Oleh; Kursiyah Azis ( Penulis dan Aktivis Muslimah)
Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Khususnya dunia pekerjaan, bagaimana tidak. Para pekerja yang notabenenya berfungsi sebagai penggerak roda ekonomi, kini sedang digiring menuju jurang pengangguran massal. Krisis global lapangan kerja bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan pahit yang kian menjerat dan menghantui generasi muda.
Para korporasi raksasa dengan mudah menekan tombol PHK tanpa menaruh kepedulian meskipun hanya secuil, sementara negara sibuk mengobral janji tanpa solusi nyata. Di tengah arus otomatisasi dan kesenjangan ekonomi, manusia justru tersingkir dari roda produksi. Inilah wajah dunia yang kian brutal. Pekerjaan semakin sedikit, pengangguran semakin meluas, sementara generasi muda dipaksa bertarung dalam sistem yang sejatinya tidak berpihak kepada mereka. Sistem Sekuler telah berhasil merampas kesempatan generasi muda dalam berkarya.
Mengutip dari CNBC. Com (39/08/2025) Bahwa Pasar Tenaga Kerja Global kini tengah menghantui Anak Muda. Angka pengangguran anak muda masih tinggi. Laporan ILO menyebut bahwa di tahun 2023, tingkat pengangguran bagi usia muda (15-24 tahun) turun menjadi sekitar 13%, angka terendah dalam 15 tahun terakhir. Namun, penurunan ini belum merata, beberapa wilayah seperti Asia Timur, Asia Tenggara dan Pasifik, serta Negara Arab masih memiliki tingkat pengangguran anak muda yang masih tergolong tinggi.
Sekitar 20-21% populasi muda global masuk dalam kategori NEET pada 2023. Artinya, meskipun pengangguran turun, banyak yang masih “tertinggal” karena tidak bekerja, tidak belajar, dan tidak mengikuti pelatihan. Golongan Wanita muda lebih terdampak, sebab proporsi wanita muda NEET jauh lebih tinggi dibanding pria. Selain itu kualitas buruknya pekerjaan untuk anak muda turut memengaruhi. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya pekerjaan untuk anak muda bersifat informal, sementara kesempatan kerja formal & layak relatif terbatas. Upah dan keamanan kerja pun cenderung lebih rendah dibanding para pekerja dewasa.
Terjadinya krisis global lapangan kerja juga dipengaruhi hadirnya Teknologi (AI, otomatisasi) dampak nyata menyasar anak muda, terutama di sektor teknologi. Bagaimana tidak, dibalik hadirnya kecanggihan teknologi tersebut banyak perusahaan yang merasakan tekanan, yakni perekrutan untuk posisi entry/junior melambat, beberapa tugas mulai digantikan oleh AI atau otomatisasi. Hal inilah yang memicu munculnya harapan sekaligus kekhawatiran generasi muda
Banyak yang merasa pasar tenaga kerja sulit, meskipun ekonomi terlihat “aktif.” selain itu Banyak pula di antara mereka justru khawatir tentang resesi dan dampaknya terhadap prospek kerja mereka.
*Krisis Global Lapangan Kerja: Buah Busuk Kapitalisme*
Dunia hari ini tengah diguncang gelombang krisis lapangan kerja. Jutaan orang di berbagai belahan dunia kehilangan mata pencaharian, sementara mereka yang masih bekerja pun terjebak dalam ketidakpastian kontrak, Ditambah dengan kebijakan gaji rendah, disertai jam kerja panjang. Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil langsung dari sistem kapitalisme global yang rakus dan tidak manusiawi.
