Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Digitalisasi Pertanian dan Jalan Sejahtera bagi Petani dalam Pandangan Islam

Thursday, November 13, 2025 | Thursday, November 13, 2025 WIB Last Updated 2025-11-13T13:30:59Z



Oleh. Dyah Pitaloka, S.Hum.


Digitalisasi pertanian memang tampak menjanjikan bagi sebagian kecil petani yang memiliki modal dan perangkat teknologi. Namun, bagi mayoritas petani kecil, terutama petani gurem yang hidup di pedesaan, gagasan ini justru terasa jauh dari kenyataan.


Upaya Pemerintah Mengembangkan Pertanian Digital


Deputi Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leon Alpha Edison, mengungkapkan hasil “belanja masalah” yang menunjukkan bahwa banyak petani muda belum mampu menjual produk mereka secara mandiri melalui platform digital. Di sisi lain, beban logistik juga masih tinggi karena banyak koperasi daerah harus mengirim komoditas ke wilayah lain hanya untuk bisa masuk ke pasar agregator (jabar.tribunnews.com, 4-11-2025)


Sebagai solusi, pemerintah menggelar dua pelatihan strategis sekaligus: pelatihan digital marketing bagi 100 petani muda dan UMKM, serta pelatihan replikasi model rantai pasok lokal bagi perwakilan koperasi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, dengan Koperasi Al-Ittifaq dijadikan rujukan model efisiensi rantai pasok.


Langkah ini menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk memperkuat daya saing petani di era digital. Namun, jika ditelaah lebih dalam, program tersebut belum menyentuh akar permasalahan utama yang membuat petani masih sulit mencapai kesejahteraan.


Kesenjangan Digital dan Akar Masalah Petani


Digitalisasi pertanian memang tampak menjanjikan bagi sebagian kecil petani yang memiliki modal dan perangkat teknologi. Namun, bagi mayoritas petani kecil, terutama petani gurem yang hidup di pedesaan, gagasan ini justru terasa jauh dari kenyataan. Banyak di antara mereka belum memiliki lahan sendiri, modal usaha terbatas, dan akses terhadap teknologi pun sangat minim.


Bahkan, ponsel pintar dan koneksi internet yang stabil masih menjadi kemewahan bagi sebagian petani. Dalam kondisi seperti ini, pelatihan digital marketing hanya akan dirasakan manfaatnya oleh petani yang sudah relatif sejahtera, sementara petani kecil akan tertinggal semakin jauh.


Padahal, masalah utama petani bukan hanya soal kemampuan menjual hasil tani secara digital, tetapi soal kepemilikan lahan, akses modal tanpa riba, harga jual yang stabil, dan perlindungan dari tengkulak. Selama sistem ekonomi kapitalis masih mendominasi, nasib petani akan terus terpinggirkan karena negara lebih berperan sebagai fasilitator, bukan penanggung jawab kesejahteraan rakyat.


Islam dan Kewajiban Negara dalam Menyejahterakan Petani


Dalam pandangan Islam, tanggung jawab menyejahterakan petani berada sepenuhnya di tangan negara. Negara dalam sistem Islam berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyatnya, termasuk dalam bidang pertanian.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barang siapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR. Tirmidzi)


Hadis ini menunjukkan bahwa Islam mendorong rakyat untuk produktif, namun di saat yang sama, negara wajib memastikan setiap warga memiliki akses terhadap lahan dan sumber daya pertanian. Tanah tidak boleh dikuasai oleh segelintir korporasi atau dibiarkan menganggur, karena setiap jengkal tanah sejatinya adalah amanah untuk kemaslahatan umat.


Negara juga wajib menyediakan sarana dan prasarana pertanian seperti irigasi, pupuk, benih unggul, serta jaminan harga hasil panen yang adil. Tidak hanya itu, negara dalam sistem Islam bertanggung jawab melindungi petani dari praktik monopoli, riba, dan eksploitasi pasar yang sering menjerat mereka. Semua itu dilakukan bukan sekadar demi pertumbuhan ekonomi, tetapi sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab amanah kepemimpinan.


Skala Prioritas dan Pengembangan Kapasitas dalam Islam


Islam adalah agama yang memahami kapasitas manusia. Dalam mengembangkan sektor pertanian, Islam mengajarkan pentingnya tadarruj atau bertahap sesuai kemampuan. Artinya, pengembangan petani harus menyesuaikan tingkat kemampuan dan kebutuhan mereka.


Bagi petani kecil, prioritas utamanya bukanlah belajar digital marketing, melainkan memiliki lahan, modal, dan keterampilan dasar untuk mengelola tanah dengan baik. Setelah kebutuhan dasar ini terpenuhi dan kesejahteraan mulai meningkat, barulah pelatihan digital menjadi relevan.


Dengan prinsip ini, Islam tidak mendorong rakyat untuk menyesuaikan diri dengan sistem ekonomi global, tetapi mengatur agar sistem ekonomi yang ada justru menyesuaikan dengan kondisi rakyat. Negara bertugas sebagai pelindung dan penopang utama agar kesejahteraan tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang.


Solusi Hakiki: Sistem Ekonomi Islam


Selama sistem kapitalis diterapkan, petani kecil akan tetap sulit bangkit. Digitalisasi mungkin membawa kemudahan bagi sebagian pihak, tetapi tidak menyelesaikan ketimpangan yang lebih mendasar. Islam hadir dengan sistem ekonomi yang adil dan menyeluruh, di mana negara bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyatnya.


Dalam sistem Islam, negara akan memberikan kepemilikan lahan kepada yang mampu mengelolanya, menyediakan modal tanpa riba, memastikan distribusi hasil panen secara adil, dan meniadakan monopoli. Pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan bagian dari jihad ekonomi umat untuk mencapai kemandirian pangan dan keberkahan hidup.


Refleksi: Kesejahteraan sebagai Amanah


Kita hidup di negeri yang subur, di mana tanahnya mampu menumbuhkan hampir segala jenis tanaman. Namun, ironisnya, para petani yang menjadi tulang punggung bangsa justru sering hidup dalam kekurangan. Ini menjadi renungan bagi kita semua — bahwa kesejahteraan bukan sekadar hasil usaha individu, tetapi hasil dari sistem yang adil dan berpihak pada rakyat.


Islam mengajarkan bahwa keberkahan datang ketika hukum Allah ditegakkan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan pertanian. Maka sudah semestinya, kita berjuang bukan hanya untuk memperbaiki sistem pertanian, tetapi juga untuk menegakkan sistem Islam yang menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat.


Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...

(QS. Al-A’raf: 96)


Semoga momen ini menjadi refleksi bagi kita semua untuk kembali kepada sistem yang benar-benar memuliakan manusia dan menebarkan keberkahan di bumi. Wallahua'lam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update