Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Saudara-saudara, beberapa saat yang lalu di hadapan majelis yang terhormat ini, di hadapan seluruh rakyat Indonesia, dan yang terpenting di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT, saya Prabowo Subianto, dan saudara Gibran Rakabuming Raka, telah mengucapkan sumpah untuk mempertahankan Undang-Undang Dasar kita, untuk menjalankan semua undang-undang dan peraturan yang berlaku untuk berbakti pada negara dan bangsa. Sumpah tersebut akan kami jalankan dengan sebaik-baiknya, dengan penuh rasa tanggung jawab dan semua kekuatan yang ada pada jiwa dan raga kami.
Narasi ini adalah potongan pidato Presiden Indonesia terlantik 20-10-2024. Narasi yang berisikan janji yang menguntai harap rakyat yang menanti pemimpin terbaik di sebuah negeri.
Banyak PR yang diwariskan dari pemerintahan sebelumnya. Tentunya butuh effort nyata untuk menyelesaikannya. Tak bisa hanya janji semata karena rakyat sudah terlalu banyak kecewa.
Wujud Harapan, Reaksi yang Harus Pasti
Sejak berdiri, sulit untuk menentukan di masa kepemimpinan yang mana yang bisa diterima rakyat sebagai masa yang membahagiakan. Ditelusuri dari masing-masing orde kepemimpinan, kejayaan, kemakmuran, dan kemandirian hanya ada dalam klaim dan narasi warisan yang meluncur dalam pidato-pidato kenegaraan.
Bagai seseorang yang penuh dengan harap-harap cemas, rasa pesimis pada pemerintahan yang baru dilantik pun begitu mewarnai. Kekhawatiran atas kegagalan sistemis dari duet Prabowo-Gibran cukup menghantui rakyat di negeri ini.
Visi “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”, begitu tegas disampaikan Prabowo dalam Asta Citanya. Delapan misi disampaikan,
1. Memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM).
2. Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
3. Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur.
4. Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
5. Melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
6. Membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.
7. Memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi dan narkoba.
8. Memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Bayangkan, semua misi dan janji ini disampaikan dalam bingkai kepemimpinan yang hari ini sudah dikuasai kepentingan oligarki. Bahkan, sebagian pembantunya merupakan para pebisnis dan sebagian pejabatnya adalah pejabat pada era Jokowi. Dengan model seperti ini, benarkah rakyat percaya bahwa semua janji tersebut akan direalisasi?
Paradigma Bermasalah
Saat negeri ini menjadikan demokrasi sebagai hal yang masih disertakan secara sistemik dengan narasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, kedaulatan di tangan rakyat, suara rakyat, suara Tuhan, kekuatan menjadikan mitos sebagai narasi yang menjanjikan berbagai jaminan kebebasan dengan jargon HAM, merelakan kebebasan berpikir atau berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan berperilaku, hingga kebebasan untuk memiliki sesuatu, menguasai cara pandang dan hidup di negeri ini.
Riilnya keburukan demi keburukan ternyata merayap dan melahap nasib renta rakyat. Sekalipun rakyat seakan diberi ruang untuk menentukan siapa yang menurut mereka layak memegang kepemimpinan, nyatanya pilihan bisa diciptakan oleh kekuatan modal yang dimiliki para elit. Cuan bermain.
Lebih tragis lagi terkait agama. Di sistem demokrasi agama seakan dinafikan. Pengaturan negara dan masyarakat lebih percaya pada buatan manusia. Konsep halal-haram dalam agama tidak menjadi asasi. Maslahat atau tidak, ada kepentingan atau tidak menjadi penimbang utama. Tentu saja semua untuk maslahat dan kepentingan rakyat pemilik kekuatan dan kedaulatan (para pemilik modal).
Kekuasaan menjadi ajang bancakan para pemilik modal. Hal ini sebagaimana yang kita lihat dari penentuan pejabat publik di kementerian dan kelembagaan, termasuk pada rezim sekarang. Aroma politik akomodasi dan bagi-bagi kue kekuasaan begitu kental. Dapat dipastikan perubahan kondisi rakyat dan negara pada masa yang akan datang hanya mimpi yang utopis. Lalu jika ini masih seperti ini, akankah harapan baru yang lebih baik terwujud? Jika paradigma yang salah tentang kemajuan, kesejahteraan dan terpenuhinya hajat rakyat masih berada pada paradigma salah, tentunya harapan hanya sebatas impian semata.
Paradigma Islam Mewujudkan Kepemimpinan yang Merealisasikan Berbagai Harapan
Sungguh dalam Islam kepemimpinan dipandang sebagai amanah besar. Visi dunia-akhirat menjadi visi yang tidak bisa dipisahkan. Misi di planet bumi direalisasi untuk jalankan visi terbaik.
Dalam Islam, pemimpin sangat bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat secara orang per orang. Pemimpin diangkat atas nama Allah semata demi menjalankan hukum-hukum Allah. Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya menjadi rujukan utama untuk mewujudkan rahmatan lil aalamiin di negeri ini, untuk mencampakkan hukum-hukum Allah sangatlah dihindari.
Paradigma Islam memastikan kepemimpinan Islam akan membawa kebaikan dan keberkahan. Jauh dari konflik kepentingan dan selalu terikat syariat Islam agar mampu menyolusi seluruh problem kehidupan. Masalah politik, ekonomi, sosial, hukum, hankam, semuanya diatur dalam Islam. Pengaturan komprehensif dikuatkan agar mampu merealisasikan janji-janji.
Jika saat ini, kembalinya sistem kepemimpinan Islam masih dipandang mimpi, juga menyebut para pejuangnya sebagai para pemimpi, maka memimpikan tegaknya kembali Islam Kaffah bukanlah utopia sebagaimana mimpi mewujudkan kesejahteraan yang dijanjikan sistem demokrasi. Keagungan dan kejayaan Islam dengan sistem yang Kaffah yang pernah mewujud nyata dalam naungan Khilafah Islamiyyah tercatat dalam sejarah peradaban dunia selama belasan abad lamanya.
Firman Allah Ta’ala,
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS Al-A’raf: 3).
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf : 96).
Dengan demikian jangan lagi ada keraguan. Sistem kepemimpinan Islam ini sejatinya patut menjadi satu-satunya harapan karena sistem ini lahir dari asas aqidah yang lurus dan sesuai fitrah penciptaan yang diturunkan Allah Ta’ala sebagai panduan dan solusi kehidupan.
Oleh karena itu jika sistem Islam Kaffah ini ditegakkan dengan sempurna, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, bahkan bagi seluruh alam semesta bukan lagi sekadar mimpi namun akan terwujud secara pasti.
Wallaahu a’laam bisshawaab.
No comments:
Post a Comment