Dalam sistem kapitalis sekuler, efisiensi dan keuntungan di atas segalanya. Meskipun otomatisasi, robot, dan kecerdasan buatan terbukti dapat meningkatkan produktivitas, tetapi pada ujungnya keuntungan itu tidak akan pernah kembali kepada para pekerja. Mesin telah menggantikan posisi manusia, hingga terciptalah perusahaan yang semakin kaya dan pekerja semakin miskin. Ketimpangan ini nyata adanya. Selain itu globalisasi pun ikut memperparah jurang ketimpangan. Perusahaan multinasional dengan mudah memindahkan pabrik ke negara dengan upah murah, tanpa peduli nasib pekerja di negara asal maupun eksploitasi di negara tujuan. Alhasil, pekerja di dua sisi dunia sama-sama terjepit, yang satu kehilangan kerja, sementara yang lain bekerja dengan upah seadanya.
Demikianlah ketika krisis lapangan kerja terus terjadi, maka ketidakadilan struktural akan semakin meluas. Padahal biaya pendidikan semakin mahal, ditambah akses yang terbatas, lalu pada akhirnya membuat jutaan lulusan muda menjadi “pengangguran intelektual.” Mereka terjebak dalam lingkaran yang tidak manusiawi. Dipaksa keadaan dengan bekerja di sektor yang tidak sesuai, dan di bayar dengan upah sekadar bertahan hidup, sementara biaya hidup terus melonjak.
Sistem kapitalisme telah gagal memberikan jaminan sosial yang layak. PHK massal dianggap normal, kontrak kerja fleksibel dianggap sebagai solusi, padahal semua itu hanya kamuflase untuk melanggengkan ketidakpastian. Pekerja diperas, lalu dibuang ketika tidak lagi menguntungkan.
Olehnya itu, maka krisis lapangan kerja global yang tengah mengintai generasi muda hari ini adalah wajah nyata kegagalan kapitalisme dalam menyejahterakan manusia. Selama dunia masih tunduk pada logika pasar dan akumulasi keuntungan segelintir elit, krisis ini tidak akan berakhir, bahkan bisa jadi akan semakin menjadi.
*Sistem Islam Menghapus Krisis Lapangan Kerja*
Dalam pandangan Islam, krisis lapangan kerja bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga akibat dari sistem yang tidak berpihak pada manusia. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh karena berangkat dari akidah dan aturan syariah. Beberapa solusi Islam terkait krisis lapangan kerja antara lain, Pertama; Menjamin Kebutuhan Pokok Setiap Individu. Dalam sistem Islam (Khilafah), negara wajib memastikan setiap rakyat mendapatkan kebutuhan dasar: pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Dengan ini, rakyat tidak dipaksa bekerja hanya demi bertahan hidup, melainkan bisa memilih pekerjaan sesuai kemampuan dan kebutuhan. Kedua; Menghapuskan Riba dan Kapitalisme Eksploitatif.
Krisis kerja banyak muncul akibat sistem ekonomi kapitalis, korporasi besar menguasai sumber daya, sementara rakyat kecil kehilangan akses. Islam melarang riba, monopoli, dan penimbunan. Sumber daya alam dikelola negara untuk kepentingan rakyat, sehingga membuka banyak lapangan kerja produktif. Ketiga; Negara memastikan distribusi Kekayaan yang Adil
Islam melarang segelintir orang menguasai harta. Zakat, kharaj, jizyah, dan fai’ menjadi instrumen distribusi kekayaan. Dengan distribusi adil, roda ekonomi berputar, permintaan meningkat, sehingga lapangan kerja otomatis tumbuh. Dan yang Ke empat; Pengelolaan Sumber Daya Alam oleh Negara
Islam menetapkan SDA strategis seperti tambang, hutan, energi, dan air sebagai milik umum. Negara mengelolanya, hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Dari sini terbuka luas kesempatan kerja dalam skala besar.
Dengan demikian, jika Sistem Islam yang diterapkan untuk mengatur kehidupan maka Krisis Lapangan Kerja tidak akan terjadi sebab Islam bukan sekadar “menciptakan lapangan kerja”, tetapi membangun sistem ekonomi-politik yang memastikan setiap orang mendapat kesempatan, sementara negara menjamin kebutuhan dasar. Dengan ini, krisis lapangan kerja bisa diatasi secara mendasar. Wallahu alam.

No comments:
Post a Comment