Oleh: Fitri Suryani, S.Pd
(Freelance Writer)
Masalah bullying seolah tak pernah sepi dari pemberitaan. Sebagaimana belum lama ini asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, terbakar. Polisi mengungkapkan bahwa ternyata pembakarnya adalah seorang santri yang masih di bawah umur. Dari pengakuan pelaku, ia membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya (Kumparan, 07-11-2025).
Tak kalah miris pelaku ledakan yang merupakan korban perundungan atau bullying yang merupakan siswa SMA 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Insiden itu terjadi pada jumat (7/11) yang memakan korban mencapai 96 orang (Cnnindonesia, 13-11-2025).
Kasus di atas jelas sangat menyesakkan dada. Apalagi masalah bullying pun telah mengejala di berbagai daerah. Kasus tersebut tentu bukan tanpa sebab, seperti pengaruh media sosial yang memperparah pelaku aksi bullying. Mirisnya lagi tak sedikit masalah bullying dijadikan candaan. Hal ini menunjukkan telah terjadi krisis adab.
Ya, media sosial tak jarang menjadi rujukan korban bullying untuk melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain sebagai pelampiasan kemarahan atau dendam. Apalagi jika kasus tersebut tak mendapat penanganan yang tepat, sehingga makin memperparah korban bullying untuk melakukan balas dendam.
Tak dipungkiri tugas orang tua hari ini makin berat, karena mereka harus lebih ekstra dalam memberikan edukasi kepada anak-anaknya di tengah gempuran media sosial dan lingkungan pertemanan yang mampu merusak perilaku anak.
Belum lagi, jika masih minimnya kontrol masyarakat. Bagaimana tidak, lingkungan masyarakat merupakan faktor pendukung di mana anak memperoleh pendidikan yang telah ia dapatkan dari rumah. Dari itu, peran masyarakat begitu penting dalam upaya menumbuhkan budaya amar makruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat demi menjaga generasi agar tak salah dalam bertindak.
Selain itu, adanya peran negara. Negera tentu telah berupaya meminimalisasi masalah bullying, tetapi di sisi lain masih banyak celah yang dapat memicu perbuatan tersebut. Tengok saja, begitu banyak media yang menampilkan tontonan berbau kekerasan, minim nilai edukasi bahkan merusak moral generasi, baik itu berupa film dan game. Karena tak dipungkiri apa yang dilihat atau ditonton dan didengar oleh anak seringkali dijadikan tuntunan.
Pun pendidikan yang didapat anak turut andil dalam mencetak generasi muda. Baik pendidikan dari rumah hingga sekolah. Karena itu seyogianya pendidikan mampu mencetak generasi yang berkarakter yang mampu menjadikan pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan tuntunan ilahi. Sehingga anak tak hanya cerdas secara akademik, namun juga memiliki budi pekerti yang luhur.
Dari itu, seyogianya semua elemen bersinergi dalam bahu-membahu meminimalisasi bahkan menuntaskan masalah bullying. Hal itu pun sebagaimana dalam islam yang menempatkan peran orang tua sebagai pendidik yang utama dan pertama di dalam lingkungan keluarga. Orang tua pun tidak hanya cukup mengajarkan pemahaman terkait norma agama, tetapi lebih dari itu memberikan contoh yang baik. Karena orang tua merupakan teladan terdekat bagi anak-anaknya.
Di samping itu, islam juga memerintahkan kepada manusia untuk saling nasihat-menasihati dalam kebeneran. Karena manusia bukan nabi, apalagi malaikat yang tak lepas dari dosa, terlebih anak-anak yang masih butuh banyak arahan dan bimbingan dari orang dewasa. Dari itu, pentingnya budaya amar makruf nahi mungkar di tengah lingkungan masyarakat.
Tak kalah penting peran negara. Negara memegang peran yang tak kalah penting dari peran lingkungan keluarga dan masyarakat, sebab negara memiliki kekuatan hukum dalam membuat dan menerapkan aturan. Dari itu dalam Islam di antara upaya mengondisikan masyarakat tak terkecuali anak-anak agar senantiasa dalam ketaatan yakni, negara akan meniadakan tayangan yang berbau kekerasan, minim nilai edukasi, apalagi yang merusak moral generasi, terlebih situs-situs yang jelas bertentangan dengan norma agama.
Dengan demikian, kondisi saat ini sulit menciptakan anak yang memiliki akhlak yang luhur, jika masih banyak celah yang memicu timbulnya kerusakan akhlak. Karena itu, keluarga, masyarakat, dan negara sudah semestinya bersinergi dalam mengondisikan dan mencetak generasi penerus bangsa yang tak hanya cerdas secara akademik, tapi juga berbudi pekerti luhur. Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment