Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Masalah Sampah, Butuh Solusi dari Hulunya

Friday, October 18, 2024 | Friday, October 18, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:36:21Z

Oleh Fathiya Puti

Mahasiswi

 

Sampah menjadi masalah yang selalu ada dan belum bisa terselesaikan. Berbagai ide sudah direalisasikan dan dikembangkan untuk mengurangi sampah-sampah yang ada. Namun, tetap saja Indonesia menjadi negara dengan penghasil sampah terbanyak di dunia. Mulai dari sampah sisa makanan, sampah plastik, sampah kertas, sampah logam, dan sampah lainnya berkumpul menjadi sebuah populasi besar yang berdampak amat buruk bagi masyarakat.

Menurut data, presentase sampah sisa makanan di Indonesia mencapai 41,69% dari total timbulan sampah di dalam negri tahun 2022. Ternyata, sampah sisa makanan menjadi peringkat pertama, barulah diikuti sampah plastik. Jika didefinisikan, sampah sisa makanan adalah makanan yang terbuang, hilang, atau tidak dimakan, baik yang masih layak konsumsi maupun tidak. Sampah makanan bisa terjadi di berbagai tahap, mulai dari produksi, pengolahan, pengangkutan, penjualan, penyimpanan, hingga pada saat konsumsi.

Maka tak heran, bila pemerintah berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai ide dan teori yang dimiliki. Salah satunya adalah Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bandung, Asep Kusumah, menyarankan agar warga membuat dua Lubang Cerdas Organik (LCO) di rumah guna mengurangi sampah organik, sementara sampah anorganik diarahkan ke bank sampah (Tribun Jabar, 11 Oktober 2024).

Ide yang menarik dalam mengurangi sampah sisa makanan. Namun, untuk membuat LCO setidaknya masyarakat membutuhkan lubang berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm untuk bisa merealisasikannya. Bisa kita lihat, tentu solusi ini sulit diterapkan bagi masyarakat yang rumahnya tidak memiliki lahan memadai, seperti di daerah perkotaan atau rumah kecil. Belum lagi masyarakat yang terkendala waktu, kesibukan, alergi, penyakit, dan lain sebagainya.

Memang ini masalah bersama, tapi  adakah solusi yang lebih efektif demi kepentingan dan kesehatan bersama? Dapat kita lihat, bahwa masalah sampah adalah masalah yang berkesinambungan. Bukan karena tak diatasi akhirnya tak selesai. Sudah banyak komunitas-komunitas penggerak yang berinisiatif membicarakan sampah ini, tetapi tetap saja. Jadi, bukan karena tak diatasi, tapi lebih tepatnya tak diatasi dari akarnya, dari regulasi puncaknya.

Menyelesaikan masalah itu harus dari hulunya, agar semua teratasi dan tak terulang lagi. Regulasi di akar di mana pemerintah punya hak mengatur. Seharusnya bisa membuat aturan yang akhirnya meminimalkan sampah, misalnya larangan bagi pabrik untuk memproduksi produk dengan bungkus plastik, sehingga konsumsi plastik masyarakat berkurang. Kemudahan para petani untuk menjualkan hasil panennya agar tak ada yang busuk dan terbuang, aturan bagi konsumen dan produsen rumah makan untuk tidak membuang makanan, dan lain sebagainya yang nantinya membuat masyarakat tertib dan tidak menghasilkan sampah secara besar-besaran.

Semua ini, haruslah negara yang mengurus. Sebab negara, adalah tameng dan perisai masyarakat dari keburukan, serangan, juga kerusakan alam sebab sampah. Namun yang seperti kita temukan saat ini, definisi negara adalah perisai rasanya tak nyata, sebab negara dan para pemerintahnnya sibuk dengan ambisi jabatan, urusan administrasi, dan keuntungan kapitalis semata. Tak ada tujuan untuk mensejahterakan rakyat, malah mengembalikan masalah untuk ditangani oleh individu masing-masing.

Bisa kita amati, hingga saat ini rakyat sibuk menanggung hidupnya masing-masing, tanpa ada ria’yah atau pemeliharaan dari negaranya. Berbeda pada negara yang dulu pernah ada, yakni negara Islam. Di mana hukumnya memakai hukum-hukum Islam, bersumber pada Al-Qur’ an dan Sunnah. Negara ini benar-benar melakukan pemeliharaan terhadap rakyatnya. Benar-benar menyejahterakan, bukan mengembalikan masalah kepada individu semata. Dengan konsep bahwa Allah bukan hanya Maha Pencipta tapi juga Maha Pengatur. Ini membuktikan bahwa Allah adalah sebaik-baiknya pengatur semua urusan makhluknya, termasuk dalam urusan bernegara.

Semua akan dijelaskan secara rinci apa saja hak rakyat, bagaimana sistem kebersihannya, keamanannya, pendidikannnya, kesehatannyan, ekonominya, dan politik lainnya. Semuanya telah terbukti bahwa sistem yang diridai oleh Allah adalah sistem yang paling memanusiakan manusia. Sudah banyak literatur dan para peneliti yang mengakui bahwa negara dalam naungan Islam adalah negara yang sejahtera. Lalu, tak maukah kita kembali pada negara yang sejahtera ini? Tak maukah kita kembali pada system yang diridhoi oleh Allah? Sebab, kalua memang Allah menjadi landasan utama kita, bukan hanya rakyat yang sejahtera, tapi juga hewan bahkan tumbuhan, maka pastilah masalah sampah ini akan teratasi.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update