Oleh Rumaisha
Pejuang Literasi
Tangisan anak-anak Gaza kembali pecah di antara reruntuhan bangunan. Tubuh kecil mereka berlumuran debu dan darah, sementara orang tua mereka hanya bisa meratap tak berdaya. Setiap hari, berita duka datang silih berganti dari bumi para syuhada itu. Gaza seakan menjadi panggung penderitaan yang tak kunjung usai. Zionis terus menebar kebiadaban, dan dunia lagi-lagi hanya bisa menatap dengan pilu.
Lebih menyakitkan lagi, di tengah penderitaan rakyat Gaza, muncul dukungan politik dari pemimpin dunia semisal Donald Trump yang mendorong Zionis segera mengambil alih Gaza. Dukungan semacam ini bukan hanya memperpanjang derita, tapi juga menjadi “lampu hijau” bagi Zionis untuk terus melancarkan agresi. Inilah wajah nyata dunia kapitalis: rela menukar darah manusia dengan kepentingan politik.
Namun, di sisi lain, simpati kemanusiaan dunia masih ada. Banyak negara, lembaga, hingga individu menggalang dana dan mengirimkan logistik. Bahkan misi kemanusiaan Gaza Sumud Flotilla kembali diorganisir, melibatkan aktivis dari berbagai negara. Fakta ini menunjukkan kejahatan Zionis sudah melampaui batas toleransi kemanusiaan. Dunia mulai gerah, meski respon mereka masih sebatas langkah-langkah kemanusiaan.
Pertanyaannya, apakah semua itu cukup? Sejarah telah membuktikan, penjajah tidak akan berhenti hanya dengan desakan moral atau bantuan kemanusiaan. Selama Zionis mendapat dukungan politik dan militer dari Barat, tragedi Gaza akan terus berulang. Artinya, persoalan Gaza bukan semata krisis kemanusiaan, melainkan masalah politik yang butuh solusi politik pula.
Kita bisa belajar dari sejarah. Al-Quds dan Palestina pernah berada dalam lindungan Daulah Khilafah Islamiyah selama berabad-abad. Selama itu pula, kehormatan umat terjaga. Bahkan, ketika Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi memimpin, Palestina terbebas dari cengkeraman penjajah. Fakta sejarah ini menjadi saksi, hanya kekuatan politik Islam yang mampu melindungi Palestina secara tuntas. Bukan sekadar bantuan sesaat, tapi solusi hakiki yang menyelesaikan masalah hingga ke akar-akarnya.
Allah Swt. telah menegaskan dalam firman-Nya:
"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu'" (QS. An-Nisa' [4]: 75)
Ayat ini begitu jelas memanggil kaum Muslim untuk membela saudara-saudara mereka yang tertindas. Seruan ini bukan hanya berupa simpati, melainkan kewajiban nyata untuk memberikan perlindungan.
Karena itu, derita Gaza seharusnya menjadi alarm keras bagi umat Islam. Kita tidak boleh berhenti pada simpati atau sekadar donasi. Kesadaran umat harus meningkat, bahwa Palestina adalah bagian dari tubuh umat Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan kaum mukmin dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelembutan di antara mereka bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan, sakitnya Gaza adalah sakitnya umat Islam di seluruh dunia. Maka, umat membutuhkan solusi hakiki yaitu jihad fii sabilillah dan khilafah yang akan menyatukan potensi politik, militer, dan ekonomi dalam satu kepemimpinan yang diwariskan oleh Rasulullah saw.
Saat Gaza makin menderita, seharusnya kesadaran umat makin menyala. Bantuan kemanusiaan memang penting, doa pun harus terus dipanjatkan. Tetapi, PR yang mendesak saat ini adalah menghadirkan kembali khilafah sebagai pelindung umat dan pembebas Palestina. Tanpa itu, Gaza akan terus berdarah, dan umat hanya akan terus mengulang siklus simpati tanpa solusi.
Hari ini dunia boleh saja berusaha, tetapi tanggung jawab terbesar ada pada umat Islam. Jika kita benar-benar mencintai saudara kita di Gaza, maka kita wajib memperjuangkan solusi hakiki. Gaza butuh perlindungan nyata, dan itu hanya akan terwujud dengan kembalinya kepemimpinan Islam yang mempersatukan umat dalam satu payung kekuasaan.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment