Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maraknya Perundungan, Tanda Kegagalan Sistemik Melindungi Generasi

Tuesday, July 08, 2025 | Tuesday, July 08, 2025 WIB Last Updated 2025-07-08T14:40:42Z
Maraknya Perundungan, Tanda Kegagalan Sistemik Melindungi Generasi

Oleh: Anindya Vierdiana


Peristiwa memilukan kembali mengguncang dunia pendidikan kita. Di Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, seorang anak berusia 13 tahun menjadi korban kekerasan yang keji. Ia dipaksa menenggak minuman keras dan merokok oleh dua temannya serta seorang pria dewasa. Lebih sadis lagi, korban ditendang dengan pecahan batu bata hingga kepalanya berdarah, lalu diceburkan ke dalam sumur oleh pelaku. (Kompas com, 26 -06-2025)


Aksi ini tak hanya mencederai fisik korban, tetapi juga mengoyak nurani siapa pun yang masih peduli terhadap keselamatan dan masa depan anak-anak bangsa.


Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mendesak aparat agar menindak tegas para pelaku dan memberikan pendekatan komprehensif—meliputi pendampingan korban, pembinaan pelaku, serta penguatan pendidikan karakter dan pengawasan di lingkungan sekolah.


Namun publik bertanya, sampai kapan kita hanya bereaksi setelah kejadian terjadi? Pasalnya, kasus semacam ini bukan yang pertama. Pada 2023, seorang pelajar SMP di Cicendo, Kota Bandung, dipukul dan diancam oleh teman-temannya sendiri. Meski sempat dilakukan mediasi, tidak ada perubahan sikap dari pelaku, hingga orang tua korban melapor ke pihak berwajib.



Fenomena Gunung Es


Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sepanjang 2023, terdapat sekitar 3.800 kasus perundungan. Bahkan, di awal 2024 saja, sudah tercatat 141 kasus.



Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan 573 kasus kekerasan di institusi pendidikan sepanjang tahun lalu, dan 31 persen di antaranya adalah perundungan.


Yang lebih mengkhawatirkan, pelaku tidak hanya berasal dari kalangan remaja, tetapi juga anak-anak prabalig. Ini menunjukkan adanya krisis kejiwaan dan nilai di tengah generasi muda kita. Fenomena ini bukan sekadar urusan perilaku menyimpang, tapi refleksi dari sistem sosial dan pendidikan yang gagal membentuk kepribadian utuh pada anak.


Sekularisme, Akar Masalah yang Terabaikan


Sayangnya, diskusi publik soal perundungan masih berkutat pada solusi parsial: penegakan hukum, pendidikan karakter, atau pelatihan guru. Padahal akar masalahnya jauh lebih dalam: sistem sekularisme kapitalisme yang menyingkirkan nilai-nilai keimanan dari kehidupan manusia.


Pertama, pola asuh sekuler dalam keluarga menjadikan anak lebih akrab dengan tayangan YouTube ketimbang Al-Qur’an. Anak dibesarkan dalam nuansa hedonisme dan kompetisi materialistis, bukan orientasi sebagai hamba Allah. Peran ibu sebagai pendidik utama pun sering tergeser karena tuntutan ekonomi dan narasi kesetaraan gender yang memaksa perempuan keluar dari rumah.


Kedua, lingkungan sosial dan sekolah miskin dari budaya amar makruf nahi mungkar. Permisivisme, individualisme, dan budaya “bebas berekspresi” menjadi alasan pembiaran terhadap perilaku menyimpang anak-anak. Saling menasihati dianggap mengganggu ruang privat.


Ketiga, peran negara sangat lemah. Banyak pelaku kekerasan justru dilindungi dengan status "anak di bawah umur", meski secara syar’i mereka sudah mukalaf. Negara pun gagal membatasi akses anak pada konten kekerasan, pornografi, dan gaya hidup liberal yang merusak. Kurikulum pendidikan menjauhkan anak dari nilai Islam dan menanamkan relativisme moral sejak dini.


Islam Menawarkan Solusi Menyeluruh


Islam memiliki pendekatan holistik dalam membina generasi. Perundungan adalah perilaku yang dilarang keras. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 11 agar orang beriman tidak saling mencela, merendahkan, atau memberi gelar buruk satu sama lain. Nabi Muhammad ﷺ pun dikenal sebagai pendidik agung yang membentuk generasi penuh empati, santun, dan berani menegakkan kebenaran.


Berbeda dengan sistem hukum sekuler, dalam Islam seseorang yang telah balig adalah mukalaf. Yakni individu yang bertanggung jawab penuh atas perbuatannya di hadapan hukum syariah. Maka, pelaku perundungan yang telah balig tidak bisa berlindung di balik status "anak".


Islam juga menempatkan perempuan sebagai ummu ajyal (ibu generasi). Negara Islam (Khilafah) akan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup keluarga agar para ibu bisa fokus mendidik anak-anak mereka di rumah. Sistem pendidikan Islam pun berfungsi membentuk kepribadian Islami, bukan hanya mencetak tenaga kerja.


Islam bukan hanya solusi, tapi sistem yang terbukti berhasil mencetak generasi cemerlang, Seperti para sahabat muda Rasulullah: Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, dan Usamah bin Zaid—yang sejak usia dini sudah menjadi pemimpin, penulis wahyu, hingga panglima perang.


Maka selama kita masih mempertahankan sistem sekuler yang menjauhkan nilai ilahiah dari kehidupan, jangan heran jika generasi muda terus didera kekerasan, perundungan, dan krisis akhlak. Sudah saatnya kita menyadari bahwa solusi tuntas hanya bisa diwujudkan melalui perubahan sistemik—kembali kepada Islam secara kaffah.


Wallahu a’lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update