Oleh. Ummu Hamizan (Praktisi Pendidikan)
Belakangan media sosial dihebohkan oleh video seorang tokoh agama muda yang tampak mencium anak perempuan saat mengisi kajian. Tindakan itu menuai banyak tanggapan, mulai dari yang menganggapnya biasa saja hingga yang menilai hal tersebut tidak pantas dilakukan di ruang publik. (news.detik.com, 13-11-2025)
Sebagian masyarakat menilai momen itu sebagai bentuk kasih sayang dan keberkahan, karena dilakukan oleh sosok yang dianggap berilmu dan dekat dengan agama. Namun, tak sedikit pula yang merasa tidak nyaman melihatnya, terlebih ketika tindakan serupa dilakukan berulang kali di hadapan banyak orang.
Kontroversi ini menjadi perbincangan luas karena menyentuh batas tipis antara kasih sayang dan sikap yang berpotensi disalahartikan. Ketika seseorang yang dihormati melakukan tindakan fisik kepada anak kecil atau remaja perempuan, publik berhak bertanya: di mana batas antara penghormatan dan pelanggaran adab?
Lebih miris lagi, ada yang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lumrah karena dilakukan oleh tokoh agama. Padahal, justru semakin tinggi kedudukan seseorang di mata masyarakat, semakin besar tanggung jawabnya menjaga perilaku, terutama dalam hal yang berkaitan dengan interaksi lawan jenis.
Fenomena ini mengungkap adanya persoalan yang lebih dalam yakni lemahnya pemahaman masyarakat terhadap batasan dalam berinteraksi. Ketika adab dan etika dipinggirkan, maka yang tersisa hanyalah pembenaran perilaku atas dasar fanatisme terhadap sosok tertentu.
Sebagian masyarakat cenderung menempatkan figur agama di posisi yang terlalu tinggi hingga sulit dikritik. Pengkultusan seperti ini bisa membuat seseorang kehilangan objektivitas, bahkan menormalisasi tindakan yang seharusnya tidak layak dilakukan. Padahal, dalam ajaran Islam, setiap manusia siapapun dia tetap memiliki batasan dalam berperilaku.
Masalah ini juga menunjukkan lemahnya pendidikan moral di tengah masyarakat modern. Banyak orang lebih terpesona oleh popularitas tokoh dibanding memahami nilai-nilai ajaran yang dibawa. Ketika agama hanya dipahami sebatas simbol dan penampilan, maka substansi adab dan akhlak menjadi kabur.
Solusinya bukan dengan saling menyalahkan, tetapi dengan memperkuat kembali pemahaman tentang adab dan batas interaksi yang diajarkan Islam. Islam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan penuh kehormatan dan kesopanan agar tidak menimbulkan fitnah atau kesalahpahaman.
Anak-anak dan remaja harus dilindungi dari segala bentuk tindakan yang berpotensi menyalahi batas, sekecil apapun itu. Para tokoh agama pun perlu menjadi teladan dalam menjaga jarak dan sikap, sehingga wibawa mereka tetap terjaga dan umat tidak keliru dalam menilai.
Sudah saatnya masyarakat kembali menempatkan ilmu, akhlak, dan adab di posisi utama. Menilai seseorang bukan dari popularitasnya, tetapi dari keteladanan sikapnya. Karena sejatinya, keberkahan tidak lahir dari kedekatan fisik, tetapi dari ketulusan hati dan ketaatan pada aturan Allah.
Wallahu'alam bii shawwab

No comments:
Post a Comment