Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Algoritma, Alat Kapitalisme Menjerat Generasi Muda

Friday, December 19, 2025 | Friday, December 19, 2025 WIB Last Updated 2025-12-19T04:09:04Z




Oleh Umi Lia


Member Akademi Menulis Kreatif


Ketua Program Studi Magister dan Doktor Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Parahyangan Bandung, Dr. Vera Intanie Dewi, dalam sebuah seminar menyampaikan bahwa hasil riset menemukan ada 58% gen z berutang ke pinjol. Untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup dan hiburan. Kemudian ada 54% milenial menggunakan pinjaman daring untuk membiayai kebutuhan rumah tangga. Hal ini mengonfirmasi bahwa mayoritas masyarakat masih belum sejahtera dan kurang literasi dalam masalah keuangan. (Kompas.com, 28/11/2025)


Sementara menurut penelitian di Universitas Pompeu Fabra, Barcelona Spanyol, terungkap bahwa kalangan muda dari golongan ekonomi lemah sering menerima iklan produk keuangan yang beresiko. Seperti investasi kripto, pinjol dan judol dibanding kalangan atas, hampir dua kali lipat banyaknya. Dari sini terungkap fakta bahwa algoritma medsos bisa membaca status sosial akun penggunanya. Dari jejak digital seseorang akan terlacak alamat, perilakunya saat daring, sehingga iklan akan tampil sesuai kerentanannya. Maka tidak heran, anak dari keluarga kurang mampu sering jadi sasaran promosi pinjaman daring.


Kondisi tersebut diperkuat dengan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat adanya lonjakan angka kredit macet dari para peminjam yang berusia di bawah 19 tahun. Menurut anggota Dewan Komisioner OJK, Agusman, hal itu disebabkan rendahnya literasi dan kesadaran pengelolaan keuangan dari kalangan remaja. Karena itu dikeluarkan aturan tambahan bahwa usia penerima pinjaman minimal 18 tahun dengan penghasilan tiga juta per bulan.


Tekanan ekonomi akibat melonjaknya harga-harga kebutuhan adalah konsekuensi logis dari penerapan sistem kapitalisme liberal yang diterapkan negara ini. Hal itu diperparah dengan adanya algoritma platform (prosedur sistematis) medsos yang semakin menjerat masyarakat kelas bawah. Terutama menyasar anak muda yang sedang membangun kemandirian. Satu sisi nilai-nilai agama dijauhkan dari kehidupan bernegara maupun bermasyarakat sehingga rakyat pada umumnya tidak mempertimbangkan halal haram ketika mengambil keputusan. Kebahagiaan diukur dengan materi dan ketika kesulitan hidup mendera, keputusan yang diambil beresiko tinggi. Pinjol, judol dan investasi kripto hadir untuk menjerat mereka. 


Di sisi lain negara tidak mampu membentengi generasi mudanya dari akibat buruk kemajuan teknologi informasi ini. Aturan OJK yang mensyaratkan penerima pinjol itu harus berusia minimal 18 tahun dengan penghasilan tiga juta per bulan sering tidak diperhatikan di lapangan. Sekali klik aplikasi pinjol beberapa jam kemudian dana segar tersedia untuk dimanfaatkan. Ditambah lagi sebagian masyarakat tidak mempedulikan bahwa kemudahan yang didapat itu tidak sebanding dengan resikonya. Bunganya yang tinggi dan selalu dikejar-kejar debt collector jika telat membayarnya atau menunggak. Makanya tidak heran jika ada yang bunuh diri karena pinjaman daring ini.


Dunia maya sekarang dikuasai negara kapitalisme global. Indonesia atau negara mana pun yang mengikutinya tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi rakyatnya dari pengaruh medsos. Apalagi jika tidak serius melindungi akibat masih mempertimbangkan untung rugi. Yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi dampak negatifnya, bukan menghentikan bahayanya. Sebanyak apa pun konten yang berbahaya diblokir, platform digital yang dimiliki mereka dengan algoritmanya akan memproduksi kembali untuk mengontrol perilaku manusia jadi makin sekuler dan liberal. Cara pandang kapitalis hanya berfokus pada keuntungan materi dan menjadikan generasi sebagai pasar produknya. Mereka tidak peduli pada keselamatan pengguna medsos. Meskipun sudah banyak yang menuntut karena sudah ada korban, mereka hanya berargumen sudah berupaya membuat pengalaman online menjadi lebih aman bagi remaja dengan fitur-fitur yang diciptakannya.


Sistem kapitalisme dengan segala keburukannya hanya bisa dilawan oleh sistem Islam yang turun dari Yang Maha Baik. Konten berbahaya seperti kekerasan ekstrem, pornografi, judol, pinjol dan game online hanya bisa dihapus oleh Khilafah. Karena keberadaannya sangat kuat dan mampu berinvestasi untuk membangun teknologi tinggi demi kebaikan umat. Pada praktiknya nanti negara ini akan mengawasi dengan ketat alur algoritma sehingga yang tampil di medsos sesuai syar'i. Ruang digital akan dimanfaatkan sebagai sarana dakwah menyebarkan Islam ke seluruh dunia dan melaksanakan amar makruf nahi mungkar. Allah Swt. berfirman dalam QS Ash-Shaf ayat sembilan:

"Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya."


Selain itu, Khilafah akan mendidik rakyatnya dengan pendidikan yang berbasis akidah Islam. Kurikulum yang diterapkan dirancang agar bisa membentuk generasi muda yang bersyakhsiyah Islam. Yaitu pola pikir dan pola sikapnya sesuai apa yang dicontohkan Rasul saw, sehingga mereka bisa melanjutkan estafet peradaban sahih ini dan  mampu menyebarkannya ke seluruh dunia. Dengan dukungan masyarakat yang gemar beramar makruf nahi mungkar, maka media online tidak akan menjerumuskan remaja pada sikap materialistis, hedonis dan individualis. Keterlibatan mereka di ruang digital tidak akan melalaikan selama dikendalikan oleh prioritas amal yang senantiasa dikaitkan dengan hukum syara'.


Sementara itu pinjol dan judol otomatis tidak ada karena penerapan sistem ekonomi Islam mengharamkan riba dan judi. Rakyat akan merasa sejahtera karena kebutuhan dasarnya sudah dijamin negara. Pendidikan dan kesehatan gratis, para kepala keluarga mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan primernya masing-masing. Pemahaman bahwa hidup hanya untuk ibadah merata di tengah umat tak terkecuali di kalangan generasi muda. Mereka akan bangga menjadi muslim dan itulah cara dakwah yang efektif buat mereka yang non muslim. Untuk itu, umat harus berjuang bahu-membahu lewat dakwah yang masif dan terorganisir. Sinergitas antara gen z dan gen alpha dengan generasi yang lebih senior diperlukan. Para remaja harus merasa senang dengan identitas muslimnya. Selalu mengajak sesamanya untuk mengkaji Islam kafah dan memupuk keyakinan bahwa agama inilah yang akan dimenangkan Allah Swt.

Wallahu a'lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update