Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Solusi Islam dalam Mitigasi Bencana Alam

Thursday, November 13, 2025 | Thursday, November 13, 2025 WIB Last Updated 2025-11-13T00:47:39Z




Oleh: Nok Sri Rahayu

Ibu Rumah tangga 


Hujan deras yang melanda wilayah Kabupaten Bandung beberapa waktu terakhir menyebabkan banjir, longsor, dan pohon tumbang di sejumlah titik. Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini tengah mempertimbangkan penetapan status tanggap darurat bencana.(Pikiran Rakyat 4/11/2025)


Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Beni Sonjaya, mengatakan proses administrasi penetapan status siaga bencana sedang berjalan.

“Sudah ada rapat yang membahas status siaga. Surat keputusannya masih berproses. Melihat kondisi saat ini, memang sudah mengarah ke tanggap darurat. Namun, tahap awal tetap siaga,” ujarnya, Selasa (4/11/2025).


Bencana Sebagai Ujian dan Peringatan


Dalam pandangan Islam, bencana alam bukan sekadar peristiwa alamiah, melainkan ujian dan peringatan dari Allah SWT. Umat Islam diajak untuk menghadapi bencana dengan sabar, tawakal, introspeksi diri, dan berikhtiar, sembari memperbanyak doa dan istigfar.


Bencana juga menjadi pengingat agar manusia menjaga keseimbangan alam, karena manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi. Islam memandang bencana sebagai bagian dari sunnatullah, yakni hukum alam yang ditetapkan Allah, yang dapat menjadi ujian keimanan, peringatan, sekaligus sarana untuk bertaubat.


Oleh karena itu, penanganan bencana memerlukan sinergi antara masyarakat dan pemerintah agar langkah mitigasi berjalan berkesinambungan dan efektif.


Kritik terhadap Sistem Kapitalisme


Sayangnya, dalam sistem kapitalistik yang kini diterapkan, negara sering hanya berperan sebagai fasilitator dan regulator, bukan pelindung utama rakyat. Banyak kebijakan diarahkan demi keuntungan ekonomi, bukan kesejahteraan masyarakat.


Akibatnya, respons pemerintah terhadap bencana sering lamban dan bersifat reaktif. Bantuan diberikan sebatas bentuk praktis—uang, sembako, pakaian, atau tenda pengungsian—tanpa diiringi evaluasi dan solusi jangka panjang.


Setelah masyarakat kembali ke rumah masing-masing, persoalan dianggap selesai. Padahal, penanggulangan bencana tidak berhenti pada penanganan darurat saja, melainkan harus menyentuh akar penyebab dan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak berulang.


Langkah Nyata dalam Mitigasi Bencana


Islam menekankan pentingnya ikhtiar atau usaha nyata dalam menghadapi bencana. Bentuknya antara lain:


Pencegahan dan Mitigasi: membangun infrastruktur yang kuat, melakukan penghijauan, serta menghindari pembangunan di kawasan rawan bencana.


Solidaritas Sosial (Ta’awun): saling membantu sesama korban bencana, baik dengan tenaga, harta, maupun dukungan moral. Ini merupakan bagian dari kewajiban setiap muslim.


Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan: menggunakan teknologi modern dan kearifan lokal untuk memperkuat sistem antisipasi dan tanggap bencana.



Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa mitigasi bencana adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat.


Solusi dalam Sistem Khilafah


Berbeda dengan sistem kapitalistik, sistem pemerintahan Islam (Khilafah) menempatkan kepentingan umum di atas segalanya. Negara memegang tanggung jawab penuh atas pengelolaan dan mitigasi bencana, yang pembiayaannya diambil dari Baitulmal (kas negara).


Dalam sistem ini, pemerintah berkewajiban:


1. Mitigasi dan Pencegahan: mengidentifikasi risiko, membangun infrastruktur tahan bencana, menegakkan aturan lingkungan, serta memberikan edukasi kesiapsiagaan kepada masyarakat.



2. Respons Darurat: menjamin keamanan warga, mengkoordinasikan evakuasi dan penyelamatan korban, serta menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan layanan medis.



3. Rehabilitasi dan Rekonstruksi: memastikan hak-hak korban terpenuhi, memperbaiki infrastruktur, memulihkan ekonomi, dan mencegah masyarakat terbebani pascabencana melalui dana darurat negara.




Dengan mekanisme seperti ini, sistem Islam mampu menghadirkan perlindungan dan keadilan bagi seluruh rakyat, bukan hanya solusi sesaat.


Penutup


Islam menawarkan pendekatan yang seimbang antara kepasrahan spiritual kepada takdir Allah dan tindakan nyata (ikhtiar) dalam menghadapi bencana. Pemerintah berperan sebagai pemimpin utama dalam menggerakkan solidaritas dan penanggulangan bencana secara kolektif.


Namun, semua ini hanya akan terwujud jika syariat Islam ditegakkan secara kaffah, dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyyah yang menempatkan kesejahteraan umat sebagai prioritas utama.


Wallahu a‘lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update