Oleh: Kursiyah Azis ( Aktivis Muslimah)
Fenomena meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pelajar bukan lagi sekadar deretan berita tragis yang lewat di linimasa. Ia telah berubah menjadi alarm keras tentang betapa rapuhnya fondasi pendidikan yang selama ini diagungkan sebagai “jalan menuju masa depan”. Ketika anak-anak sekolah yang seharusnya berada dalam fase paling penuh harapan, energi, dan mimpi malah memilih mengakhiri hidup, pertanyaannya bukan lagi mengapa mereka melakukan itu, tetapi apa yang salah dengan sistem yang membentuk dunia mereka.
Melansir dari KOMPAS.co, (31/10/2025) Dalam sepekan terakhir, beberapa anak ditemukan meninggal diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Fenomena ini menjadi alarm serius bagi semua pihak, terutama orangtua, sekolah, dan masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis anak.
Beberapa peristiwa terjadi di Kampung Cihaur, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Rabu (22/10/2025) sore. Warga digegerkan meninggalnya anak laki-laki berusia 10 tahun berinisial MAA. Dia siswa kelas V salah satu SD negeri di wilayah tersebut. Sedangkan yang lainnya ditemukan tergantung diruang OSIS pada Senin malam tgl 6/10/2025, menyusul seorang siswa yang tergantung juga di ruang kelas pada hari Selasa tgl 28/11/2025.
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya fakta serupa kembali menampar wajah pendidikan modern yang di gagas oleh sistem pendidikan sekuler. Sistem ini telah berulangkali menunjukkan kegagalannya dalam memberikan makna hidup, arah, dan ketangguhan batin bagi generasi muda, terutama dikalangan para pelajar. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal diantaranya; Pertama. Beban Akademik Tinggi, sementara Makna Hidup Rendah.
Sekolah hari ini diposisikan sebagai pabrik output, bukan tempat tumbuh manusia. Anak-anak dijejali target yang di luar nalar. Baik berupa nilai, ranking, dan persaingan yang di mulai bahkan sejak usia sangat dini. Mereka dipaksa untuk sempurna dalam hal-hal yang bahkan tidak menentukan kebahagiaan sejati.
Sementara itu, kebutuhan dasar manusia seperti rasa diterima, dimengerti, memiliki tujuan, terhubung dengan Pencipta seringkali diabaikan. Pendidikan sekuler membangun narasi bahwa hidup hanyalah tentang prestasi, karier, dan kesuksesan material. Akibatnya, ketika pelajar gagal memenuhi standar itu, mereka merasa hidupnya tidak berharga. Kehidupannya di penuhi dengan ruang hampa.
Kedua. Sekulerisme memproduksi Generasi Pandai Tetapi Hampa.
Sistem sekulerisme sejak awal telah mencabut dimensi spiritual dari proses pendidikan. Anak sekolah di didik menjadi “instrumen ekonomi”, bukan pribadi berjiwa yang harus dituntun pada tujuan hidup yang benar.
Di dalam sistem ini, pelajaran moral tidak berbasis akidah, hanya berbasis kesepakatan. Makna hidup tidak pernah dijelaskan sebagai penghambaan kepada Allah, tetapi sebagai pencapaian duniawi. Ketenangan batin tidak diberi ruang sedikitpun karena dianggap bukan bagian dari kurikulum pendidikan.
Kondisi ini akhirnya membuat identitas manusia dipersempit menjadi nilai rapor dan kemampuan bersaing semata. Pada akhirnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teknologi tetapi kosong secara ruhani. Mereka mudah putus asa ketika hidup tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Olehnya itu maka ketika pelajar tidak tahu untuk apa ia hidup, untuk siapa ia berjuang, dan ke mana ia kembali, maka tekanan sekecil apa pun dapat menjadi pukulan mematikan. Sehingga bunuh diri pun menjadi pilihan pokok dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Ketiga. Lingkungan Sekolah yang Tidak Ramah Jiwa
Ironi terbesar dari pendidikan sekuler adalah ia gagal menjadi tempat aman bagi mental anak. Maraknya bullying dibiarkan merajalela tanpa solusi, sementara guru dibebani administrasi hingga kehilangan kedekatan emosional dengan murid. Ditambah pula sekolah asyik dengan kesibukannya mengejar akreditasi, bukan menumbuhkan jiwa manusia.
