Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak-anak Gaza Tanggungjawab Siapa?

Wednesday, April 09, 2025 | Wednesday, April 09, 2025 WIB Last Updated 2025-04-09T07:07:32Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Puluhan ribu anak Palestina telah kehilangan orang tua mereka, menjadi yatim piatu, sejak dimulainya perang Israel di Jalur Gaza yang terkepung, kata Biro Pusat Statistik Palestina. Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (03-04-2025), malam menjelang Hari Anak Palestina, badan tersebut mengatakan 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya setelah 534 hari serangan Israel, yang telah menghancurkan daerah kantong kecil itu dan membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya mengungsi (katakini.com, 04-04-2025).

Genosida Israel di Gaza telah menciptakan krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern. “Anak-anak ini hidup dalam kondisi yang memilukan—berlindung di tenda-tenda robek atau reruntuhan rumah, tanpa akses pada perawatan sosial maupun dukungan psikologis,” ungkap Biro Pusat Statistik Palestina, dikutip Al Jazeera.

Tragis. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan sedikitnya 100 anak telah terbunuh atau terluka setiap hari di Gaza sejak serangan dimulai kembali pada 18 Maret, bahkan saat Amerika Serikat menggarisbawahi dukungan berkelanjutan bagi Israel (erakini.com, 05-04-2025).

Sungguh fakta ini telah menunjukkan pada dunia bahwa monster pembunuh terus membabi buta tanpa rasa tanpa iba. Nilai manusia sudah tak pantas ada padanya. Entah kata terburuk apa lagi yang harus dikatakan pada jenis makhluk seperti ini. Makhluk ini hanya mengerti nyawa dibayar nyawa. Darah dibalas darah.

Jika ini terus terjadi, tak terkecuali jatuhnya korban anak-anak Gaza, siapa sesungguhnya yang bertanggungjawab? Super power mana yang akan turun sebagai penolong mereka. Mampukah kita berdiam saat mereka berteriak, aina antum muslimin? Sanggupkah kita menutup mata saat seluruh mata anak-anak Gaza berurai air mata, terbunuh dan terluka?

Anak Gaza Bukan Anak Biasa

Juru bicara (jubir) kelompok dakwah ideologis internasional di Palestina menggambarkan bahwa setiap hari banyak pemberitaan tentang puluhan martir dan ratusan orang terluka di Gaza, selain adanya penghancuran, pengungsian, dan pendudukan. “Entitas Zion*s Yahudi tengah mengamuk di negeri kalian dan kalian tidak bergerak sedikit pun!” sesalnya kepada Kantor Berita ideologis Palestina, Ahad (6-4-2025). Tentunya korban di sini termasuk anak-anak Gaza. Anak-anak kaum muslimin. Anak-anak luar biasa, yang patut diselamatkan jiwa raganya. Anak-anak yang terlahir dari benih-benih kecintaan pada agamaNya. Yang tak goyah sekalipun digempur jutaan rudal Zion*s binal.

Siapa pun yang menyaksikan penderitaan warga muslim Gaza, termasuk anak-anak di sana, akan mendapati bahwa apa yang dilakukan oleh entitas Zion*s itu sudah di luar batas kemanusiaan. Kejahatan yang dilakukan puluhan tahun dan makin intens dilakukan dua tahun terakhir, tentu tidak bisa dimaafkan. Lantas, apa kontribusi dunia internasional atas fakta genosida di Palestina? Faktanya, mereka hanya mengecam tanpa ada tindakan riil menghentikan serangan.

Sistem kapitalisme yang diberlakukan di dunia hari ini telah menunjukkan pengkhianatan nyata terhadap nasib anak-anak Palestina. Jangankan hak atas makanan, pendidikan, kesehatan, sanitasi, dan perlindungan atas kekerasan, hak hidup saja mereka tidak mendapatkan jaminan. Betapa banyak anak-anak Palestina yang menjadi korban penjajahan entitas Yahudi, tetapi AS sebagai negara adidaya hari ini justru abai terhadap kondisi tersebut.

Anak-anak Gaza adalah anak tanah Palestina, tanah kaum muslim. Tanah yang telah berada di bawah kekuasaan Islam saat dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra. pada 15 H. Tanah yang sepanjang masa kekhalifahan Islam tetap berada dalam naungan Negara Islam.

Hanya saja, sejak Khilafah Islam (Khilafah Utsmaniyyah) runtuh pada 1924, entitas Yahudi merampas Tanah Palestina secara ilegal dari kaum muslim. Atas bantuan Barat, bumi Palestina pun jatuh ke tangan Zion*s Yahudi. Tepatnya pada 1948, mereka menduduki lebih dari setengah wilayah Palestina dan mengusir warga Palestina secara paksa. Sejak saat itu, bombardir dan pembantaian terus dilancarkan oleh entitas Yahudi laknatullah.

Hadirnya “Negara Yahudi” sejatinya tidak bisa dilepaskan dari upaya meruntuhkan Khilafah Islam yang merupakan perisai umat Islam. Dukungan Barat atas pendirian “negara” tersebut sejatinya memiliki tujuan politik, yakni menjaga eksistensi sistem kapitalisme di dunia Islam. Barat sangat memahami bahwa kebangkitan Islam sebagai ideologi di bawah naungan Khilafah.

Barat tidak akan membiarkan Khilafah kembali bangkit dan akan terus menjalankan strategi mendukung keberadaan entitas Yahudi dengan beragam aksi kejahatannya di bumi Syam. Selain itu, keberadaan Yahudi di Palestina akan mempermudah AS menjajah kawasan Timur Tengah. Oleh karena itu, persoalan Palestina merupakan masalah clash (perseteruan) antara dua peradaban, yakni Islam dan Barat.

Oleh karena itu akar persoalan Palestina bukan pada persoalan kemanusiaan semata, bukan pula masalah bangsa yang terusir, apalagi sekadar masalah perbatasan dua negara. Akar persoalan Palestina adalah keberadaan entitas Yahudi di negeri yang diberkahi itu dengan sistem kapitalisme sebagai penjaganya yang telah mengholocaust benih generasi Muslim yang sangat ditakuti.

Mengusir entitas Yahudi laknatullah dari bumi Palestina dan menghentikan segala bentuk serangan yang mereka lakukan adalah satu-satunya solusi untuk menyelamatkan muslim Palestina, menyelamatkan anak-anak Gaza dari segala bentuk penderitaan. Membebaskan seluruh bumi Palestina, mulai dari sungai hingga lautnya hingga mengikis habis entitas Yahudi sampai tidak menyisakan lagi kekuatan Yahudi di bumi Palestina, merupakan solusi yang dituntun oleh syariat Islam untuk membersihkan entitas jahat Zion*s.

Allah Swt. Berfirman,

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir" (QS Al-Baqarah: 191).

Sungguh, tiada jalan lain untuk menyelesaikan masalah Palestina adalah jihad. Jihad adalah ajaran Islam. Jihad adalah perang melawan kaum kafir untuk menegakkan agama Taala. Ketika saudara-saudara kita diperangi, sesungguhnya berdasarkan dalil di atas, kita wajib untuk membela dan menolong mereka dengan jihad. Dengan jihad anak-anak Gaza tak lagi menderita. Biidznillah. In syaa Allaah.

Wallaahu a'laam bisshawaab.



No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update