Oleh : Asiyah (Penulis Opini)
Mengenal Sudan
Sudan adalah salah satu negara terbesar di Afrika dan berbatasan dengan tujuh negara, yaitu Afrika Tengah, Sudan Selatan, Chad, Mesir, Eritrea, Ethiopia, dan Libya. Negara ini dikenal dengan situasi keamanannya yang tidak stabil, dengan pertempuran yang terjadi di Khartoum menjadi berita utama. Sudan juga mengalami perang saudara terpanjang di Afrika yang berlangsung selama 22 tahun antara tahun 1983 dan 2005. Perang saudara tersebut adalah yang kedua setelah perang yang terjadi di Sudan Selatan pada 1955.Dan sekarang, perang saudara di Sudan, yang kini memasuki tahun ketiga, melibatkan tentara Sudan dan RSF. Bahasa resmi yang digunakan di Sudan adalah Bahasa Arab, Sudan merupakan negara terbesar di Afrika dan merupakan tempat asal peradaban kuno dan mungkin juga umat manusia. Sudan juga memiliki piramida yang lebih banyak serta sungai Nil yang lebih panjang dari mesir. Selain itu faktanya sudan merupakan produsen emas terbesar di wilayah Arab.Tetapi disisi lain sudan juga negara yang krisis kemanusiaan, serta fasilitas dan kebutuhan masyarakat di Sudan masih kurang terpenuhi.
Perang Saudara di Sudan
Perang saudara di Sudan kembali menjadi sorotan dunia setelah kekerasan dan perebutan kekuasaan antara militer dan pasukan paramiliter menewaskan ratusan ribu orang. Konflik ini bermula dari pertikaian dua jenderal yang dulu pernah bersekutu, tetapi kini saling memperebutkan kendali atas negeri yang pernah menjanjikan transisi demokrasi.
Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah mengambil alih El Fasher pada tanggal 26 Oktober 2025 setelah pasukan pemerintah mundur. Sejak pengambilalihan itu, ada banyak laporan tentang pembunuhan massal, peguburan massal, penyiksaan, dan pengungsian besar-besaran.
Sebanyak 1.500 warga Sudan meninggal dalam waktu tiga hari menyusul penguaasaan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di el-Fasher. Angka ini menandai eskalasi mengerikan perang saudara di Sudan. Pemerintah Sudan mengatakan pada hari Rabu bahwa setidaknya 2.000 orang telah terbunuh di kota tersebut sejak saat itu, sementara lembaga bantuan mengatakan mereka telah menerima laporan yang dapat dipercaya mengenai kekejaman tersebut, termasuk eksekusi mendadak, serangan terhadap warga sipil di sepanjang rute pelarian, dan penggerebekan dari rumah ke rumah. Kekerasan seksual, khususnya terhadap perempuan dan anak perempuan, juga dilaporkan terjadi di kota tersebut, kata mereka.
Penyintas yang meninggalkan kota mengatakan sedikitnya 500 orang mencari perlindungan di rumah sakit. Di antara mereka yang tewas adalah petugas kesehatan, tambah Morgan. Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan lebih dari 460 orang tewas di Rumah Sakit Bersalin Saudi. Dia mengatakan WHO “terkejut dan sangat terkejut” dengan laporan tersebut. Jaringan Dokter Sudan mengatakan para pejuang RSF pada hari Selasa “dengan darah dingin membunuh semua orang yang mereka temukan di dalam Rumah Sakit Saudi, termasuk pasien, rekan mereka, dan siapa pun yang ada di bangsal”.
Krisis Sudan sebetulnya sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis tapi ada keterlibatan negara adidaya (AS) dan Inggris yang melibatkan negara-negara bonekanya (zionis dan UEA) terkait rebutan pengaruh politik (proyek timur tengah baru AS) demi kepentingan perampokan SDA yg melimpah ruah. Lembaga- lembaga dan aturan internasional dibuat dalam frame kepentingan melanggengkan hegemoni negara- negara adidaya terhadap negeri- negeri muslim. Sudan yang kaya sumberdaya alam hanya menjadi objek permainan dan perebutan negara-negara adidaya.
Solusi Islam
Islam menawarkan jalan keluar yang menyeluruh dalam menghadapi kekerasan yang terjadi di Sudan. Ajaran Islam menekankan pentingnya keadilan (al-‘adl) dan larangan menumpahkan darah sesama manusia tanpa alasan yang benar. Dalam konteks konflik Sudan, prinsip ini mengajarkan bahwa perdamaian tidak akan tercapai tanpa penegakan keadilan bagi seluruh pihak yang terlibat. Islam juga menuntun umatnya untuk menyelesaikan perselisihan melalui musyawarah (syura), bukan melalui kekerasan dan pembalasan dendam. Pemerintah maupun kelompok yang bertikai seharusnya mengedepankan nilai kasih sayang (rahmah) dan persaudaraan (ukhuwwah islamiyyah) sebagai dasar rekonsiliasi nasional. Selain itu, penerapan sistem pemerintahan yang menjamin hak-hak rakyat, menegakkan hukum secara adil, serta melindungi jiwa dan kehormatan setiap individu merupakan bagian dari solusi Islam yang hakiki untuk mengakhiri pertumpahan darah di Sudan dan membangun kedamaian yang berkelanjutan.
Sudan membutuhkan perubahan mendasar, bukan sekadar gencatan senjata sementara atau pergantian pemimpin yang berulang. Akar masalahnya terletak pada sistem yang tidak berpihak kepada keadilan dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, penerapan sistem khilafah menjadi jalan yang menawarkan harapan baru bagi terciptanya keamanan dan persatuan di negeri tersebut. Melalui penerapan syariat Islam secara menyeluruh, rakyat akan merasakan keadilan yang sejati, pemerintahan yang amanah, dan kehidupan yang damai tanpa penindasan. Hanya dengan kembali kepada aturan Allah-lah, Sudan dan dunia Islam secara umum dapat keluar dari lingkaran konflik dan menuju peradaban yang mulia dan berkeadilan.
Umat wajib menyeru semua muslim di seluruh dunia dengan seruan yang sama. Umat harus terus mengingatkan akan persatuan umat dan kewajiban menolong mereka. Umat harus bergerak menuntut penguasa muslim melaksanakan kewajiban menolong Sudan dengan melaksanakan jihad dan menegakkan khilafah. Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment