Oleh
Renia Ningsih Razak (Pegiat Literasi)
Akhir-akhir ini kita dihebohkan kembali dengan adanya kasus bunuh diri, yang beredar di konten berita dan berbagai media sosial lainnya. Bahkan kasus bunuh diri ini terjadi bukan hanya dikalangan orang dewasa, tetapi juga telah merambah kalangan remaja dan anak-anak. Berbagai macam kasus yang membuat mereka melakukan hal tersebut, seperti adanya perundungan yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya, Tekanan mental dari teman, keluarga dan lingkungan sekitar, menjadi pemicu lain.
Dilansir dari MediaIndonesia.com ( 31/10/25), KPAI mendorong seluruh pihak untuk membangun early warning system yang efektif di sekolah dan komunitas. Anak yang menunjukkan perubahan perilaku, penurunan semangat belajar, atau tanda-tanda stres berat harus segera mendapat perhatian dan pendampingan psikologis sejak awal.
Senada itu, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan kondisi kesehatan jiwa anak-anak Indonesia menghadapi "lampu merah", tampak pada data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan.
*Akar Masalah*
Kita ketahui bahwa bunuh diri bukanlah solusi dari penyelesaian masalah yang terjadi. Bunuh diri sering dijadikan solusi karena didasari kurangnya empati orang tua terhadap anak, lingkungan yang tidak kondusif, masalah perekonomian yang makin hari makin mengkhawatirkan, serta gangguan psikologis, sehingga mereka mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Telah menjadi rahasia umum bahwa mental anak-anak saat ini sungguh sangatlah rapuh. Sebab, kurangnya bekal pembelajaran agama seperti mempelajari tentang akhlak dan akidah. Sehingga membuat anak-anak tidak kehilangan pondasi dalam mengenal jati dirinya dan arah bagi kehidupannya yaitu apa tujuan penciptaan manusia, tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah swt.
Lebih jauh lagi jika mempelajari Islam, seorang anak muslim akan paham betul tentang tiga pertanyaan mendasar dalam hidup ini, yaitu dari mana kita,untuk apa kita hidup dan akan ke mana kita?.
Dengan menjadikan islam sebagai solusi permasalahan kehidupan maka seseorang tidak akan melakukan tindakan yang diluar nalar, bahkan yang akan melanggar syariat misalnya bunuh diri karena Islam mengharamkan bunuh diri.
*Pandangan Islam*
Kita ketahui, bahwa didalam Islam sudah jelas dikatakan bahwa bunuh diri itu adalah perbuatan tercela dan tidak boleh dilakukan. Karena itu bertentangan dengan syariat islam. Didalam islam kita mempelajari tentang adab atau perilaku tentang bagaimana cara untuk mencari solusi dalam menghadapi permasalahan yang terjadi.
Peran orang tua sangat penting dalam mendidik anak-anak, memberikan pembelajaran yang berlandaskan ilmu agama sehingga anak-anak bisa memahami bahwa situasi yang terjadi tidak selamanya sesuai harapan.
Tidak kalah penting, peran guru dalam mendidik juga sangat penting, agar anak-anak dapat memahami situasi, memotivasi dalam melakukan hal positif. Sudah pasti harus dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Didukung dengan kurikulum Islam yang memadukan saintis dan tsaqofah Islam, tentunya akan melahirkan generasi berkepribadian islam. Yang juga berarti akan lahir generasi terbaik dengan mental baja, yang tidak akan rapuh dengan ujian dunia. Wallahu’alam bishowab.

No comments:
Post a Comment