Oleh Ruri R
pegiat Dakwah
Berita dunia kembali menjadi sorotan terkait hubungannya dengan Israel. Pertama, bahwa ketika negara Kazakhstan resmi bergabung dalam Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Pada waktu hampir bersamaan, negara Turki mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan beberapa pejabat Israel, atas dugaan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Langkah ini diumumkan Jumat (7/11/2025) dan menandai eskalasi terbaru ketegangan diplomatik kedua negara yang sebelumnya sudah renggang akibat perang di Jalur Gaza.
Pengumuman Turki ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang berlaku sejak 10 Oktober sebagai bagian dari rencana perdamaian regional. Langkah hukum tersebut memperlihatkan eskalasi diplomatik yang signifikan antara kedua negara sekaligus menegaskan posisi Turki sebagai salah satu pengkritik paling vokal terhadap operasi militer Israel di Gaza.
Pemerintah Israel memberikan reaksi tegas terhadap pengumuman tersebut. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menolak tuduhan itu. Mereka menilai sistem peradilan Turki tidak bersikap independen, dan menyebut langkah Ankara sebagai bentuk propaganda politik.
Israel menuding Turki berupaya memanfaatkan diplomasi regional untuk mempengaruhi sikap Washington dan menegaskan menolak keterlibatan Ankara dalam pasukan stabilisasi internasional di Gaza. Langkah Turki ini juga mendapat dukungan dari Hamas, yang menilai keputusan Ankara sebagai tindakan terpuji dan menunjukkan dukungan Turki terhadap rakyat Palestina yang tertindas. (tvonenews.com, Minggu 9/11/2025)
Permasalahan Terjadi Akibat Penerapan Sistem Saat Ini
Normalisasi hubungan dengan Israel oleh beberapa negara Muslim sering dikemas sebagai upaya stabilisasi kawasan, pembukaan peluang ekonomi, atau diplomasi damai. Namun dalam perspektif geopolitik global, tidak dapat dipungkiri bahwa normalisasi ini juga berfungsi sebagai instrumen kepentingan Amerika Serikat untuk meredam resistensi terhadap Israel.
Ketika negara-negara Muslim secara bertahap masuk dalam orbit normalisasi, maka proyek kolonialisme Zionis terhadap Palestina mendapatkan ruang legitimasi politik yang semakin besar. Inilah yang menjadi kekhawatiran utama, perjanjian diplomatik justru dapat melemahkan solidaritas dunia Islam terhadap Gaza, terutama ketika agresi militer masih terus terjadi.
Di banyak negara, kecaman terhadap agresi Israel terdengar keras. Namun dalam praktik politik, langkah-langkah tegas masih jarang terlihat. Tindakan Turki yang mengeluarkan surat penangkapan terhadap elite Israel memang menarik perhatian, tetapi bagi sebagian pihak, itu dinilai belum menyentuh perubahan strategis yang nyata.
Di sisi lain, negara-negara yang memilih normalisasi semakin memperlihatkan jurang perbedaan sikap dalam dunia Islam. Selama kebijakan luar negeri negara-negara Muslim tetap terikat kepentingan Barat dan paradigma nasionalisme sempit, kepentingan Palestina berisiko menjadi isu pinggiran.
Adapun kedua fakta yang terjadi ini seperti dua kutub yang bertolak belakang, namun pada hakikatnya menunjukkan satu hal, dunia Islam masih terpecah dalam menyikapi penjajahan yang terus berlangsung di Palestina.
Semua hanya bisa terjadi di penerapan sistem saat ini, yaitu demokrasi sekuler. Dimana dalam sistem tersebut terdapat paham nasionalisme yang mendominasi pemikiran para penguasa sehingga menganggap bahwa masalah Gaza ini merupakan masalah antar dua negara (Palestina-Israel).
Selain itu, bahwa dibalik masalah Gaza saat ini AS lah yang mensetting semuanya, dimulai dari kebijakan, strategi, pendanaan, hingga pasokan senjata dari mereka. Adapun adanya PBB tetapi mereka hanya diam saja tidak bergerak mengambil langkah pasti untuk membebaskan Gaza, hanya mengecam dan memberikan saran solusi dengan perdamaian.
Selain itu, ketidakpedulian umat terhadap kondisi kaum muslimin lainnya yang tertindas oleh kekejaman Zionis, umat terpecah belah tanpa pemimpin yang satu. Seharusnya para pemimpin khususnya di negeri-negeri muslim, memiliki kepekaan dan perhatian yang total terhadap semua permasalahan umat muslim yang tertindas, khususnya Gaza. Bisa mensolusikan masalah penindasan tersebut dengan mengambil langkah bersatunya umat Islam di seluruh penjuru dunia melawan Zionis.
Akar Persoalaan Hanya Dapat Dituntaskan Dengan Sistem Islam
Islam memeliki seperangkat aturan yang rinci dan meyuluruh dalam menyelesaikan semua permasalahan hidup umat terutama hal yang mengancam jiwa dan perampasan wilayah seperti problem Palestina yang tidak kunjung selesai.
Seorang pemimpin dalam Islam memiliki kesadaran penuh akan tanggungjawabnya dalam meri'ayah umat. Sabda Rasulullah saw.:
"Imam/khalifah adalah ra'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR al-Bukhari)
Pandangan Islam mengenai penjajahan atas Palestina sudah sangat jelas. Umat Islam wajib mengusir penjajah. Para ulama seperti Imam Ibnu Qudamah dan Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ketika musuh menguasai wilayah kaum muslim, maka penduduk setempat wajib bangkit melawan. Jika mereka tidak mampu, maka kewajiban itu berpindah kepada kaum muslim di wilayah yang lainnya.
Perintah tersebut berdasar pada ayat al-qur'an di antaranya:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ
"Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian".(TQS al-Baqarah [2]: 190).
Oleh karena itu, empati terhadap penderitaan rakyat Gaza seharusnya diwujudkan dalam bentuk jihad untuk mengusir Israel, bukan dengan mengakui keberadaan negara zionis, itulah kewajiban yang Allah tetapkan.
Namun, pemimpin muslim hari ini justru memilih tunduk pada tekanan barat dan lembaga internasional. Mereka lebih mendengarkan keputisan pihak luar daripada tangisan saudara sendiri di Palestina. Sikap seperti inilah hanya menambah panjang penderitaan umat.
Inilah sebabnya umat Islam membutuhkan kepemimpinan kuat dan menyatukan, yaitu Khilafah Islam yang telah diwajibkan oleh syariah Islam. Dengan adanya Khilafah maka negeri-negeri muslim dapat bersatu, dan mampu memimpin perjuangan untuk membebaskan wilayah-wilayah yang terjajah, termasuk Palestina.
Allah juga memperingatkan agar umat tidak condong kepada para pemimpin zalim, dan nabi saw. mengingatkan umatnya tentang bahaya pemimpin yang menyesatkan. Firman Allah SWT:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim sehingga kalian nanti akan disentuh oleh api neraka (TQS Hud [11]: 113)
Waallahu'alam bisshawab.
No comments:
Post a Comment