Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sudan Membara, Kepentingan Barat dan Tragedi Panjang Negeri Muslim

Tuesday, November 18, 2025 | Tuesday, November 18, 2025 WIB Last Updated 2025-11-18T05:21:00Z


Oleh: Ummu Syifa (Pemerhati umat) 


Sudan kembali membara. Asap hitam membumbung di langit negeri Afrika yang mayoritas penduduknya Muslim itu. Di jalan-jalan kota El-Fasher dan Khartoum, ribuan orang berlarian menyelamatkan diri. Suara tembakan, jeritan, dan ratapan menjadi pemandangan sehari-hari. Pembunuhan massal, pemerkosaan, hingga serangan terhadap rumah sakit dan masjid terjadi di depan mata dunia yang seakan bungkam (Republika.id, 30/10/2025). Dalam empat hari saja, lebih dari enam puluh ribu warga terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah dan tanah kelahirannya yang kini berubah menjadi ladang maut (Minanews.net, 2/11/2025).


Tragedi ini bukan sekadar kisah konflik etnis sebagaimana sering diberitakan media arus utama. Di balik kepulan asap dan tumpahan darah itu, tersimpan percaturan besar kekuatan dunia. Sudan, negeri ketiga terbesar di Afrika, menyimpan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa: produsen emas terbesar di dunia Arab, tanah subur di sepanjang Sungai Nil yang bahkan lebih panjang dari Mesir, serta potensi minyak dan mineral yang membuat mata kekuatan global terbelalak. Namun ironisnya, negeri yang kaya raya itu justru dilanda krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai.


Jika ditelusuri lebih detil, konflik Sudan tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan tangan-tangan asing. Amerika Serikat dan Inggris disebut-sebut memainkan peran besar, dengan melibatkan negara-negara boneka di kawasan seperti Uni Emirat Arab dan Israel. Semua demi satu tujuan: mempertahankan pengaruh politik dan mengamankan akses terhadap sumber daya alam Sudan yang melimpah. Dalam berbagai laporan, Sudan menjadi bagian dari proyek “Timur Tengah Baru” yang dirancang Barat untuk menata ulang peta kekuatan politik dan ekonomi di wilayah Muslim sesuai kepentingan mereka. Sementara itu, lembaga-lembaga internasional yang digadang-gadang membawa perdamaian justru sering kali berperan sebagai alat legitimasi hegemoni. 


Peristiwa ini mengindikasikan masalah besar yang menimpa umat Islam saat ini. Negeri-negeri yang seharusnya menjadi pelindung malah terpecah-belah, rapuh, dan mudah diatur oleh kekuatan luar. Padahal, mereka memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan sumber daya manusia melimpah. Namun karena sistem yang diterapkan adalah sistem sekuler warisan kolonial, seluruh potensi itu hanya menjadi komoditas untuk kepentingan asing. 


Sudan hanyalah satu dari sekian luka dalam dunia Islam: dari Palestina hingga Suriah, dari Irak hingga Yaman, semua menunjukkan pola yang sama. Ini bukan semata konflik politik, tetapi bagian dari perang peradaban antara ideologi Islam yang membawa keadilan dan sistem sekuler-kapitalis yang menebar kerakusan. Selama umat masih memandang persoalan ini secara parsial dan tidak berani kembali pada solusi ideologisnya, maka tragedi seperti di Sudan akan terus berulang. 


Sudah saatnya umat Islam menaikkan cara berpikirnya. Tidak cukup hanya bersedih dan mengutuk, tetapi harus mampu membaca akar persoalan dengan kacamata ideologis. Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga sistem kehidupan yang sempurna untuk mengatur politik, ekonomi, dan pemerintahan. Hanya dengan sistem Islam kaffah — sebagaimana ditegakkan dalam sejarah panjang Khilafah Islamiyah — keadilan dan kedaulatan dapat benar-benar terwujud. 


Dalam Islam, kekuasaan bukanlah alat untuk menindas, melainkan amanah untuk menegakkan kemaslahatan. Allah berfirman: 


“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi khalifah.” (QS. Al-Baqarah: 30) 


Ayat ini menunjukkan bahwa manusia, khususnya umat Islam, ditugasi sebagai khalifah di bumi — pengelola, penjaga, dan pelindung kehidupan. Tanggung jawab itu menuntut penerapan syariat secara menyeluruh, bukan parsial atau semaunya saja. Rasulullah ﷺ pun bersabda bahwa siapa pun yang mati tanpa baiat (kepemimpinan Islam) di pundaknya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah. Ini menegaskan betapa pentingnya institusi kepemimpinan dalam Islam, bukan sekadar simbol, melainkan sistem yang menegakkan hukum Allah di muka bumi. 


Khilafah bukan sekadar cita-cita romantis masa lalu, tetapi kebutuhan mendesak umat hari ini. Di bawah pemimpin yang satu, negeri-negeri Muslim dapat bersatu, saling menguatkan, dan memutus ketergantungan terhadap Barat. Dengan itu, kekayaan seperti emas Sudan tidak lagi dirampas korporasi asing, tetapi dikelola untuk kesejahteraan umat. Sistem ekonomi Islam akan memastikan distribusi kekayaan secara adil, melarang eksploitasi, dan menjadikan sumber daya alam sebagai milik umum yang tidak boleh dikuasai segelintir pihak. 


Sudan membara, dan dunia Islam menangis. Tetapi dari bara inilah seharusnya lahir kesadaran baru: bahwa penderitaan tidak akan berhenti kecuali umat mengambil kembali kendali atas nasibnya. Hanya dengan Islam yang kaffah dengan sistem dan kepemimpinan yang berpihak pada umat dunia akan kembali damai, adil, dan penuh rahmat.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update