Oleh Silmi Kaffah
Aktivis Pegiat Literasi
Krisis pendidikan karakter di Indonesia kini kian mengkhawatirkan. Sebagai contoh, dalam kasus terbaru, seorang kepala sekolah dilaporkan ke pihak berwajib hanya karena menegur dan menampar siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Ironisnya, ratusan siswa justru berpihak pada temannya yang melakukan pelanggaran tersebut. (REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA. 16-10-2025)
Di sisi lain, seorang
mahasiswa Universitas Udayana mengakhiri hidupnya diduga akibat perundungan. Tragisnya, bahkan setelah meninggal dunia, ia masih menjadi bahan ejekan di grup WhatsApp kampusnya.
Ini hanyalah sebagian kecil dari potret krisis moral yang terjadi di dunia pendidikan kita. (detiknews, Jakarta. 20-10-2025)
Sementara itu, salah satu tayangan televisi di Trans7 menampilkan secara tendensius perilaku santri yang menghormati gurunya sebagai budaya feodal dan tidak pantas. Padahal, penghormatan murid terhadap guru merupakan adab luhur dalam Islam. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak orang alim di antara kita.”
(Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 17/241)
Dalam pandangan Islam, pendidikan sejati bukan sekadar proses mentransfer ilmu, tetapi juga sarana utama pembentukan karakter dan akhlak yang bersumber dari akidah Islam.
Akar Krisis: Sekularisme dalam Pendidikan
Krisis karakter yang melanda dunia pendidikan sesungguhnya berakar dari sistem pendidikan sekuler. Sistem ini telah memisahkan ilmu dari nilai-nilai agama, sehingga peserta didik kehilangan arah dan makna hidup. Tujuan pendidikan pun berubah menjadi semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, bukan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
Para pendidik pun tidak luput dari arus krisis moral. Tidak sedikit kasus kekerasan, pelecehan, dan korupsi justru melibatkan guru atau tenaga pendidik itu sendiri. Padahal, seorang guru seharusnya menjadi teladan bagi para muridnya. Imam al-Qusyairi menegaskan:
"Barang siapa tidak menanamkan adab pada dirinya, maka orang lain tidak akan dapat mempelajari adab darinya.”
(Tafsir al-Qusyairi, 2/36)
Inilah buah dari sistem pendidikan sekuler yang berpaling dari Al-Qur’an. Allah SWT telah mengingatkan:
"Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.”
(QS Thaha [20]: 124)
Tujuan Pendidikan dalam Islam
Tujuan pendidikan dalam Islam bukan hanya mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi membentuk pribadi berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah), yakni pribadi dengan pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang didasarkan pada akidah Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR al-Bazzar dan al-Baihaqi)
Beliau juga menegaskan:
"Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR al-Bukhari)
Dan sabdanya lagi:
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR al-Bukhari)
Namun dalam sistem sekuler, ketika ilmu dipisahkan dari iman, maka lahirlah generasi yang mungkin cerdas, tetapi miskin akhlak; pandai, tetapi kehilangan arah moral. Karena itu, para ulama terdahulu selalu menekankan pentingnya membina adab sebelum menyampaikan ilmu. Adab adalah fondasi ilmu. Melalui sistem pendidikan Islam, lahirlah generasi ulama dan ilmuwan yang cerdas sekaligus bertakwa.
Dalam konteks pendidikan, Islam menanamkan akidah sebagai dasar utama seluruh ilmu. Akidah inilah yang membentuk perilaku berdasarkan syariat, sekaligus mengarahkan potensi manusia untuk beramal demi meraih ridha Allah SWT.
Sejarah Gemilang Pendidikan Islam
Sejarah mencatat, sistem pendidikan Islam mencapai masa keemasan selama berabad-abad di bawah kepemimpinan Khilafah, terutama pada masa Abbasiyah. Negara menjadi pelopor utama dalam pengembangan pendidikan dengan mendirikan ribuan madrasah, perpustakaan, dan pusat penelitian semuanya berlandaskan akidah Islam yang kokoh.
Khalifah Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dunia pada abad ke-9 Masehi. Dari sanalah lahir para ilmuwan besar di bidang matematika, kimia, astronomi, kedokteran, dan sebagainya. Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga ulama yang memadukan ilmu dan iman. Lahir pula para ulama besar yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fiqih, tafsir, hadits, dan tasawuf yang karya-karyanya masih dikaji hingga saat ini.
Ibn Katsir mencatat, “Pada masa itu dunia dipenuhi oleh para ulama dan pelajar.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah). Sistem pendidikan Islam di era khilafah berhasil memadukan spiritualitas Islam dengan kemajuan sains dan peradaban manusia.
Peran Negara dalam Pendidikan
Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab langsung untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan gratis bagi seluruh rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda:
"Imam (khalifah) adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia pimpin.”
(HR al-Bukhari dan Muslim)
Tanggung jawab ini mencakup penyediaan pendidikan bermutu dengan tujuan syar’i: membentuk generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Namun dalam sistem kapitalis-demokrasi-sekuler saat ini, mewujudkan pendidikan gratis, berkualitas, dan berorientasi pada pembentukan iman serta takwa terasa semakin sulit. Karena itu, perlu langkah konkret untuk memperkuat kebijakan dan peran seluruh pihak.
Upaya Mengatasi Krisis Pendidikan Karakter
1. Kebijakan Pemerintah:
• Menguatkan program Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
• Menyelenggarakan pelatihan guru agar mampu menjadi pendidik berkarakter.
• Menyusun kurikulum yang seimbang antara aspek akademik dan moral.
2. Peran Keluarga:
• Menjadi teladan dalam kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.
• Membangun komunikasi terbuka antara orang tua dan anak.
• Menanamkan nilai-nilai agama dan moral sejak dini.
3. Peran Sekolah:
• Mengintegrasikan pendidikan karakter di seluruh mata pelajaran.
• Menumbuhkan budaya positif seperti disiplin, gotong royong, dan empati.
• Menjadikan guru sebagai teladan dan inspirasi bagi peserta didik.
Penutup
Krisis pendidikan karakter di Indonesia muncul akibat lemahnya peran keluarga, ketidakseimbangan sistem pendidikan, serta pengaruh negatif lingkungan dan media. Untuk mengatasinya, diperlukan sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah guna membangun sistem pendidikan yang berlandaskan nilai moral, spiritual, dan sosial.
Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan dalam teori, tetapi harus diwujudkan dalam keteladanan nyata oleh orang tua, guru, dan para pemimpin bangsa. Kini saatnya umat kembali kepada sistem pendidikan Islam, agar lahir generasi beriman, berilmu, dan beradab generasi khayru ummah.
Allah SWT berfirman:
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Padahal) hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi kaum yang meyakini?”
(QS al-Ma’idah [5]: 50)
Wallahua'alam bissawab
No comments:
Post a Comment