Oleh: Adhim Salamiani, S.Tr.
(Aktivis Muslimah)
Tangisan Gaza kembali pecah. Pada Jumat (13/9), serangan drone Israel menghantam Rumah Sakit Al-Ahli Arab di Gaza, menewaskan sedikitnya 15 orang. Di antara korban ada jurnalis Reuters dan para paramedis yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa orang lain. Tragisnya, kejadian itu berlangsung saat siaran langsung, seakan dunia dipaksa menyaksikan bagaimana kemanusiaan diinjak-injak tanpa ampun.(Sumber: BeritaSatu, 19 September 2025)
Di tengah kepungan bom dan asap, jurnalis-jurnalis Gaza masih berdiri. Mereka mengangkat kamera, bukan hanya untuk merekam, tapi untuk bersuara. Mereka memanggil rekan-rekan jurnalis internasional datang, melihat langsung, dan menunjukkan kepada dunia apa yang sesungguhnya terjadi di Gaza. Sebuah seruan yang lahir dari keberanian di tengah rasa takut dan kehilangan. (Sumber: BBC Indonesia)
Penderitaan tidak hanya fisik, tapi juga psikologis, terutama pada wanita dan anak-anak di Gaza: trauma akibat kehilangan anggota keluarga, kehancuran rumah, kekurangan kebutuhan dasar seperti air bersih dan listrik, serta tekanan mental karena serangan yang terus-menerus. Informasi ini memperkuat bahwa dampak kekejian Zionis bukan hanya hilangnya nyawa, tapi kerusakan mendalam pada kehidupan, harapan, dan masa depan generasi mendatang.
Dunia sebenarnya sudah tahu. Semua rekaman, laporan, dan siaran langsung menjadi bukti nyata. Namun sayangnya, pengetahuan itu jarang berbuah tindakan. Kecaman hanya menjadi headline singkat, resolusi internasional dilanggar tanpa konsekuensi, sementara Amerika Serikat tetap berdiri kokoh sebagai pelindung Zionis. Gaza terus berdarah, dan dunia terus menutup mata. Lebih menyakitkan lagi, umat Islam yang jumlahnya hampir dua milyar belum mampu bersatu menghadapi kebiadaban ini. Padahal, dalam sejarah panjang peradaban Islam, penjajahan hanya bisa diakhiri dengan jihad—sebuah pengorbanan nyata, bukan sekadar doa atau diplomasi yang berakhir di meja perundingan.
Palestina bukan sekadar tanah, ia adalah amanah. Tanah itu pernah menjadi rumah bagi umat Islam, namun kini dirampas dan dipenuhi duka. Kewajiban membebaskannya bukanlah perkara baru, ia sudah ada sejak lama. Hanya saja, kesadaran akan solusi hakiki ini belum menjadi pandangan umum, bahkan di tengah umat itu sendiri. Karena itu, edukasi dan penyadaran harus terus digencarkan. Bukan untuk menambah luka, melainkan untuk menyalakan kembali semangat bahwa Gaza tidak sendirian.
Umat Islam harus tahu dan yakin bahwa membela Palestina adalah kewajiban syar’i, dan jihad fi sabilillah adalah jalan pembebasan yang sesungguhnya. Selama kita masih larut dalam narasi parsial dan solusi semu, Gaza akan terus menangis tanpa ujung. Maka tugas kita adalah mengubah tangisan itu menjadi tekad. Sudah waktunya umat menjadikan solusi syar’i sebagai opini umum, agar suara dari Gaza tidak hanya bergema, tetapi menemukan jawabannya.
Islam dengan syariatnya hadir sebagai penjaga jiwa dan kemanusiaan (hifz al-nafs) Islam menempatkan keselamatan hidup sebagai maqashid (tujuan) penting syariat — siapa pun yang ingin bertindak harus mengutamakan keselamatan warga sipil dan menghindari tindakan yang memperburuk penderitaan. Yang terjadi di Gaza bukan lagi tindakan yang membahayakan satu orang namun membahayakan generasi dan keseluruhan penduduk Gaza, tentu sebagai umat muslim kita harus bertindak untuk menyampaikan ke seluruh dunia untuk bertindak dan berhenti berharap pada solusi diplomatis yang tak kunjung menemukan ujungnya.
Palestina adalah tanah umat Islam yang dirampas. Pembebasan tanah tersebut membutuhkan jihad, dan kewajiban jihad telah ada sejak dulu.Akan tetapi jihad saat ini hanya menjadi seruan perorangan atau organisasi tertentu, yang mana itu tak akan mampu mengimbangi kekuatan sekala negara bahkan negara adidaya yang menjadi backingan zionis.sudah sepatutnya seruan jihad diberikan oleh negara-negara muslim dengan mengerahkan tentara skala negara sehingga kekuatan dari negara zionis mampu diimbangi bahkan dihentikan.Tidak cukup sampai di situ, butuh institusi yang bisa mencegah adanya pendudukan terhadap Gaza atau wilayah-wilayah muslim yang lain memalui kewibawaan dan otoritasnya. Dan sudah saatnya umat menyerahkan tanggungjawab pada kepemimpinan Islam dalam usaha menghentikan penindasan di Gaza. Wallahu'alam bis showab

No comments:
Post a Comment