurunan kecerdasan dan kondisi mental, yaitu penurunan fungsi kognitif akibat gaya hidup modern yang bergantung pada teknologi, Gemagazine  Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Senin (23/06/2025).


Selain itu terdapat banyak konten digital yang dapat merusak cara berpikir, bersikap bahkan beragama bagi generasi muda saat ini. Seperti fenomena ledakan yang terjadi di SMA kelapa Gading, Jakarta Utara yang menyebabkan banyak korban. Pelaku seorang siswa melakukan aksi ledakan ini karena ia merasa sendirian dan tidak ada tempat berkeluh kesah baik itu di lingkungan keluarga, rumah ataupun sekolah.Lensa Media News (2025)


Adanya kemajuan teknologi yang memudahkan dalam mengakses segala hal ternyata tidak menutup kemungkinan menjadi sumber bencana bagi generasi saat ini.


Penggunaan Sistem Kapitalisme Sekuler  

Negara kita sudah sejak lama menganut sistem sekuler kapitalisme. Kehidupan dalam sistem ini tidak diatur sepenuhnya oleh agama. Malah sengaja menjauhkan agama dari kehidupan. Oleh karena itu Negara dalam sistem kapitalis sekuler ini tentunya tidak bertindak dan tidak mampu menjadi pelindung masyarakat maupun generasi terhadap ekosistem digital yang dapat merusak tatanan kehidupan saat ini.


Dalam kehidupan sekuler liberal seseorang merasa bebas untuk mengakses kehidupan di dunia maya tanpa batas. Bahkan konten tidak bermanfaat dan membahayakan dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat, seperti kekerasan, bullying, ponografi, traficking, moderasi dan lain sebagainya.


Padahal apabila konten-konten tersebut terus-terusan dikonsumsi, hal ini akan berdampak buruk terhadap perkembangan taraf berfikir masyarakat terutama generasi muda. Kemampuan berpikir kritis dan mendalam menjadi lemah. Otak menjadi kurang terlatih untuk berpikir secara mendalam, serta kurang pertimbangan rasional, sehingga mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk yang merusak cara berfikir. Misalnya saja seperti terjadinya pengeboman oleh siswa SMA Negeri 72 di Kelapa Gading Jakarta Utara. 


Negara tidak membentuk rakyatnya agar memiliki pemahaman yang benar dalam mengakses konten-konten di dunia maya. Seharusnya negara mengeluarkan aturan yang jelas, bagaimana cara mengakses konten yang benar, sesuai dengan aturan agama. Pembuat konten buruk dibiarkan. Bahkan pembuat konten anomali, walaupun itu pelanggaran, sama sekali tidak mendapat sangsi. Herannya apabila konten itu sudah viral, banyak dampak  buruknya barulah negara menanggapi.Seharusnya negara dengan tegas, sigap, serta penanganan yang cepat dan tepat dapat memblokir dan tidak membiarkan konten-konten yang buruk  tersebar membahayakan pemikiran masyarakat bahkan pada anak di bawah umur, sehingga tidak akan terjadi fenomena “brain rot”, seperti sekarang ini.


Telisik Mengapa Terjadi Fenomena Brain Rot?

Apabila kita telisik banyak faktor yang menyebabkan fenomena “brain rot” ini terjadi. Penyebab yang paling menonjol dari semua kasus yang terjadi adalah penerapan sistem sekuler kapitatalisme di negeri ini, Dalam kehidupan sekuler liberal seseorang merasa bebas untuk mengakses kehidupan di dunia maya tanpa batas. Bahkan konten tidak bermanfaat dan membahayakan dengan mudah dapat diakses oleh masyarakat, seperti kekerasan, bullying, ponografi, traficking, moderasi dan lain sebagainya, semua ini terjadi karena:


Pertama, lemahnya benteng keimanan seseorang dalam melaksanakan agama, sehingga mereka mudah terjerumus dalam perbuatan tidak terpuji, mereka berani melakukan perbuatan yang melanggar aturan, misalnya konten kreator membuat konten tidak bermanfaat, jauh dari aturan agama, bahkan konten maksiat sekalipun yang penting cuan. Para pengguna medsos juga tidak bijak dalam  mengakses konten, mau baik atau tidak, maksiat atau tidak yang penting suka. Tentu saja  menurut agama hal itu sama-sama tidak boleh dilakukan.


