Oleh: Suryani
Kemeneg.go.id – Menteri Agama (Menag) Nasruddin Umar mengajak seluruh komponen pondok pesantren di indonesia untuk menjadikan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) nasional dan internasional sebagai anak tangga pertama menuju Kembali The Golden Age Of Islamic Civilization (zaman keemasan peradaban islam). Meneg menegaskan bahwa kebangkitan kembali peradaban emas ini harus di mulai dari lingkungan pesantren.
Runtuhnya peradaban islam pada masa itu di karenakan adanya dualisme ilmu, pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum, sehingga menjadikan pembatas keilmuan cendekiawan hingga masa kini. Dengan adanya pemisahan kedua ilmu tersebut melahirkan beberapa ideologi yang mencerminkan kebebasan, sehingga manusia bebas mengatur diri mereka sendiri dengan begitu segala bentuk sesuatunya menjadi tidak terkontrol yang berujung pada pengrusakan di dunia manusia itu sendiri.
Yang perlu di perhatikan adalah bagaimana menekan sistem yang dianut hampir semua negara saat ini yang dasarnya dari pemisahan agama dari kehidupan menjadikan pengaturan hidup itu di atur oleh manusia itu sendiri, jika kita mengatakan bahwa ini harus di mulai dari lingkup pesantren kita dapat lihat bahwa dalam lingkungan pesantren hanya mengajarkan ilmu islam secara umum saja tidak mengajarkan ilmu islam secara kaffah atau menyeluruh. Padahal jika ingin menghilangkan ideologi yang muncul dari para filsuf ini kita harus memahamkan ilmu islam secara menyeluruh terhadap setiap individu.
Namun tidak semudah itu bisa kita lihat juga bahwa kurikulum pembelajaran yang berjalan saat ini sangat di pengaruhi oleh sistem yang ada, di mana ilmu agama di ajarkan dengan terbatas dan secara umum saja. Orientasi kurikulum dan keilmuan saat ini merujuk pada keuntungan, bagaimana menjadi seorang pekerja yang dapat menghasilkan. Itu bukan tanpa sebab itu di pengaruhi oleh kapitalisme. Oleh karenanya yang harus menjadi pokok perhatian kita adalah bagaiman cara mengubah sistem yang ada, salah satu cara yang bisa di lakukan adalah dakwah islam secara menyeluruh untuk melahirkan kebangkitan islam atau khilafah.
Fakta yang kurang di sadari:
Dukungan terhadap kapitalisme seringkali di lihat melalui upaya yang di dorong oleh program pemerintah dan logika pasar terhadap pesantren, seperti:
Pemanfaatan potensi ekonomi santri: pemerintah meluncurkan program kewirausahaan untuk mendorong santri menjadi pencipta lapangan kerja dan penggerak ekonomi syariah. Ini dapat mengalihkan fokus utama santri dari pendalaman agama menjadi sekedar tenaga kerja atau buruh yang melayani kepentingan pasar.
Penggeseran fungsi dan visi: secara historis, pesantren adalah pusat perjuangan, penjaga akidah, dan lembaga pencetak ulama. Namun di bawah sistem sekuler yaitu pemisahan agama dari kehidupan, menjadikan peran santri bisa tergeser atau di reduksi menjadi sekedar institusi moral atau penggerak ekonomi, menjauh dari peran ideologisnya sebagai penegak syariat islam.
Pengaruh kapitalis-sekuler yang membelokkan arah perjuangan santri menjadi agen perdamaian dan perubahan sosial versi sekulerisme, serta mengarahkan santri sebagai duta islam moderat yang jelas-jelas bertentangan dengan islam.
kehadiran sistem islam:
sistem islam mengatasi infiltrasi kapitalisme dan sekulerisme dengan cara mengganti fondasi dan seluruh struktur yang ada, bukan sekedar menambal atau beradaptasi dengannya. Sekulerisme adalah gagasan yang memisahkan agama dari kehidupan publik termasuk pendidikan, politik, ekonomi dan lainya. Sistem islam menolak ini secara total dengan konsep tauhid yang di sampaikan secara sistemik. Itu bisa terjadi apabila penerapan islam secara kaffah (menyeluruh) terwujud: fondasi negara dan seluruh aturannya termasuk kontruksi hukum maupun kebijakannya. Wajib bersumber dari Al-Qur’an dan as-sunnah. Tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan urusan agama.
Sistem islam tidak menerima sekulerisme sebagai fondasi sehingga kapitalisme tidak bisa tumbuh, sistem islam menjadikan pendidikan sebagai layanan publik yang gratis dan melarang praktikekonomi kapitalis, pesantren di bebaskan dari tuntutan komersialisasi dan dapat fokus pada misi utamanya untuk mencetak generasi pejuang islam.
Namun apakah ada seserang yang mau diatur oleh sistem islam, jawabanya tugas kita memahamkan mereka mengenai islam secara menyeluruh bagaimna islam mengatur kehidupan yang pada masanya pernah di tegakkan dan berada pada masa kejayaan saat itu, agar apabila di terapkan seseorang tidak akan kaget dan cenderung menerimahnya. sistem islam sulit di terapkan karena masih banyak yang belum mengenalnya secara mendalam dan menyeluruh.
Wallahu’alam.

No comments:
Post a Comment