Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kreatifitas Gen-Z Potensi Besar Kebangkitan Umat

Saturday, September 13, 2025 | Saturday, September 13, 2025 WIB Last Updated 2025-09-13T06:40:06Z

 


Oleh : Enung Nurhayati

Aksi demonstrasi, unjuk rasa, hingga berbagai aspirasi yang ramai disuarakan masyarakat di media sosial belakangan ini mencerminkan cara generasi Z (Gen Z) merespons tekanan. Mulai dari dari tuntutan penurunan kebutuhan pokok, perbaikan akses pendidikan, penyediaan lapangan kerja yang layak hingga protes terhadap korupsi dan buruknya layanan publik sementara pungutan pajak dalam setiap aspek terus membebani rakyat. Tekanan hidup yang berat yang dialami oleh rakyat kebanyakan serta menyaksikan gaya hidup hedon para pejabat publik dan keluarganya tentu ini menyulut rasa ketidakadilan dalam benak generasi, sehingga terjadi akumulasi kekecewaan membuat ribuan warga dari semua kalangan termasuk Gen Z turun ke jalan untuk menyuarakan keluhan. Sementara di dunia maya, gaungnya semakin kuat melalui kreatifitas Gen Z dalam bentuk mem, narasi digital hingga poster visual.

Mengamati hal tersebut menurut Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, menilai kreatif Gen Z tersebut sebagai reaksi adaftif positif karena mereka dinilai mampu bersuara tanpa melakukan tindakan destruktif, Gen Z memilih berbicara dengan cara khas mereka, yakni menggunakan media sosial, meme, poster kreatif, hingga estetika visual. Mereka berbicara tanpa harus membakar fasilitas publik.

Pendapat lain, Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menyoroti fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang ikut aksi demonstrasi. Menurutnya, meskipun demo bisa jadi ajang belajar menyampaikan pendapat, remaja rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang. Hal ini menunjukkan bahwa demontrasi bukan hanya ruang ekspreasi tapi juga rawan resiko.

Menganalisa dua pendapat para ahli di atas, ada hal yang sering terabaikan. Pengklasifikasian karakteristik generasi (Gen-Z), sejatinya lahir dari kerangka kapitalisne yang cenderung mereduksi kesadaran politik. Kreatifitas gen Z ini dilabeli kreatif, digital, cinta kebebasan namun emosional dan haus pengakuan lalu diarahkan agar nyaman mengekspresikan diri dalam ranah personal dan kultural, bukan struktural dan politis. Fokusnya dibatasi pada menjaga identitas, citra dan emosi mereka sekaligus meminimalkan eskalasi konflik.

Padahal, karakteristik manusia sejak awal penciptaannya memiliki naluri baqa dalam menolak kezaliman dan membutuhkan solusi yang menolak kedzoliman dan menginginkan kehidupan yang adil.

Demontrasi bukan sekedar gaya komunikasi khas gen Z, tetapi merupakan perwujudan dari fitrah manusia yang tidak rela ditindas. Keresahan soal harga pangan, pendidikan, lapangan kerja, besarnya pajak yang dipungut, sulitnya lapangan kerja hingga korupsi berakar dari dorongan untuk bebas dari kedzoliman sistem. Karena itu, analisis psikologi yang berhenti pada prilaku generasi menjadi dangkal. Menyebut demo sekedar ekspresi atau ajang belajar, justru menutup fakta bahwa kapitalisme liberal adalah sumber krisis. Narasi psikologis semacam ini malah bisa melanggengkan ketidakadilan. Tuntutan yang disuarakan masyarakat termasuk Gen Z semestinya tidak berhenti pada isu-isu pragmatis semata. Mereka membutuhkan solusi fundamental yang benar-benar menghilangkan akar kedzoliman. Artinya kesadaran politik harus dibangkitkan bukan diredam dengan narasi psikologis. Generasi muda justru perlu diarahkan untuk memahami bahwa keresahan mereka hanya terwujud melalui perubahan sistem yang menata kembali cara negara mengelola urusan rakyat.

Jika dilihat dari kacamata Islam, manusia sejak awal penciptaannya memiliki khasiatul-insan atau karakteristik kemanusiaan yang harus mendapatkan pemenuhan berdasarkan tuntunan syarak, bukan tuntunan psikologi. Fitrah itu mencakup naluri mempertahankan diri (baqo), kebutuhan untuk beragama (tadayyun) serta kebutuhan untuk melestarikan keturunan (na’u). Ketika ketiga naluri ini dipenuhi dengan syariat, manusia tidak hanya akan bereaksi spontan terhadap tekanan, tetapi juga akan menentukan arah perjuangan yang benar untuk menghapus kedzoliman.

Islam juga memberikan mekanisme yang jelas dalam menghadapi penguasa yang dzolim melalui muhasabah lil hukkam atau mengoreksi penguasa dengan mekanisme yang sama dari sejak Rasulullah saw (QS An-Nahl: 125) (Hadis: Pemimpin para syuhadā’ adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.") Potensi pemuda sejak masa Rasulullah Saw, sebagai garda terdepan dalam melakukan perubahan secara hakiki (taghyir) dengan dawah dan perjuangan. Mereka tidak sekedar bereaksi terhadap situasi, tetapi bergerak dalam kerangka dawah yang jelas dipandu oleh wahyu dan diarahkan pada perubahan sistemik menuju tegaknya Islam kaaffah. Dengan kata lain para pemuda dalam Islam bukan dibatasi pada ekspresi kreatif atau tren digital semata melainkan harus diarahkan untuk membangun kesadaran politik yang sejati yang akan mengantarkan para perubahan sistem yang adil.

Jika demikian, apa yang kita lihat hari ini adalah demontrasi di jalan dan kreatifutas digital di dunia maya harus difahami sebagai potensi besar yang perlu dituntun oleh Islam. Tanpa arahan syariat Islam, potensi itu hanya akan berhenti pada ruang ekspresi sesaat. Bahkan bisa dimanipulasi oleh sistem kapitalisme untuk meredam kesadaran politik yang hakiki.

Tetapi ketika diarahkan oleh Islam, keresahan rakyat dan keberanian pemuda akan menjadi kekuatan yang menghapus kedzoliman hingga ke akar-akarnya. Sebagaimana pernah dibuktikan oleh generasi Sahabat Rasululloh Saw dalam sejarah, hingga Islam teguh sebagai sebuah peradaban di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Wallohu alam bishowab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update