Oleh : Rengganis Santika A
Musim hujan dibeberapa wilayah datang lebih cepat dari prediksi. Yaitu sekitar bulan Agustus 2025. Dan puncaknya bulan November hingga Desember. Aktivitas alam rutin ini sudah menjadi ritme tahunan masyarakat. Namun mengapa dampak bencana dan musibah tidak berkurang malah bertambah berat. Dan kerap bencana dibiarkan tanpa solusi. Kita tentu tidak boleh menyalahkan takdir. Sebab dibalik takdir berlaku hukum kausalitas sebab akibat. Ikhtiar manusia tetap akan diperhitungkan. Apakah pemerintah dan masyarakat sudah jenuh dengan bencana rutin ini? Sehingga abai, terkesan solusi dan persiapan mitigasi kurang matang?
Mengapa Mitigasi Dan Solusi Bencana Kurang Matang ?
Hujan lebat yang mengawali bulan November, berdampak banjir di beberapa wilayah langganan di Kabupaten Bandung seperti Dayeuhkolot, Baleendah dan Bojongsoang. Sekalipun sudah langganan namun efek kerugiannya tak sedikit. Aktivitas kehidupan terganggu, seperti sekolah, bekerja, dan perdagangan semua terhambat akibat banjir. Perekonomian rakyat lumpuh. Media online PIKIRAN RAKYAT, merilis berita tentang banjir, longsor, pohon tumbang yang terjadi di beberapa titik di Kab. Bandung, belum lama ini. Pemkab Bandung, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), menetapkan status tanggap darurat bencana. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kab. Bandung Beni Sonjaya menyampaikan tengah berproses untuk penetapan status siaga bencana. (4/11/2025).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat juga mencatat Kab. Bandung dan Kab Bogor menjadi wilayah yang paling banyak kejadian bencana di bulan November. Pranata Humas Ahli BPBD Jabar Hadi Rahmat mengatakan sepanjang bulan November terjadi 163 kejadian bencana banjir, longsor dan cuaca ekstrem. Rejabar | Republika Online, (Selasa 26 November 2025). Tercatat bencana terdiri dari 55 kejadian bencana longsor, 33 kejadian banjir dan 75 kejadian cuaca ekstrem. Menurut ketua BPBD Kab. Bandung satgas siaga dan sigap, turun di daerah bencana. (27 November 2025)
Ibarat atap rumah bocor setiap musim hujan, air kucuran bocor selalu ditampung. Puluhan ember disiapkan guna antisipasi hujan lebat. Bahkan jauh-jauh hari ember untuk menampung bocor telah siaga. Akan tetapi pada saat yang sama akar masalah kebocoran atap tidak pernah diselesaikan. Kesiagaan hanya dilakukan dengan menyiapkan ember kosong dan antisipasinya. Tapi akar masalah memperbaiki atap bocor tak pernah dituntaskan. Jangan lupa pentingnya mitigasi yaitu upaya untuk mengurangi risiko, dampak buruk, atau kerugian dari suatu ancaman atau kejadian yang tidak diinginkan. Misal membuat tanggul banjir Menyiapkan jalur evakuasi, edukasi kesiapsiagaan masyarakat. Mitigasi risiko (umum) yaitu mencegah, meminimalkan risiko secara umum, keuangan, kesehatan, proyek, keamanan, dll. Banjir bukan sekedar soalan teknis apalagi sekedar fenomena alam. Penanganan banjir, harus komprehensif sistemik sampai ke akarnya, sekaligus mitigasi yang matang sehingga dampak bencana seminimal mungkin, bukan malah tambah parah dan meluas. Satgas jangan hanya turun saat bencana usai.
Solusi Bencana Secara Sistemik dan Komprehensif Menurut Islam
Islam akan menyolusi berbagai persoalan kebencanaan dari hulu ke hilir dari akar sampai ke pucuk daun. Sebab solusi Islam sistemik, mengaitkan berbagai elemen. Bencana seperti banjir terkait dengan konservasi alam, ekonomi, aturan politik bahkan keimanan. Secara teori air mengalami siklus, jadi hakekatnya air tak berkurang secara ekstrim (kecuali kondisi geografis tak mendukung) atau kelebihan sampai bencana banjir. Konservasi air tergantung daya dukung alam, bila alam rusak seperti saat ini, akibat alih fungsi lahan secara masif, maka dipastikan bencana. Kerusakan alam motifnya demi keuntungan ekonomi individu atau swasta. Semua bermuara dari penerapan sistim kapitalisme sekuler.
Lahan pertanian produktif yang berfungsi mengikat air tanah berubah jadi industri dan property. Islam memiliki aturan seputar lahan. Meningkatkan produktifitas lahan (terjaga resapan air) dengan menghidupkan tanah mati. Tidak boleh ada penguasaan lahan istimewa bagi individu tertentu atau swasta, apalagi ribuan hektar seperti HGU (hak guna usaha). Konsep Tata ruang tidak terlepas dari aturan politik, Islam menekankan pada jaminan kelestarian sosioekologi.
Praktik serakah para kapital/oligharki mengeksploitasi lahan diharamkan! Dalam Islam ada Larangan berbuat kerusakan dimuka bumi sebagaimana yang dilakukan sistim kapitalisme sekuler saat ini. Mindset Islam kesejahteraan lestari dan sinambung. Terakhir, sebagai umat yang memiliki iman/aqidah. Bencana harus ditafakuri sebagai peringatan Allah SWT atas maksiat yang kita lakukan dimuka bumi. Sistem kapitalisme sekuler yang tak kenal halal haram, menjadikan manusia bebas meniadakan kebijaksanaan terhadap alam. Tentu semua ini hanya bisa terwujud bila Islam diterapkan secara kaffah (keseluruhan) . Wallahu alam

No comments:
Post a Comment