Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Algoritma Kapitalis-Sekuler, Positif atau Negatif?

Friday, December 12, 2025 | Friday, December 12, 2025 WIB Last Updated 2025-12-12T12:48:57Z

 


Oleh: Deni Marliani, S.Pd (Pegiat Literasi)


Bagi Generasi Z yang lahir dan dibesarkan di tengah era digitalisasi (gelombang internet), masalah apa pun menjadi lebih muda,h tidak terkecuali masalah keuangan.  Dengan hanya beberapa sentuhan di ponsel, mereka dapat meminjam uang, berbelanja, atau bahkan memenuhi kebutuhan hidup. Tidak perlu ke bank dan tanpa perlu jaminan. Semua dilakukan dengan cepat, mudah, dan langsung. Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat jebakan yang halus, yaitu budaya hidup dalam utang digital. Banyak anak muda saat ini terjebak dalam tumpukan tagihan yang mereka tidak sadari jumlahnya. Mereka merasa mampu karena bisa “bayar belakangan”, padahal sebenarnya mereka sedang berutang untuk masa depan. 


Mengutip dari Kompas.id (5/12/2025), kaum muda yang memiliki dana yang lebih sedikit, terutama pria, merupakan kelompok yang paling terkena dampak dari iklan-iklan algoritmik yang menawarkan cara cepat untuk mendapatkan uang, meskipun dengan risiko tinggi, seperti pinjaman dan perjudian online. Di sisi lain, iklan yang sering ditampilkan kepada generasi muda dari kalangan atas biasanya berhubungan dengan wisata dan kegiatan santai.


Riset yang dilakukan Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengungkap bahwa 58 persen generasi Z menggunakan pinjaman online (Pinjol) demi memenuhi kebutuhan gaya hidup dan hiburan. Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai belajar cara mengelola keuangan sebelum memasuki dunia kerja.


Jerat utang online di kalangan generasi muda meningkat pesat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa tingkat kredit yang tidak terbayar pada usia di bawah 19 tahun menunjukkan lonjakan sebesar 815 persen, dari 2. 479 menjadi sekitar 22 ribu akun. Sedangkan untuk kelompok usia 19 hingga 34 tahun, peningkatannya lebih sedikit, yaitu 55,87 persen, dari sekitar 279 ribu menjadi 434 ribu akun.


Banyaknya anak muda yang tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman digital adalah fenomena yang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia. "Digitalisasi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberikan kemudahan, tetapi disisi lain bisa menjadi berbahaya jika tidak digunakan secara bijak," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi.  


 *Algoritma Kapitalis-Sekuler, Positif atau Negatif ?* 


Jika kita melihat inti permasalahannya, alasan utama yang membuat orang memilih judi online (Judol) sebagai jalan pintas adalah faktor ekonomi. Mereka menggunakan judi sebagai cara untuk mencoba keberuntungan dengan harapan bisa memperoleh keuntungan besar tanpa memerlukan banyak usaha. Alih-alih mendapatkan keuntungan, kebiasaan berjudi yang tidak dapat diprediksi justru membawa kepada kerugian nyata yang berdampak pada kesehatan mental para penjudi. Pertanyaannya adalah, mengapa perilaku masyarakat seperti ini bisa muncul?


Saat ini, kehidupan masyarakat cenderung bersifat individualis dan sangat materialistis, sehingga mereka beranggapan bahwa kebahagiaan hanya bisa diukur dengan uang. Pandangan ini muncul akibat pengaruh Sistem Kapitalis yang telah mengakar dalam masyarakat dan mempengaruhi cara berpikir, perasaan, serta norma-norma dalam kehidupan sehari-hari. 


Sistem pemerintahan saat ini yaitu Kapitalis-Sekuler menjadi penyebab munculnya perjudian online sebagai solusi yang fatal terhadap berbagai masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat. Alih-alih menuntaskan masalah, hal ini justru menciptakan lebih banyak masalah yang lebih serius. Ini adalah contoh nyata kegagalan sistem Kapitalis-Sekuler dalam memberikan kesejahteraan. Negara gagal melindungi generasi. Nilai-nilai sekuler dan materialis dalam sistem pendidikan dan lingkungan masyarakat membuat generasi rentan pada tindakan spekulatif dan berisiko.


