Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyoal Negeri 'Ring Of Fire', Bagaimana Islam Menyolusi?

Wednesday, October 09, 2024 | Wednesday, October 09, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:37:02Z

Oleh Narti Hs
Pegiat Dakwah

Indonesia merupakan salah satu negeri dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah, baik di permukaan maupun perut bumi. Namun demikian, wilayah ini tak luput dari bencana alam yang sering melanda. Banjir, erupsi gunung, bahkan gempa bumi yang membuat mereka kehilangan rumah dan harta bendanya, karena harus mengungsi.

Seperti baru-baru ini telah terjadi musibah gempa bumi tektonik di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, tepatnya di Kecamatan Kertasari. Berdasarkan data BPBD, sebanyak 4.000 unit rumah telah terdampak, 35 orang luka berat, 98 ringan dan dua orang meninggal dunia.

Herman Suryatman selaku sekretaris daerah mengatakan bahwa kehadiran Pemda Provinsi Jabar dalam penanganan bencana ini dilakukan secara bahu-membahu bersama BNPB, BPBD, dan TNI/Polri. Hal tersebut untuk memastikan masyarakat yang terdampak agar mendapatkan kenyamanan dan keamanan pasca terjadinya gempa bumi. Selain itu, Pemerintah daerah juga menyediakan dapur umum bagi para korban. (kabarrepublika.co.id, 21 September 2024)

Musibah gempa yang terjadi di Kabupaten Bandung, mengingatkan kejadian serupa pada pembuka tahun 2021 lalu. Peristiwa ini cukup mengejutkan, walaupun sebenarnya telah lama BMKG memberikan peringatan dini akan terjadi gempa di kawasan megathrust. Dampaknya, kerusakan dan kerugian pun tak bisa terelakkan.

Dipahami bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang posisinya dari aspek kebencanaan, termasuk ring of fire (cincin api pasifik), yakni pertemuan tiga lempeng tektonik dunia seperti Indo-Australia, Eurosia, dan lempeng Pasifik. Namun fakta ini sering dianggap sebagai tindakan kuratif saja, yakni sekedar sebagai ‘pemadam kebakaran’. Belum memetakan daerah yang rawan bencana gempa. Seharusnya, negara tidak membolehkan wilayah tersebut sebagai tempat tinggal/hunian agar tidak membahayakan.

Pun jika ada pemetaan, sering kali negara kalah apabila berhadapan dengan keuntungan bisnis. Dari sini nampak bahwa kepengurusan terhadap rakyat tidak terwujud dalam sistem kapitalisme. Di mana kebijakan yang ditetapkan hanya ditujukan untuk memuluskan kepentingan para pemilik modal.

Suatu hal yang aneh apabila kita tinggal di suatu wilayah yang rawan bencana, tetapi belum juga bisa beradaptasi dan siap siaga menghadapi musibah tersebut. Upaya mitigasi yang telah ditetapkan undang-undang dan disiapkan timnya, ternyata belum mampu berjalan maksimal. Negara yang seharusnya melakukan antisipasi, justru fokus dalam tataran pencegahan saja, yang membuatnya baru bergerak ketika bencana sudah terjadi. Penanggulangan dan pencegahan, sebetulnya tidak cukup dengan membangun infrastruktur fisik pengendali. Akan tetapi, membutuhkan langkah lain berupa pengelolaan lingkungan hidup pun haruslah diperhatikan. Karena ketika ekologinya tidak diperbaiki, maka musibah akan terus terjadi.

Begitu pula dengan persoalan skala prioritas anggaran negara, yang masih harus dipertanyakan. Karena sering dijumpai adanya pembiayaan yang digunakan untuk berbagai proyek dan perencanaan yang tidak tepat kepada sasaran. Misalnya saja, pembangunan proyek bandara, kereta api cepat, dan lainnya; yang tentu membutuhkan biaya yang sangat besar padahal tidak terlalu penting dilakukan.

Negara seharusnya melakukan mitigasi, yakni dengan memastikan penggunaan konstruksi tahan getaran gempa, yang daya kuatnya sesuai dengan standar kualitas bangunan. Selain itu, membangun fasilitas umum dengan ukuran kekuatan yang tinggi juga memastikan kekuatan infrastruktur vital yang sudah ada. Di samping itu, dilakukan pula perencanaan permukiman guna mengurangi tingkat kepadatan hunian pada daerah yang rawan bencana.

Sebagai representasi penerapan syariat Islam, negara memiliki strategi dalam penanganan bencana, termasuk gempa bumi. Mengutip pendapat pakar geospasial Prof. Ing. Fahmi Amhar, pada era kekhalifahan di Turki. Untuk mengantisipasinya, maka dilakukan dengan membangun gedung-gedung yang tahan terhadap guncangan.

Sinan, seorang arsitek yang dibayar Sultan Ahmet untuk membangun masjid yang berseberangan dengan Aya Sofia, membangunnya dengan konstruksi beton bertulang yang sangat kokoh dan pola-pola lengkung berjenjang yang dapat membagi dan menyalurkan beban secara merata.

Masjid lainnya pun dibangun di atas tanah yang menurut penelitiannya pada saat itu cukup stabil. Gempa-gempa besar di atas 8 SR yang terjadi di kemudian hari terbukti tidak menimbulkan dampak yang serius, sekalipun banyak gedung modern di Istanbul yang justru roboh.

Dengan demikian, bencana alam akan selalu diantisipasi terlebih dahulu dengan upaya maksimal. Kepemimpinan Islam akan memberikan perhatian besar untuk menyediakan fasilitas umum yang mampu melindungi rakyat dari berbagai musibah.  Mereka membayar para insinyur untuk membuat alat dan metode peringatan dini, mendirikan bangunan tahan bencana, juga membangun bunker sebagai cadangan logistik. Mempersiapkan masyarakat agar tanggap darurat.

Islam, memiliki tatacara yang efektif agar masyarakat selalu siap menghadapi situasi apapun. Negara harus melakukan cara mengevakuasi diri dengan cepat, menyiapkan barang-barang yang vital selama evakuasi, mengurus korban yang wafat, dan merehabilitasi diri pasca kondisi darurat. Hal ini harus dilakukan mengingat kedudukannya sebagai pengurus rakyat. Rasulullah saw. bersabda:
“Imam adalah raa’in, dan kelak akan diminta pertanggung jawaban di akhirat terhadap kepengurusannya.” (HR. Muslim)

Seorang pemimpin harus bersikap tanggap darurat dan memahami betul apa saja yang harus dikerjakan dalam situasi normal maupun genting. Mitigasi bencana membutuhkan paradigma dan tata kelola yang tepat sasaran, pun bersih dari motif kepentingan, terutama keuntungan segelintir pihak seperti halnya dalam sistem kapitalisme saat ini.

Dalam penanganan bencana, syariat hanya menujukannya untuk kepentingan rakyat sehingga sangat memungkinkan untuk meminimalisasi dampak yang terjadi. Peran negara akan mulai dilakukan baik sebelum bencana (preventif dan mitigasi), maupun setelahnya. Namun semua itu baru akan terwujud ketika sistem Islam tegak.

Maka kini saatnya menghadirkan kepemimpinan sahih tersebut, yang akan mewujudkan ketentraman dan keberkahan bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bish-Shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update