Oleh : Rani (Pegiat Literasi)
Tuntutan massa Generasi Z (Gen Z) dalam demo Maroko memuncak dalam daftar pemberitaan global hari ini. Di tengah gelombang protes dan solidaritas, muncul pula sebuah gerakan kemanusiaan yang digagas oleh Gen Z, Global Sumud Flotilla (GSF). Gerakan ini menjadi harapan banyak orang untuk membawa bantuan ke Gaza yang tengah terpuruk akibat kekejaman Zionis Israel.
Sebanyak 44 kapal yang memuat sekitar 500 orang dari seluruh dunia berlayar menembus perairan internasional untuk mengirimkan bantuan dan menunjukkan solidaritas. Ketika kapal-kapal mulai mendekati perairan Gaza, beberapa kapal dicegat oleh pihak Israel pada Kamis pagi, 2 Oktober 2025 (laporan BBC, 3 Oktober 2025). Penumpang kapal pun ditahan, termasuk tokoh publik seperti Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia.
Kementerian Luar Negeri Israel memberi alasan bahwa tidak mengizinkan kapal manapun mendekati perairan yang mereka sebut sebagai zona pertempuran aktif. Pihak Israel menyatakan kapal-kapal itu bukanlah bantuan kemanusiaan semata, melainkan provokator yang melayani agenda kelompok bersenjata. Argumen ini mendapat penolakan luas dari komunitas internasional yang menuntut transparansi, perlindungan bagi misi kemanusiaan, dan akses yang aman bagi bantuan.
Pencegatan dan penahanan awak serta penumpang kapal membuka mata dunia dan memicu kecaman keras terhadap tindakan yang dipandang sewenang-wenang. Apresiasi luar biasa patut diberikan kepada Gen Z yang berani turun tangan bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku solidaritas aktif. Generasi muda ini menunjukkan sikap kritis terhadap ketidakadilan dan keberanian untuk bergerak demi kemanusiaan.
Mengapa Two-State Solution Gagal
Dalam pertemuan KTT PBB pada 23 September 2025, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya soal solusi dua negara (two-state solution). Bagi banyak pihak, termasuk sebagian besar umat Muslim dan pendukung hak asasi Palestina, pernyataan semacam itu menimbulkan luka dan kekecewaan. Sebab, dalam praktiknya, skema two-state justru berisiko melegitimasi penguasaan wilayah yang timpang: rezim penjajah mendapat wilayah subur dan akses laut, sementara rakyat Palestina terperangkap pada sisa wilayah yang terfragmentasi dan rentan.
Sejarah panjang pendudukan dan pengusiran membuat persoalan Palestina lebih kompleks daripada sekadar pembagian batas administratif. Warga Gaza dan penduduk Syam telah mendiami tanah tersebut sejak berabad-abad silam, jauh sebelum hadirnya proyek kolonial modern yang menempatkan hak dan kepemilikan secara tidak adil.
Inilah akar kegagalan Two-State Solution: ia tidak menyentuh keadilan sejarah, tidak menghapus penjajahan, dan tidak memulihkan hak rakyat Palestina. Solusi ini justru menormalisasi kejahatan pendudukan, mengabadikan ketimpangan, serta memaksa rakyat Palestina menerima realitas yang bukan hasil dari pilihan bebas, tetapi dari kekerasan dan paksaan politik global.
Dunia membutuhkan keberanian untuk berkata: tidak ada perdamaian dalam penindasan. Palestina bukan sekadar "masalah dua negara"; ia merupakan persoalan penjajahan, pemulihan hak, dan kebebasan yang menuntut solusi adil yang menghormati hak rakyat Palestina atas tanah, hak kembali, keselamatan, dan martabat mereka.
Solusi Jalan Keadilan yang Sejati
Gen Z dan umat yang berempati harus menolak bentuk-bentuk solusi yang melembagakan ketidakadilan dan mengabadikan ketimpangan. Namun, penolakan itu harus diikuti dengan arah perjuangan yang jelas dan sah. Langkah nyata dapat dimulai dengan memperkuat advokasi internasional, menekan melalui jalur diplomatik, menggalang bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta mendorong mekanisme hukum internasional agar pelaku kejahatan perang dimintai pertanggungjawaban.
Gerakan damai seperti boikot, desinvestasi, dan sanksi (BDS) juga harus diperluas dan disinergikan dengan gerakan budaya serta digital yang digerakkan oleh Gen Z di berbagai negara. Pendidikan publik dan kampanye literasi tentang Palestina perlu diperkuat agar dunia memahami bahwa perjuangan ini bukan konflik agama semata, melainkan perjuangan kemanusiaan universal melawan kolonialisme modern.
Umat beriman dan warga dunia yang peduli mesti meninggalkan cara-cara kekerasan yang menjerumuskan dan menggantinya dengan strategi solidaritas sipil, diplomasi rakyat, dan gerakan kemanusiaan global. Pembebasan Palestina hanya akan bertahan jika dibangun atas dasar keadilan, pemulihan hak, dan dukungan internasional yang konsisten bukan sekadar kompromi politik yang menipu.
Menolak Two-State Solution bukan berarti menolak perdamaian, melainkan menolak perdamaian palsu yang melanggengkan ketidakadilan. Perdamaian sejati hanya akan lahir bila hak rakyat Palestina diakui penuh, tanah mereka dikembalikan, dan kebebasan mereka dijamin tanpa syarat.
Gen Z telah menunjukkan bahwa keberanian dan kreativitas politik bisa lahir dari generasi muda. Sekarang saatnya mengubah keberanian itu menjadi strategi yang efektif dengan terus mendesak negara dan organisasi internasional membuka koridor kemanusiaan, menghukum pelanggaran hak asasi, serta memperjuangkan solusi yang benar-benar memulihkan hak rakyat Palestina. Wallahu'alam

No comments:
Post a Comment