Oleh : Tini
Miris dengan meningkatnya angka perceraian yang terjadi saat ini, sungguh sangat memperihatinkan, terjadi bukan saja dari pasangan muda, bahkan sampai kepada pasangan yang sudah lanjut usia. Fenomena seperti ini kerap terjadi di lingkungan biasa, bahkan ke para artis sekalipun. Perceraian saat ini terjadi bukan hanya urusan pribadi saja, namun sudah merambah ke media sosial, hal ini akhirnya menjadi konsumsi umum. Di tingkat Nasional dan Daerah, angka perceraian tinggi dan di satu sisi angka pernikahan menurun. Inilah gambaran saat ini yang terjadi, banyak pasangan muda yang pada akhirnya mereka takut untuk menikah, alasannya kalau nanti menikah berakhir pada perceraian. Mereka beranggapan lamanya hidup berumah tangga tidak bisa menjamin keharmonisan, hingga terjadi perceraian di usia senja
Perceraian di Kabupaten Tangerang terus meningkat. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat 6, 113 pasangan resmi bercerai, naik sekitar 8 persen dibanding tahun lalu. Data ini dirilis pengadilan Agama Tigaraksa, yang menyebut judi online, perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT ) menjadi penyebab paling banyak perceraian di Wilayah ini. Berbagai faktor penceraian dipicu masalah ekonomi, pertengkaran, KDRT, perselingkuhan, Judol dan lain-lain. Fakta yang terjadi menunjukkan lemahnya pemahaman masyarakat tentang pernikahan. Sebelum adanya perceraian tentunya berbagai pihak sudah melakukan mediasi baik keluarga ataupun kantor urusan Agama namun akhirnya final tetap keputusan ada ditangan pasangan suami istri.
Tanpa disadari bagi orang tua yang memilih berpisah adalah dampak psikologis bagi anak sangat dirugikan. Dampak tersebut diantaranya, (1) anak dapat mengalami depresi, (2) kesepian kehilangan sosok ibu ataupun bapak nya dalam satu rumah, (3) cemas sehingga mengganggu tumbuh kembang anak, (4) pola pikir anak menurun (5) rasa paranoid berlebihan terhadap lingkungan ( antaranews.com, 25/04/2025). Ada kalanya orang tua tidak memikirkan hal atau akibat tersebut hanya karena emosi dan keegoisan semata. Perpisahan orang tua menyebabkan ketahan keluarga Runtuh dan generasi rapuh. Paradigma sekuler kapitalis dalam sistem pendidikan, sistem pergaulan sosial, dan sistem politik ekonomi telah membuat ketahanan keluarga dan generasi lemah.
Sistem kapitalis yang menjadi tolak ukur kebahagiaan adalah materi, sehingga peran Agama tidak ada dalam setiap permasalahan. Pemisahan Agama dalam kehidupan memperlemah kehidupan berumah tangga dalam menyelesaikan persoalan
Berbeda dengan sistem pendidikan dalam Islam, mengantarkan dalam pembinaan kepribadian Islam yang kokoh dan siap membangun keluarga samara. Pergaulan Islam menjaga hubungan dalam keluarga dan sosial masyarakat tetap harmonis berlandaskan pada ketakwaan. Suami istri ibarat sahabat yang harus saling menjaga keharmonisan, yang masing-masing memenuhi hak dan kewajibannya. Aturan dalam Islam negara akan menjamin kesejahteraan ibu dan anak dari segi keamanan, kesejahteraan dan kemakmuran hingga anak dewasa.
Kesejahteraan keluarga dan masyarakat dijamin oleh sistem politik ekonomi Islam, pemenuhan hak- hak yang mendasar sudah menjadi kewajiban, tanggung jawab negara. Dan sistem pendidikan menghantarkan pada pembinaan kepribadian Islam yang kokoh danbsiap membangun keluarga samara. Keluarga yang taat pada syariat, dan tentunya akan menjadi perisai pembangun peradaban umat. Dengan demikian, tidak ada lagi keluarga yang runtuh dan generasi yang rapuh maka didalam kekeluargaan harus ditanamkan pemahaman,- pemahaman Islam secara kafah, menyeluruh .Dan saat nya keluarga muslim bangkit bersama untuk menerapkan aturan yang sudah di tetapkan dalam Islam, sehingga terlahir generasi yang mumpuni, generasi yang tangguh yang akan membawa kepada peradaban yang Agung nan mulia.
Wallahu a' lam bi ash shawab.

No comments:
Post a Comment