Perlu diketahui bahwa banyaknya kasus bunuh diri pelajar sesungguhnya terdapat benang merah yang jelas, yakni anak merasa sendirian meski berada di ruang kelas penuh manusia. Tampak aneh, namun itulah kenyataannya.
Karena sistem pendidikan sekuler kerapkali mengabaikan kenyataan bahwa pelajar tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga bimbingan moral, kasih sayang, dan jati diri yang kokoh.
Ke empat. Keluarga Terkepung Sistem
Krisis ini tidak hanya terjadi di sekolah. Keluarga pun dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem sekuler yang kompetitif. Orang tua menekan anak untuk berprestasi demi masa depan ekonomi, bukan demi kebahagiaan. Waktu bersama anak-anak semakin berkurang, komunikasi melemah, dan anak kehilangan figur tempat mencurahkan perasaan.
Kondisi demikian tentu membuat anak-anak kehilangan semangat hidup. Apalagi Ketika sekolah menuntut, rumah menekan, dan masyarakat membandingkan, anak akhirnya tidak memiliki tempat untuk bernapas, sehingga bayang-bayang mengakhiri hidup semakin kuat di benak mereka. Karena bagi sebagian mereka, mengakhiri hidup tampak sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebuah ilusi tragis yang lahir dari dunia yang tidak lagi mengenalkan Tuhan sebagai penolong.
*Islam: Pendidikan yang Menghidupkan, Bukan Menghancurkan*
Berbeda dengan sekulerisme, Islam membangun pendidikan dari asas akidah. Anak dipahami sebagai amanah Allah yang memiliki fitrah mulia. Pendidikan Islam menanamkan hal-hal mendasar seperti memaknai hidup yang jelas yakni penghambaan kepada Allah SWT, selain itu anak-anak juga di latih agar memiliki ketangguhan mental, agar mereka sabar, bersyukur dan tawakal di setiap kondisi.
Pendidikan Islam selalu mengedepankan orientasi akhirat dalam setiap programnya sehingga kegagalan duniawi tidak mematikan harapan anak-anak. Dalam sistem pendidikannya pun ikatan sosial antara guru dan murid senantiasa kuat. Guru sebagai murabbi, bukan instruktur,
Sehingga dengan demikian maka terciptanya suatu lingkungan yang penuh kasih dan tarbiyah otomatis akan membentuk pribadi tenang dan percaya diri.
Sejarah mencatat, generasi yang dibentuk oleh sistem Islam dari para sahabat hingga ulama besar. Mereka semua tumbuh dengan mental kuat, pandangan hidup kokoh, dan ketajaman intelektual yang luar biasa.Mereka tidak hanya pandai, tetapi juga berjiwa besar.
*Saatnya Mengakui Kegagalan Sistem Sekuler*
Tragedi pelajar yang mengakhiri hidup bukan sekadar “kasus per kasus”. Ia adalah gejala systemic failure, yakni kegagalan ideologi sekuler yang memisahkan pendidikan dari Tuhan, mengabaikan fitrah anak, dan menanamkan tujuan hidup yang dangkal.
Sampai kapanpun tidak ada reformasi kurikulum yang mampu mengatasi krisis ini jika fondasinya tetap sekuler.
Dengan milihat kondisi hari ini, generasi kita sesungguhnya membutuhkan solusi untuk mengakhiri kerusakan di lingkungan pendidikan,dan yang dibutuhkan adalah paradigma baru atau lebih tepatnya, kembali kepada paradigma yang benar.
Sudah saatnya kita kembali menanamkan pendidikan yang membimbing akal, menenangkan jiwa, dan menghubungkan manusia kepada Pencipta.
Sebab hanya dengan pendidikan yang berbasis akidah Islam, generasi dapat tumbuh kuat, penuh makna, dan tidak mudah hancur oleh tekanan hidup, apalagi sampai terbesit pikiran untuk mengakhiri hidupnya.
Dengan demikian maka, solusi hakiki atas seluruh persoalan yang di timbulkan oleh sistem sekuler hari ini adalah dengan menyadari sekaligus mengakui kegagalannya dalam menjaga fitrah generasi, lalu membuang sistem tersebut untuk di gantikan dengan sistem Islam yang terbukti mampu menjaga nyawa setiap manusia khususnya anak-anak sebagai generasi penerus. Wallahu alam.

No comments:
Post a Comment