Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Pekerjaan Hanya Soal Bertahan Hidup

Tuesday, October 14, 2025 | Tuesday, October 14, 2025 WIB Last Updated 2025-10-14T03:31:23Z

 


Oleh. Ummu Hamizan (Praktisi Pendidikan)

AKHIR-akhir ini istilah job hugging makin sering dibahas. Fenomena ini menggambarkan orang-orang yang tetap bertahan di pekerjaannya meskipun sudah kehilangan semangat dan rasa cinta pada apa yang mereka kerjakan. Alasannya sederhana: takut kehilangan penghasilan. Dengan ekonomi yang makin lesu dan angka PHK yang terus naik, banyak orang akhirnya memilih “asal kerja daripada nganggur.”


Job Hugging Akibat Kapitalisme

Dilansir dari kompas.com, guru besar dari Universitas Gadjah Mada menyebut job hugging muncul karena ketidakpastian pasar kerja. Para lulusan perguruan tinggi, yang dulu punya semangat besar untuk berkarier sesuai passion, kini justru terjebak di pekerjaan yang tidak mereka sukai. Semua demi satu hal: keamanan finansial. Hidup rasanya seperti di mode bertahan, bukan berkembang.


Tapi sebenarnya, fenomena ini bukan sekadar masalah individu. Ia adalah cermin dari sistem ekonomi global yang sedang sakit. Kapitalisme yang selama ini mengatur arah ekonomi dunia terbukti gagal menjamin pekerjaan yang layak bagi rakyat. Negara lebih sibuk menyesuaikan diri dengan pasar daripada benar-benar menjamin kesejahteraan warganya.


Ketika sektor swasta mengambil alih peran negara dalam membuka lapangan kerja, logika keuntungan otomatis menjadi ukuran utama. Selama bisa menghasilkan profit, perusahaan jalan terus. Tapi kalau tidak, pekerja yang tak lagi dianggap produktif langsung terpinggirkan. Akibatnya, rasa aman dalam bekerja makin menipis.


Parahnya lagi, sumber daya alam yang seharusnya dikelola untuk kemakmuran rakyat justru dikuasai oleh segelintir pemodal besar. Ekonomi non-riil yang berbasis bunga dan spekulasi semakin mendominasi. Akibatnya, sektor riil seperti industri dan pertanian yang bisa menyerap banyak tenaga kerja justru jalan di tempat.


Sementara itu, dunia pendidikan pun diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, bukan kebutuhan manusia. Mahasiswa disiapkan menjadi tenaga yang “siap pakai”, tapi ketika dunia kerja sendiri penuh ketidakpastian, semua idealisme akhirnya dikorbankan. Kurikulum mungkin adaptif, tapi sistemnya tetap membuat negara lepas tangan dari kewajiban memastikan rakyat bisa bekerja.


Lapangan Kerja Adalah Tanggung Jawab Negara

Padahal, kalau ditarik ke prinsip dasarnya, negara seharusnya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam mengurus rakyat. Termasuk soal pekerjaan. Negara harus aktif mengelola sumber daya, membuka industri, menyediakan lahan produktif, serta membantu modal dan keterampilan bagi warganya yang membutuhkan. Bukan sekadar menunggu “pasar” menciptakan lapangan kerja.


Dalam pandangan Islam, bekerja bukan hanya soal gaji dan karier. Bekerja adalah bagian dari ibadah. Karena itu, pendidikan dan pekerjaan seharusnya dibingkai oleh nilai iman. Ketika seseorang bekerja dengan kesadaran spiritual, dia tidak hanya mengejar angka di slip gaji, tapi juga keberkahan dalam hidupnya.


Begitu pula negara. Kepemimpinan yang berpihak pada rakyat akan melayani urusan masyarakatnya dengan dorongan ibadah, bukan sekadar formalitas. Negara hadir karena tanggung jawab, bukan karena pencitraan. Dengan cara itu, masyarakat bisa hidup produktif tanpa harus terjebak dalam rasa takut kehilangan pekerjaan.


Kesimpulan

Fenomena job hugging seharusnya jadi alarm bersama bahwa sistem ekonomi yang ada sekarang sudah tidak manusiawi. Banyak orang bekerja tanpa bahagia, hanya demi bertahan hidup. Mungkin sudah waktunya kita membayangkan kembali bentuk kepemimpinan dan sistem ekonomi yang benar-benar berkeadilan yang menempatkan manusia, bukan keuntungan, sebagai pusat dari segalanya. Karena sejatinya, pekerjaan seharusnya memberi makna, bukan sekadar membuat kita lelah setiap hari. Wallahua'lam bissawwab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update