Ruang maya yang dikuasai oleh prinsip-prinsip Kapitalisme membuat platform (melalui algoritma mereka) lebih menitikberatkan pada perilaku pengguna, bukan pada keamanan, hanya untuk meraih profit dan menjadikan generasi sebagai target pasar. Masalah utama dalam dunia digital saat ini adalah ideologi yang mendasari, bukan teknologi itu sendiri. Dalam sistem Kapitalis, media digital lebih fokus pada keuntungan daripada mendidik masyarakat. Semakin lama pengguna tinggal di platform digital, semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, aplikasi dirancang supaya membuat pengguna ketagihan, algoritma diciptakan untuk memicu emosi negatif, dan konten merugikan dibiarkan agar keterlibatan tetap tinggi.


Generasi muda menjadi korban dari sistem yang hanya peduli pada keuntungan finansial, bukan kualitas hidup. Sementara itu, orang tua merasa bingung ingin melindungi anak, tetapi tidak mendapat dukungan dari kebijakan. Mereka ingin mengatur penggunaan gadget, tetapi lingkungan digital terlalu kuat untuk ditentang sendiri. Ini menunjukkan bahwa masalah generasi memerlukan sistem yang lebih berpihak pada manusia untuk diselesaikan.


 *Islam Solusi Algoritma Negatif Kapitalis-Sekuler* 


Berbeda halnya dengan Sistem Islam. Di dalam Islam, negara berfungsi sebagai raa'in (pengelola) dan junnah (pelindung) bagi masyarakat. Negara bertanggung jawab untuk menjaga dengan memastikan bahwa anak-anak memperoleh kehidupan dan lingkungan yang baik, serta melindungi mereka dari segala bentuk bahaya, kekerasan, dan ancaman. Mereka merupakan generasi penerus peradaban mulia Islam. Oleh karena itu, mereka perlu dibina, dilindungi, dan dapat hidup dengan sejahtera di bawah naungan negara Islam. 


Islam menekankan pentingnya menciptakan generasi unggul yang tidak hanya cerdas dalam teknologi, tetapi juga memiliki kekuatan mental, spiritual, dan karakter baik. Negara berfungsi sebagai pelindung warganya dan bertujuan menghasilkan pemimpin peradaban yang berkualitas. Dalam menghadapi pengaruh negatif media digital, sistem pemerintahan Islam mengambil langkah pencegahan. 


Disisi lain, sistem pendidikan Islam mengutamakan aqidah agar generasi baru berpikir jernih. Orang tua dianggap sebagai pendidik utama, bukan sekadar pengamat. Masyarakat diharapkan aktif mendorong kebaikan dan mencegah keburukan. Infrastruktur digital dalam Khilafah dirancang berdasarkan prinsip Islam untuk melindungi generasi dari konten merusak.


Selain tindakan pencegahan, negara sistem pemerintahan Islam juga mengambil langkah-langkah khusus. Isi konten digital diawasi dengan ketat, hanya yang sesuai dengan prinsip Islam yang diperbolehkan sirkulasinya. Platform yang menayangkan konten merugikan akan dikenakan sanksi. Tidak semua media sosial diizinkan beroperasi, hanya yang memberikan manfaat dan tidak merusak moral masyarakat yang akan diizinkan. Pembatasan usia diterapkan dengan sistematis, bukan hanya sekadar imbauan. Kecerdasan buatan juga diatur agar tidak memberikan dampak negatif terhadap pemikiran dan moral generasi mendatang.  


Islam mengharuskan negara untuk melindungi generasi dari kerusakan dalam berbagai aspek kehidupan sesuai prinsip Islam, misalnya pertama, pendidikan, tujuannya adalah menciptakan siswa dengan akhlak baik, iman, dan takwa. Kedua, media digunakan untuk menyampaikan informasi dan edukasi sesuai syariat Islam. Ketiga, negara akan menjatuhkan hukuman bagi pelanggar hukum sesuai aturan Islam. Oleh karenanya, hanya dengan sistem pemerintahan Islam, kita akan terhindar dari konten merusak, normalisasi maksiat, dan kriminalitas serta mendapat perlindungan hakiki. Wallahu ‘alam bishshowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update