Oleh: Cahaya Chems
Innalillahi wa innailaihi rojiun dunia pendidikan sedang berduka. Jika tidak, sedang menuju lonceng kematiannya. Bagaimana tidak, pasalnya wewenang seorang guru sebagai pendidik saat ini harus dibatalkan oleh hak asasi manusia. Guru tidak bisa lagi melaksanakan contoh teladan kepada anak-anak murid sebagai sesuatu yang ditiru, digugu dan dihormati.
Sebab hari ini pendidikan yang diberikan oleh guru bisa saja dianggap melanggar hukum jika memberikan pendisiplinan yang ketat dalam tanda kutip mengekang kebebasan anak. Sehingga guru tidak bisa sepenuhnya melakukan tujuan pendidikan seutuhnya.
Pasca viralnya Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga tempo hari telah memperlihatkan bagaimana dunia pendidikan tengah hilang wibawanya sebab guru tidak lagi dijadikan sebagai sesuatu yang harus dipatuhi oleh peserta didik. Bahkan, makin miris ratusan murid ikut memberikan pembelaan terhadap kawannya yang bersangkutan melanggar peraturan sekolah (merokok), dan ramai-ramai melakukan aksi mogok sekolah dan takkan masuk belajar sebelum kepsek dicopot dari jabatannya. Miris, satu murid bermasalah malah dibelah oleh temannya yang katanya bentuk protes dan solidaritas terhadap kekerasan (yoursay.id, 16/10 /2025).
Imbas Pendidikan Sekuler
Yah mesti disadari bahwa hari ini dasar politik pendidikan yang mengatur sistem pendidikan di negeri ini masih berbasis pendidikan sekuler. Pendidikan yang orientasinya hanya menekankan pada hasil kecerdasan akademik dan mengejar dunia kerja (memperoleh materi semata) tapi menjauhkan ide karakter, luput dari nilai-nilai spiritual, juga kehilangan aspek ketaatan, dan keimanan, serta jauh dari nilai akhlak. Sampai kehilangan nilai moral dan budi pekerti.
Anak-anak hanya di ajar bagaimana agar mendapatkan nilai bagus dari segi prestasi akademik, tapi nihil empati dan menghasilkan krisis moral dan nir akhlak. Inilah realitas hasil pendidikan yang terjadi. Sehingga wajar pola pikir dan pola sikap dalam pandangan anak didik terbentuk kepribadian yang buruk. Tidak lagi membawa nilai-nilai agama dalam kehidupannya. Sehingga generasi cenderung berbuat anarkis, bebas bertindak, melanggar aturan, melakukan tindakan kriminal tapi tak dianggap sebagai kesalahan.
Disisi lain, dalam pendidikan sekuler hari ini guru belum mendapat perlindungan hukum yang jelas ketika menegakkan peraturan. Guru kerap kali mendapatkan posisi tidak berdaya sebab guru bisa menjadi pihak terlapor.
Semua ini terjadi ketika paham sekularisme yang menjauhkan peran agama dari kehidupan. Paham ini telah memberi ruang kebebasan pada anak. Disamping itu memposisikan anak murid sebagai pihak yang harus dilindungi. Apapun tindakan yang mereka lakukan, meski melanggar hukum tetap di posisikan sebagai pihak yang harus dilindungi berdasarkan aturan perundangan.
Sehingga wajar jika mereka tidak lagi memperhatikan adab dan sopan santun, budi pekerti, dan tata krama. Lebih dari itu, tidak lagi memandang halal haram. Demikianlah barat setelah sukses menjadikan kurikulum yang menjauhkan nilai-nilai agama dalam pengajaran pendidikan guna menghancurkan peradaban Islam.
Inilah sistem pendidikan sekuler yang diterapkan saat ini, yang terlanjur memberikan ruang kebebasan terbukti gagal mencetak peserta didik yang bertaqwa dan berakhlak mulia.
Malapetaka Generasi
Munculnya kasus kenakalan remaja dan tindakan pelanggaran yang mereka lakukan adalah kasus lama yang terus berulang. Kasus ini ibarat fenomena puncak gunung es. Puncaknya terlihat kecil sementara bagian bawah telah tertanam persoalan besar yang mengakar. Potret kasus anak murid yang melanggar aturan sekolah adalah cerminan kegagalan negara yang tak pernah tuntas.
Lantas jika guru sebagai pendidik tidak didukung oleh negara siapa yang akan memberikan dukungan? Lebih jauh, jika guru tak mendapatkan ruang untuk dihormati, lantas murid mau mendengarkan siapa lagi?. Ketika guru tak lagi mendapat pegangan, kemana lagi mereka akan berlabuh. Maka jangan sampai label ‘anak didik’ hanya sekedar simbolik.
Yang makin membuat miris ketika orang tua berdiri sebagai pembela tindakan anaknya. Tidak lagi menimbang apakah itu benar atau salah. Orang tua tidak lagi berdiri menjadi kontrol melainkan memberikan tameng sekalipun itu tindakan sang anak salah.
