Oleh Afila
Entrepreneur Muslimah
Definisi krisis sunyi adalah fenomena di mana individu merasa kesepian dan terisolasi, meskipun mereka aktif di media sosial. Fenomena krisis sunyi ini lahir dari sistem sekuler kapitalis yang menilai manusia berdasarkan pencapaian materi dan penilaian sosial, di mana kebahagiaan diukur dengan seberapa banyaknya pengikutnya di sosial media. Semua sepakat, bahwa di era digital saat ini, penggunaan internet dan media sosial tidak dapat dihindari.
Islam membolehkan pemanfaatan teknologi untuk kebaikan. Oleh karena itu, penggunaannya tentu kita harus berusaha untuk bijak, yakni digunakan untuk aktivitas yang membangkitkan pemikiran umat, bukan malah tenggelam dalam konten dangkal yang tidak berfaedah.
Berikut beberapa penyebab tentang krisis sunyi pada Gen Z, diantaranya yaitu tuntutan pencapaian diri yang tinggi, minimnya komunikasi dengan keluarga juga masyarakat, ketergantungan pada sosial media untuk pengakuan, dan yang terakhir hilangnya hubungan yang mendalam dengan penciptanya Allah SWT.
Fenomena ini dipicu oleh tekanan ekonomi, tuntutan media sosial (FOMO), dan ketidaksesuaian antara harapan dengan realitas dunia kerja. Dari penyebab di atas, maka berdampak pada meningkatnya kasus depresi, kesepian, kecemasan, moral dan rendahnya kesadaran spiritual.
Untuk itu diperlukan solusi yaitu penggunakan media sosial secara bijak dan seimbang, mengembangkan aktivitas yang produktif dan bermanfaat, meningkatkan komunikasi dan empati dalam keluarga dan masyarakat serta membangun hubungan spiritual yang kuat dengan Allah SWT.
Krisis sunyi pada Gen Z merupakan masalah kompleks yang memerlukan pendekatan holistik, termasuk pengembangan spiritual, sosial, dan emosional. Banyak anak muda Gen Z masa kini hidup di tengah dunia yang makin bising secara digital, tapi justru sunyi secara emosional. Mereka aktif di media sosial, tampak ceria di layar, ternyata merasa kesepian dalam kehidupan nyata.
Dalam pandangan Islam, Islam menawarkan solusi untuk mengatasi krisis sunyi dengan meningkatkan kesadaran spiritual dan intelektual, menghidupkan komunikasi dan kepedulian dalam keluarga dan masyarakat, membangun pendidikan berbasis iman dan akhlak dan meneguhkan orientasi hidup pada ridha Allah SWT.
Dalam Islam, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah SWT.
Firman Allah :
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, teman, Ibnu Sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri". (QS : An Nisa 36)
Di samping itu, juga diarahkan dengan melihat contoh beberapa teladan yang bisa diambil oleh masyarakat khususnya generasi muda para sahabat Nabi Muhammad saw. yang dibina dengan aturan Islam, diantaranya seperti, memiliki sifat malu dalam arti sifat malu kepada pencipta-Nya akan membiasakan pada kesantunan budi pekerti, kematangan pribadi dan kedewasaan berpikir, melayani masyarakat menjadi bagian yang diajarkan syariat, bermurah hati dan dermawan.
Seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amrura, ia berkata, "Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., Islam yang baik itu yang bagaimana? Rasulullah saw. menjawab, memberi makan dan mengucap salam kepada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal." (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam masyarakat Islam, negara memiliki peran penting dalam mengatur pemanfaatan media digital sesuai syariat Islam.
Islam mengajarkan kepada kita untuk bersosialisasi dan berinteraksi di tengah masyarakat dengan adab dan akhlak syariat, seperti tolong menolong, memperbanyak silaturahmi, saling menghormati dan bergaul sesuai batasan yang di benarkan oleh Allah SWT.
Diantara upaya dan tanggung jawab yang harus dilakukan negara adalah mendorong para cendekiawan muslim menciptakan teknologi dan platform media sosial yang edukatif dan bermanfaat, mengarahkan media digital sebagai sarana dakwah amar makruf nahi mungkar dan penyebaran ilmu dan mempermudah akses komunikasi publik antara negara dan rakyat untuk mencegah kesalahpahaman, menjadikan media sosial sebagai sarana aspirasi dan kritik yang konstruktif bagi masyarakat terhadap pemimpin.

No comments:
Post a Comment