Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perceraian Marak: Keluarga Runtuh, Generasi Rapuh!

Tuesday, November 18, 2025 | Tuesday, November 18, 2025 WIB Last Updated 2025-11-18T12:13:10Z

Oleh. Afida Silmi S.Pd

Akhir-akhir ini berita mengenai perceraian  semakin sering mampir di telinga kita. Dari artis hingga orang biasa, dari kota besar hingga pelosok daerah, angka perceraian terus naik. Sementara itu, jumlah orang yang menikah justru makin menurun (https://www.cnbcindonesia.com/, 30/10/2025).

Menurut data Pengadilan Agama Bojonegoro menyebutkan bahwa Angka Perceraian di Bojonegoro Masih Tinggi, sekitar 2.240 Perkara Diputus dalam 10 Bulan. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa masyarakat sedang krisis. Bukan cuma krisis ekonomi, tapi juga krisis pemahaman tentang makna keluarga dan tanggung jawab dalam pernikahan (https://www.pa-bojonegoro.go.id/, 4/11/2025).

Perceraian dalam rumah tangga bukan datang secara tiba-tiba, tetapi banyak faktor yang ada di baliknya, mulai dari pertengkaran, masalah ekonomi, KDRT, perselingkuhan, hingga jeratan judi online. Semua bisa menjadi bara kecil yang lama-lama membesar jika tidak segera diselesaikan. Yang lebih miris, tren ini tidak hanya terjadi di pasangan muda, tetapi juga di usia senja. Mereka yang dulu kita pikir sudah saling mengerti, ternyata juga bisa goyah dan menyerah dengan alasan “sudah tidak sejalan lagi.” Tapi di balik kalimat itu, ada kelelahan batin yang menumpuk bertahun-tahun.

Dari semua kasus perceraian ini menunjukkan satu hal yaitu banyak Masyarakat baik usia muda ataupun hamper senja belum benar-benar paham arti pernikahan. Kita belajar bertahun-tahun soal ilmu dunia, tapi tidak pernah sungguh-sungguh belajar bagaimana menjaga hubungan dua jiwa agar tetap utuh. Padahal pernikahan itu bukan sekadar tinggal serumah, tapi perjalanan dua manusia yang belajar tumbuh bareng dalam suka dan duka.

Jika ditarik lebih dalam, akar masalahnya tidak hanya di individu, tapi juga di sistem yang membentuk cara hidup. Sistem sekuler kapitalis membuat banyak orang melihat hidup dan pernikahan dari sisi untung-rugi. Cinta menjadi transaksi, bukan pengabdian. Komitmen bisa dinegosiasi, dan kebahagiaan diukur dari seberapa banyak materi yang kita punya. Pendidikan pun sering lupa membentuk karakter dan keimanan. Padahal, tanpa fondasi nilai yang kuat, keluarga mana pun bisa goyah.

Di sinilah Islam sebenarnya sudah memberi jalan. Dalam sistem pendidikan Islam, anak dibina menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan bertanggung jawab. Tidak hanya pintar, tapi juga berkarakter. Dalam pergaulan, Islam menjaga iffah dan izzah Perempuan, agar hubungan antara laki-laki dan perempuan tetap terhormat dan penuh adab. Sementara dalam ekonomi, Islam menjamin kesejahteraan keluarga dengan sistem yang adil, bukan yang menekan dan membuat stres.

Jika sistem ini dijalankan, keluarga akan lebih kokoh, hubungan lebih hangat, dan generasi tumbuh dalam suasana yang sehat lahir batin. Karena dalam Islam, keluarga bukan sekadar “rumah tangga”, tapi juga madrasah pertama tempat cinta dan iman bertumbuh.

Perceraian memang kadang jadi jalan terakhir, tapi sebelum sampai ke sana, yuk kita sama-sama belajar lagi tentang makna pernikahan. Bukan hanya tentang cinta, tapi tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan kesabaran. Karena kalau keluarga kuat, bangsa juga akan kuat. Tapi jika keluarga rapuh, jangan heran kalau generasi berikutnya ikut kehilangan arah.

Wallahua’lam Bishhowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update