Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemuda Sebagai Agen Perubahan, Mungkinkah Terwujud dalam Kapitalisme?

Thursday, November 13, 2025 | Thursday, November 13, 2025 WIB Last Updated 2025-11-13T07:38:12Z
Narti Hs
Pegiat Literasi

Pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, Ketua Karang Taruna Kabupaten Bandung, Ruli Yuliana menghimbau kepada generasi muda agar tidak hanya menjadi bagian dari jumlah besar populasi, namun harus tampil sebagai motor penggerak kemajuan di berbagai bidang. Dan peringatan ini hendaknya menjadi refleksi bagi pemuda untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah. Menurutnya kaum muda harus mampu memberikan kontribusi yang maksimal, berperan aktif sesuai bidang yang dikuasainya, baik olah raga, politik, maupun wirausaha. 

Sebagai upaya nyata, Karang Taruna Kabupaten Bandung telah melaksanakan program Bina Wilayah kepada setiap kecamatan. Kegiatan ini bertujuan guna memperkuat peran Karang Taruna pada tingkat desa dan kecamatan sebagai mitra strategis pemerintah. Ruli juga meminta agar Karang Taruna tidak hanya mendukung program pemerintah, tetapi harus berperan menyumbangkan ide dan gagasan demi keberhasilan pembangunan daerah. Terkait visi Indonesia Emas 2045, ia mengajak kepada para pemuda khususnya di wilayah Kabupaten Bandung agar menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat juang mereka.

Selain itu, Ruli juga mengapresiasi kepada Bupati yang selalu membuka ruang partisipasi pemuda, baik dari Karang Taruna, KNPI, maupun organisasi lainnya. Ini adalah kesempatan untuk ikut bergandengan tangan dalam program-program pemerintah. Maka, saatnya memantaskan diri dengan ide dan gagasan nyata. Jangan jadi generasi rebahan. Harus lebih giat, serius, dan mau bekerja keras untuk masa depan. (Koran Gala.id, 30-10-2025)

Patut disadari bahwa pemuda, adalah generasi yang akan menentukan baik buruknya sebuah peradaban. Oleh karenanya mendorong mereka menjadi agen perubahan tentu akan sangat efektif. Namun sayangnya, jika hal ini ditujukan agar pemuda berdaya sebagaimana harapan Indonesia emas 2045, maka itu tidak akan bisa dicapai oleh sistem kapitalisme sekular yang saat ini diterapkan.
Kapitalisme yang mengedepankan kenikmatan jasadi dan materi telah menjerumuskan pemuda dalam beragam kasus, mulai dari judol, pinjol, seks bebas, dan berbagai penyimpangan lainnya. Lebih cenderung pada kesenangan duniawi, mereka lemah dari sisi ketakwaan juga kemauan. Enggan kerja keras, dan lebih memilih segala sesuatu yang serba instan tanpa mempertimbangkan standar benar ataukah salah.

Sekularisme yang menjauhkan agama (Islam) dari kehidupan telah memjerumuskan pemuda pada beragam dosa, mulai bullying, bunuh diri, hingga kejahatan lainnya. Ide kebebasan tidak sedikit meracuni pemikiran para pemuda hingga permasalahan sosial di kalangan remaja semakin bertambah dan bervariasi bentuknya. Pemerintah sendiri telah berusaha memberikan solusi, namun hanya solusi pragmatis tidak sampai ke akarnya. Pemuda membutuhkan support penuh dari negara, apa daya yang bisa disumbangkan oleh para pemuda? Mereka butuh panduan agama, butuh lapangan kerja, pendidikan maksimal, berbagai pelatihan serta lingkungan yang kondusif. 

Akibat kapitalisme sekular, banyak pemuda kehilangan arah dan tujuan hidup. Berbeda dengan sistem Islam. Allah SWT. telah memerintahkan umatnya untuk berislam secara menyeluruh agar tujuan kehidupan ini terarah dan tidak melenceng dari jalan kebenaran. Sebagaimana terdapat dalam Firman Allah Swt., surat Al-Baqarah ayat 208 yang artinya: 
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Berislam secara kafah berarti menjadikan Al-Qur’an dan As-sunah sebagai pedoman hidup dalam segala aspek kehidupan, baik pada ranah pribadi, masyarakat, bahkan negara. Negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan berbasis akidah Islam, agar pola pikir dan pola sikap anak didik berdasarkan Islam saja. Sehingga memahami hakikat kehidupan yang sesungguhnya, serta menyadari pentingnya perubahan hakiki untuk mengatasi berbagai persoalan hidup. Menyadari visi misi hidup di dunia dan amanah besar di pundaknya sebagai pemakmur bumi.

Negara pun akan menutup berbagai bentuk tontonan yang tidak mendidik dan menggantinya dengan tayangan yang mengandung ilmu dan nilai-nilai Islam. Dengan begitu generasi muda akan tumbuh dalam suasana yang positif, salih, dan berakhlak mulia. Masyarakat dalam sistem Islam adalah masyarakat yang akan bahu-membahu melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena itu menjadikan para pemuda sebagai agen perubahan haruslah ke arah perubahan sistem menuju sistem Islam saja. 
Wallahu a'lam bishShawwab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update