Kedua, tidak berjalannnya kontrol masyarakat, sehingga menyebabkan masyarakat abai dalam melihat kemungkaran. Tidak adanya aktivitas amar makruf nahi munkar di tengah masyarakat. Amar ma’ruf nahi munkar adalah  wajib dilakukan, supaya perilaku buruk  bisa terus dicegah dan tidak bermunculan, misalnya terus-terusan mengingatkan para  pembuat  konten-konten yang tidak bermanfaat dan juga para pengaksesnya


Ketiga, peran negara lemah, saking lemahnya peran negara dalam mengawasi dunia maya menjadikan seolah-olah negara tidak hadir dalam masalah ini. Ketika terjadi suatu pelanggaran ada yang dikenai sanksi dan ada juga yang tidak. Hukum seperti mata pisau tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Sehingga tidak menimbulkan efek jera.


Pandangan Islam terhadap Brain Rot

Menghindari brain rot bukan hanya soal menjaga kesehatan mental, tetapi juga menjaga amanah waktu yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.


Dalam Islam, waktu itu bukan sekadar soal manajemen atau efisiensi. Waktu adalah amanah. Nikmat yang sering diremehkan, padahal akan ditanya di akhirat nanti. Rasulullah saw. bersabda:

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.”

(HR. Bukhari, no. 6412)

Fenomena brain rot sebenarnya bukan cuma soal kecanduan gadget. Ia juga soal kelalaian. Kita tahu harusnya baca buku, ngerjain tugas, atau sekadar rehat dari layar. Tapi tetap aja, jari lebih cepat buka TikTok daripada buka buku. Otak kita jadi kebal terhadap hal-hal penting, tapi super responsif terhadap hiburan instan.


Padahal, Islam mendorong kita untuk berpikir mendalam. Tafakkur, ta’aqqul, tadabbur. Semua itu butuh fokus. Butuh ruang hening. Dan brain rot diam-diam mencuri itu semua. Ia tidak membatalkan salat, tapi bisa menghilangkan khusyuk. Ia tidak menghapus amal, tapi membuat kita hadir setengah hati. Baik di kelas, Ketika ibadah, maupun dalam relasi.


Islam Solusi Semua Permasalahan 

Dalam Islam, kehidupan akan diatur sedemikian baik dan terperinci oleh seorang pemimpin negara yang bertanggung jawab dalam memenuhi semua kebutuhan umat, dari mulai tataran ekonomi, pendidikan, kesehatan, bahkan tataran sosial sekalipun.


Rasulullah saw. bersabda: "Imam/khalifah adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Al-Bukhari).


Negara akan bertanggung jawab dan akan melindungi seluruh masyarakat. Tidak hanya dalam kehidupan nyata tetapi juga dalam lingkup ruang digital, negara akan menyaring konten yang tidak sesuai syariat dengan teknologi tercanggih sehingga konten tersebut tidak akan mudah diakses oleh masyarakat.


Selain itu juga negara akan menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan tenteram. Membentuk ketakwaan individu melalui penerapan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Hal ini diharapkan menjadi pencegah terjadinya berbagai kemaksiatan, seperti membuat dan menonton konten buruk  dll. yang dilarang syari’at.


Selanjutnya, masyarakat dibiasakan hidup dengan poros dakwah, yaitu saling peduli, melalui kewajiban amar makruf nahi mungkar secara kolektif, hingga mampu mencegah terjadinya berbagai kemaksiatan, seperti membuat dan menonton konten=kontene  buruk.


Kemudian negara wajib menerapkan aturan Islam secara sempurna di semua aspek kehidupan, sebagai kewajiban umat Islam. Ketika aturan Islam ditegakkan, umat akan terjaga dari kemungkinan berbuat dosa.


Dalam negara Islam yaitu Khilafah semua masyarakat akan menegakan syariat Islam secara kaffah, seorang individu akan ditanamkan iman yang kuat dalam diri sehingga tidak akan goyah oleh keterpurukan kehidupan, begitu pula kehidupan bermasyarakat yang senantiasa dikontrol oleh syariat, sehingga akan menjadi solusi yang tepat bagi setiap permasalahan kehidupan.


Maka dari itu sangat penting untuk terus memperjuangkan kehidupan sesuai dengan syariat Islam kaffah agar kita mendapatkan kehidupan yang aman dan tentram, kehidupan dengan syariat Islam kaffah hanya akan terealisasikan oleh tegaknya Khilafah.


Wallahu alam bishshawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update