Mak bisa dibayangkan, malapetaka bisa menjadi tontonan nyata ketika guru tidak lagi muncul sebagai figur pendidik. Lalu direndahkan martabatnya, terlebih tidak mendapatkan dukungan dan pembelaan. Karena itu, bukan tidak mungkin timbul anak murid yang makin jumawa. Melakukan tindakan yang melanggar tidak dianggap sebagai perbuatan yang salah. Sebab tidak ada teguran dan hukum yang ditegakkan. Mereka akan makin berani berbuat semena-mena, pun bisa saja menganggap nasehat dan teguran dari guru sebagai bahasa ancaman dan tindakan melanggar hak asasi mereka, juga kebebasannya. Nauzubillah!.
Jika sudah seperti ini, akan seperti apa nantinya dunia pendidikan. Disinilah nasib generasi dipertaruhkan. Generasi muda seperti apa yang akan terbentuk jika dunia pendidikan kehilangan ruh didikan. Siapa yang akan bertanggung jawab jika generasi menjadi rusak?.
Semua ini justru hanya akan berakibat pada runtuhnya generasi yang makin bablas. Alhasil generasi emas yang diharapkan hanya tinggal sebatas harapan, justru generasi yang ada membawa petaka.
Dunia barat hari ini sangat memahami persoalan ini. Sehingga mereka berusaha memandulkan generasi muslim melalui dunia pendidikan dengan ide-ide kebebasan dan kesenangan dunia. Barat sadar menghancurkan peradaban Islam dengan menghancurkan pendidikan dan pengajaran. Kemudian menjatuhkan tokoh yang menjadi panutan.
Ketika pendidikan dan pengajaran hancur maka dibuatlah guru tidak melakukan pendidikan, jangan biarkan masyarakat menganggap guru itu penting, remehkan kedudukan seorang guru hingga murid-muridnya merendahkannya. Dan untuk menjatuhkan peran tokoh panutan, kamu harus perhatikan ulama (guru) dan intelektualnya. Tuduh dan fitnah mereka, remehkan kedudukan mereka, buat masyarakat ragu dengan mereka hingga tidak ada seorangpun yang mendengar dan meneladani mereka’’
Kini perkara tersebut benar-benar terjadi. Pendidikan dan pengajaran dihancurkan. Sosok guru tak lagi dihormati. Tokoh yang seharusnya menjadi panutan kehilangan wibawa sebab direndahkan martabatnya oleh murid. Bencana itu benar-benar terjadi.
Posisi Guru dalam Islam
Dalam Islam profesi guru amatlah penting. Seorang guru menjadi sosok teladan yang dapat dijadikan panutan lagi di muliakan. Karenanya sosok guru bukan hanya melakukan pengajaran tapi lebih dari itu, guru adalah sosok pendidik yang beretika. Bukan hanya transfer of knowledge tetapi transfer of character.
Dalam pandangan Islam guru adalah pilar peradaban. Ia bertugas membentuk kepribadian anak agar bersaksiyah Islami, pola pikir dan pola sikap sesuai dengan Islam. Dari sini lahir anak-anak didik yang memiliki kesadaran bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah beribadah kepada Rabbnya dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Dengan begitu generasi muda menyadari bahwa pemuda muslim memiliki peran penting untuk menjadi generasi yang beriman bukan generasi yang merusak. Dengan penanaman aqidah yang mendalam mereka memiliki kesadaran akan menjauhkan dirinya dari perbuatan yang melanggar hukum. Melakukan hal-hal yang bisa membayakan tubuhnya, termasuk menjauhi perkara rokok. Sebab rokok bisa membayakan kesehatan tubuh.
Dalam Islam pendidikan karakter dan pendidikan ilmu sains adalah bagian yang saling menyatu dan utuh. Tidak ada dikotomi pemisahan. Semua sumbernya mesti berakar pada pendidikan akidah dan penanaman keimanan. Dan guru dalam era Islam menyadari peran ini. Sehingga tak heran pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, keberadaan sosok guru sangat dimuliakan oleh khalifah. Hal itu terlihat dari bagaimana khalifah memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi guru-guru yang berprestasi.
Sehingga ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, namun tidak kosong dari nilai ruhiah sebagaimana hari ini. Guru sangat digugu dan dihormati terlebih didukung oleh negara yang mengayomi. Tentu guru dalam menjalankan tugasnya tidak dibenarkan melakukan kekerasan melainkan dengan kasih sayang.
Demikianlah posisi guru diera Islam. Mereka menjalankan tugas sepenuh hati sebab bagian dari ibadah. Bukan semata mengajar profit sebagaimana dalam kacamata kapitalis hari ini. Dimana para guru mengajar demi memenuhi tuntutan proyek kerja yang apabila tak terpenuhi maka terancam tidak dipenuhi hak-haknya.
Karena itu, tidak ada pendidikan shahi yang bisa menghasilkan generasi yang bermartabat kecuali hanya dengan mengadopsi sistem pendidikan Islam. Sebab sistem pendidikan sekuler kapitalis telah gagal membentuk generasi yang bermartabat. Wallahu a'lam.

No comments:
Post a Comment