Zahra Meika
Dilansir dari Tirto..id, Pilkada Jawa Tengah 2024 ternodai dengan munculnya dugaan mobilisasi kepala desa (kades) untuk memenangkan salah satu kandidat. Mirisnya, praktik kotor semacam ini terjadi secara masif dalam beberapa pekan terakhir.
Beberapa laporan yang tercatat, pertemuan kades ini terjadi di tanggal 17, 22, dan 23 Oktober 2024. Tiga pertemuan kades di waktu dan lokasi berbeda itu diduga merupakan bagian dari suksesi khusus pemenangan salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah.
Fenomena mobilisasi para pimpinan daerah dalam suksesi pemilu menjadi bukti bahwa pada akhirnya negeri ini mampu dan selalu berusaha menghalalkan segala cara demi kemenangan dan jabatan di pemerintah. Seharusnya calon pemimpin mampu memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya. Orientasi menjadi seorang pemimpin akhirnya bukan lagi tentang menjadi pelayan bagi rakyatnya, namun ada unsur kapitalis yang ingin digapai setelah mendapat kursi di pemerintah.
Jika dibandingkan dengan zaman para sahabat, maka kita akan melihat perbedaan hang begitu besar tentang makna seoranv pemimpin bagi mereka. Bagaimana takutnya para sahabat untuk bersikap tidak amanah ketika mendapat jabatan sebagai seorang khalifah.
Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim yang beriman dan berakal, tugas kita adalah mengembalikan hakikat seorang pemimpim. Hal ini bisa dilakukan dengan mendakwahkan kepada masyarakat bagaimana hebatnya pemimpin² islan di zaman khilafah dulunya.
No comments:
Post a Comment