Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ambruknya Pondok Pesantren Bukti Kelalaian Negara.

Sunday, October 12, 2025 | Sunday, October 12, 2025 WIB Last Updated 2025-10-12T03:37:08Z

 


Oleh : Dartem 


Berdasarkan data BNPB, korban tewas akibat ambruknya pondok pesantren Al khoziny, kabupaten Sidoarjo Jawa Timur sebanyak 37 orang. Tim gabungan telah menemukan 12 jenazah dan satu potongan tubuh manusia di reruntuhan bangunan mushola pada pukul 06.30 WIB sampai 12.00 WIB.


Dengan bertambahnya satu potongan jenazah, Mayjen TNI Budi Irawan (Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB) menduga, masih ada sekitar 26 orang yang tertimbun reruntuhan. Namun data itu belum valid hingga proses evakuasi bangunan rata dengan tanah. Ini adalah data dari pondok pesantren, dan akan jelas jika proses evakuasi selesai, detikNews.com, Minggu ( 05 Okt 2025)


Warga digegerkan dengan musibah yang terjadi di pondok pesantren Al khoziny akibat bangunan yang ambruk. satu pondok pesantren yang ambruk, namun berbagai pondok pesantren dan warga merasakan kesedihan yang mendalam. Mereka ada yang baru saja masuk pondok, namun takdir berkata lain, mereka justru mendapatkan musibah yang tidak terduga sebelumnya.

Adapun penyebab ambruknya pondok pesantren disinyalir akibat konstruksi bangunan yang tidak memadai, bukan semata-mata karena takdir. Karena ada kesalahan dalam proses pembangunan pondok itu sendiri. 


Setelah ditelusuri ternyata pondok itu dibangun oleh para santri sebagai pekerjanya. Begitupun dengan dana atau anggarannya adalah dari para donatur para wali santri. Sedangkan dari hasil donatur para wali santri jumlahnya terbatas atau tidak mencukupi. Sehingga, bisa jadi kesediaan material bangunan yang kurang mengakibatkan konstruksi bangunan menjadi kurang maksimal.


Adapun tentang kejadian santri yang ikut bekerja hingga ngecor untuk membangun mushola adalah tidak dibenarkan. Karena pada dasarnya, pembangunan sarana pendidikan adalah tanggungjawab negara, bukan peserta didik. Dari situ bisa dilihat bahwa negara tidak memahami tupoksinya sebagai pengurus rakyat. Negara lepas tangan dalam mengurusi urusan pendidikan khususnya pesantren, pengadaan fasilitas pendidikan justru dibebankan kepada masyarakat. Sesungguhnya, itulah watak dari sistem demokrasi kapitalisme yang dianut oleh negara. Berbagai musibah yang terjadi merupakan imbas dari penerapan sistem buruk saat ini. 


Berbanding terbalik dengan Islam, Islam menjamin ketersediaan sarana dan prasarana bukan hanya masalah pendidikan, tapi juga masalah kesehatan, keamanan dan kesejahteraan rakyat. Negara akan betul-betul memprioritaskan kepentingan rakyat dengan penuh tanggungjawab.


Negara dalam sistem Islam sangat peduli dengan generasi muda sebagai tonggak perubahan. Biaya pendidikan dalam Islam itu murah bahkan bisa gratis, sehingga sangat mudah dijangkau oleh seluruh kalangan masyarakat. Semua anggaran untuk fasilitas pendidikan memang sangat besar yang dikeluarkan dari Baitul mal. Baitul mal adalah pos penyimpanan harta kepemilikan umum yang selanjutnya akan disalurkan kepada rakyat.


Jadi, untuk mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi pun akan terasa ringan dan tidak terbebani dengan biaya yang mahal. Semua fasilitas pendidikan ditanggung oleh negara sebagai raa'in. Tidak membedakan antara pendidikan swasta atau negeri, semua diperhatikan dengan baik sesuai tuntunan syari'at. Itulah sejatinya tugas dan kewajiban negara dalam mengurus rakyatnya, bukan hanya terkait pendidikan, tapi dalam semua aspek kehidupan. 


Wallahu a'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update