Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pesantren Butuh Pendidikan Islam Kaffah

Saturday, December 06, 2025 | Saturday, December 06, 2025 WIB Last Updated 2025-12-06T13:15:49Z
Pesantren Butuh Pendidikan Islam Kaffah

Oleh :Hj.Padliyati Siregar ST


Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menjadi tuan rumah dalam kegiatan Halaqoh Penguatan Kelembagaan Pendirian Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Lantai 4 Gedung Perpustakaan UIN Raden Fatah Kampus Jakabaring, Jum’at (21/11/2025).


Kegiatan yang mengusung tema “Intelektualisasi Santri dan Santrinisasi Masyarakat” ini dihadiri oleh Wakil Menteri Agama RI, Dr. K.H. Romo R. Muhammad Syafi’I, S.H., M.Hum dan Direktur Pesantren, Dr. H. Basnang Said, S.Ag., M.Ag., 


Dalam acara itu ditegaskan  bahwa santi dan pesantren memiliki potensi besar dalam bidang Sains dan Teknologi. DI tekankan bahwa sebagai santri jangan hanya terbatas pada ilmu agama saja.


Anak-anak pesantren jangan hanya tahu ilmu agama saja, jangan hanya memahami fiqh saja. Mereka harus belajar semua hal, ilmu teknologi, ekonomi, kedokteran. Memahami agama berarti memahami teknologi, kedokteran, itulah Islam yang sebenarnya.


Pesantren adalah benteng ideologis umat. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan tradisional, melainkan wadah pembentukan mukmin yang memahami Islam secara menyeluruh (kaffah) dan siap memperjuangkannya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, arah pembinaan pesantren mulai mengalami distorsi.


Sudah selayaknya santri dipesantren memahami bahwa ilmu tidak berhenti pada hafalan, tetapi harus bermuara pada amal dakwah dan perubahan sosial berdasarkan syariat.


Santri sejati tidak puas menjadi cendekiawan religius, tetapi harus menjadi mujahid intelektual yang mampu mengarahkan umat menuju rida Allah.


Santri bukan duta budaya, tetapi duta dakwah. Bukan motor ekonomi pragmatis, tetapi motor peradaban Islam kaffah. Inilah ciri khas pesantren yang seharusnya menjadi pembeda dari lembaga pendidikan modern sekuler.


Sudah seharus nya pesantren  dikembalikan kepada visi awal kemunculannya, yakni visi pendidikan untuk mencetak santri dan ulama faqih fiddin. 


Faqih fiddin yang dimaksud bukanlah faqih fiddin yang moderat, melainkan faqih fiddin Islam kaffah. Pemahaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al Hadits dari hasil pengkajian para ulama salafushshalih. Bukan pemahaman yang lahir dari interpretasi dan kaca mata Barat.


Pesantren seharusnya dibuatkan peta jalan pengembangan pendidikan Islam kaffah yang akan melahirkan para santri dan ulama yang sangat dekat dengan Al-Qur’an dan hadis, penjaga Islam yang terpercaya, ulama yang mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan, serta ulama yang terdepan dalam melawan kezaliman (amar makruf nahi mungkar). Inilah santri dan Ulama agen perubahan. Bukan justru menjadi santri dan ulama corong moderasi yang diinginkan Barat.


Allah SWT berfirman dalam QS Fatir ayat 28, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”


Peta Jalan Pendidikan Islam Kaffah


Sebagaimana fungsinya, peta jalan dibuat untuk memberikan panduan arah untuk mencapai tujuan. Yang menjadi pertanyaan adalah asas apa yang digunakan sebagai landasannya? Karena asas akan menentukan tujuan yang akan diraih, baru kemudian disusun peta jalannya. Maka sangat penting apakah asas pendidikan saat ini sudah benar? apakah tujuan yang hendak dicapai itu benar? Bagaimana pula dengan peta jalan pengembangannya?


Sayangnya, peta jalan pendidikan- termasuk pendidikan pesantren- saat ini dibangun atas asas sekularisme kapitalis. Darinya akan melahirkan konsep-konsep pengembanhan pendidikan yang jauh dari nilai Islam, seperti halnya konsep moderasi beragama. Tujuan akhirnya pasti bukan untuk berkhidmat kepada Islam, tapi justru kepada kepentingan Barat yang ingin menghancurkan Islam.


Maka dari itu, peta jalan pengembangan pendidikan seharusnya lahir dari sistem pendidikan Islam. Dalam sistem Islam tidak akan dikotomi antara pendidikan di sekolah umum dan pesantren, seperti yang terjadi hari ini akibat sekularisme. Setiap institusi pendidikan sama-sama harus terikat dengan kurikulum Islam yang dibangun atas asas akidah islam.


Pemahaman yang menyimpang, seperti konsep moderasi beragama akan dilarang.


Tujuan pendidikan dalam Islam tidak lain adalah untuk mencetak peserta didik yang berkepribadian Islam. Berkepribadian Islam artinya memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Bukan seperti saat ini, lahir peserta didik baik dari sekolah umum maupun pesantren justru berkepribadian yang jauh dari Islam, mengekor kepada Barat dan nilai-nilainya, jauh dari profil para ulama salafushshalih.


Oleh karena itu, peta jalan pengembangan pendidikan pesantren harus dikembalikan kepada khittah-nya. Apalagi di tengah sistem hidup sekuler kapitalisme saat ini pesantren menjadi ujung tombak yang sangat diharapkan mampu lebih baik daripada sekolah umum, untuk dapat mencetak generasi yang islami, santri dan ulama faqih fiddin pewaris Nabi. Mereka menjadi mercusuar umat yang memiliki tsaqafah, leadership, dan wawasan politik sehingga mampu melakukan amar makruf nahi mungkar dan memimpin umat merubah sistem sekuler kapitalisme saat ini menjadi sistem Islam, Khilafah Islamiyyah


Maka, mengingin pesantren berkontribusi di tengah tengah umat seharusnya dengan mengembalikan ruh perjuangan islam pada Pesantren. Menjadikan pesantren sebagai pusat lahirnya ulama pejuang, pembimbing umat, dan pemimpin peradaban Islam. Bukan sekadar menghasilkan santri yang pandai teknologi, mahir bisnis, atau terampil dalam budaya populer

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update