Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Di Balik Lonjakan HIV: Cermin Krisis Moral Remaja

Tuesday, October 14, 2025 | Tuesday, October 14, 2025 WIB Last Updated 2025-10-14T03:13:38Z

 


Oleh: Nurul Safia Rianti, MPd. (Relawan Opini)

Kasus HIV di Indonesia semakin mencemaskan karena meningkat dengan cepat. Data terbaru menunjukkan bahwa di salah satu provinsi, yakni Sulawesi Tenggara, tercatat sekitar 2.900 kasus yang tersebar di 17 kabupaten/kota (metrokendari.com, 30/9/2025). Indonesia kini menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV, peringkat ke-9 untuk infeksi baru, dan diperkirakan sekitar 564.000 orang hidup dengan HIV (ODHIV), dengan 63% baru mengetahui statusnya pada tahun 2025.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI tahun 2025, sebagian besar pengidap HIV berada pada usia produktif. Kasus pada usia 15–19 tahun meningkat hingga 2.700 kasus baru per Maret 2025. Kelompok usia 20–24 tahun menyumbang 18,1% kasus pada 2023, dan puncaknya terjadi pada usia 25–49 tahun, mencapai 64% kasus di tahun yang sama.

dr. Ina Agustina, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, menyampaikan bahwa penyebaran HIV secara nasional banyak terjadi di populasi kunci, seperti laki-laki dengan seks sesama jenis, waria, pekerja seks perempuan, dan pengguna napza suntik (kemkes.go.id).

Peningkatan kasus HIV khususnya di kalangan remaja, tidak terlepas dari kurangnya pengetahuan tentang bahaya seks bebas dan penggunaan narkoba suntik. Banyak remaja yang belum memahami cara penularan dan pencegahan HIV. Sikap permisif terhadap seks bebas sebagai bentuk kasih sayang atau keseruan turut memperparah keadaan, apalagi di era digital yang memberikan akses mudah terhadap konten dan perilaku menyimpang.

Akibatnya, lahirlah tatanan kehidupan yang rusak. Aturan hidup yang bersumber dari ideologi liberal dan sekuler gagal menuntaskan masalah manusia, justru melahirkan masalah baru. Pandangan hidup liberal menjadikan "kebebasan tanpa batas” sebagai nilai utama, termasuk dalam hal perilaku seksual. Inilah buah dari sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Dari sinilah muncul liberalisasi seksual, yang membuat siapa pun bebas melakukan perilaku menyimpang dan bahkan mendapatkan perlindungan hukum.

Negara perlu mengambil peran tegas dalam menghentikan akar penyebab penularan HIV, bukan hanya mengobati dampaknya. Namun, ketika konsep kebebasan pribadi dijadikan standar, maka sulit membendung praktik seks bebas dan hubungan sesama jenis yang menjadi salah satu jalur utama penularan HIV.

Islam memandang manusia bukan hanya dari sisi biologis, tetapi juga spiritual dan moral. Solusi untuk menekan penyebaran HIV haruslah menyentuh akar moral dan sistem kehidupan. Dalam Islam, kebebasan dibingkai oleh ketaatan kepada Allah, bukan hawa nafsu. Ada beberapa poin yang dilakukan Islam untuk mengatasi kasus HIV ini.

Pertama, pendidikan berbasis akidah menjadi kunci utama. Remaja perlu dikenalkan dengan nilai-nilai Islam sejak dini agar memahami makna kehormatan diri, batas pergaulan, dan larangan zina. Pendidikan yang menanamkan kesadaran iman akan membentuk benteng moral yang kokoh, sehingga mereka mampu menolak arus budaya liberal yang menormalisasi perilaku bebas.

Kedua, penegakan hukum syariah harus menjadi langkah nyata dalam menjaga masyarakat dari perilaku menyimpang. Negara tidak cukup hanya mengedukasi, tetapi juga wajib menindak tegas pelaku penyimpangan seksual serta menghapus legalisasi terhadap perilaku yang menormalisasi dosa. Syariat Islam hadir bukan untuk mengekang, tetapi untuk melindungi kehormatan manusia dan menjaga kebersihan masyarakat dari kerusakan moral.

Ketiga, perlu dibangun lingkungan sosial yang sehat melalui budaya amar makruf nahi mungkar. Masyarakat harus saling menasihati dalam kebaikan, bukan permisif terhadap kemaksiatan. Ketika masyarakat bersama-sama menjaga norma dan adab, maka ruang bagi penyimpangan akan tersingkirkan.

Sistem hidup yang akan menjaga kesucian di tengah masyarakat dengan membatasi hubungan seksual hanya melalui pernikahan, serta menerapkan sistem sosial yang menjauhkan laki-laki dan perempuan dari pandangan seksual. Sistem hidup yang seperti demikian hanyalah ada pada sistem Islam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update