Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Transformasi Generasi Akibat Paparan Pornografi, Dari Konsumen Menjadi Pelaku

Thursday, September 19, 2024 | Thursday, September 19, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:02Z

 

Oleh Ndarie Rahardjo
Aktivis Muslimah

Perkembangan teknologi dan akses internet yang semakin mudah membuat anak-anak dan remaja terpapar berbagai konten yang tidak sesuai dengan usia mereka, salah satunya adalah pornografi. Dengan tingginya aksesibilitas terhadap konten pornografi, muncul kekhawatiran terhadap dampak negatif yang ditimbulkan, khususnya pada perilaku anak-anak. Salah satu dampak yang paling serius adalah meningkatnya kejahatan yang dilakukan oleh anak.

Paparan terhadap pornografi di usia dini tidak hanya merusak perkembangan psikologis dan moral anak, tetapi juga dapat memicu perilaku agresif, termasuk kekerasan seksual. Pengaruh pornografi ini dapat menormalisasi tindakan kekerasan dan perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan anak-anak, yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya kejahatan di kalangan remaja.

Banyaknya kasus kejahatan yang terjadi disebabkan oleh kecanduan pornografi dimana sangat mudah diakses hanya dengan menggerakkan ujung jari telunjuk, sebagaimana kejahatan yang telah dilakukan oleh pelaku pemerkosa dan pembunuhan siswi SMP di Palembang oleh 3 remaja karena kecanduan film dewasa.(Tvonenews.com, 8/9/2024)

Menurut Kemenkominfo, Usman Kansong, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) mengatakan kementerian menemukan 5 juta konten pornografi, termasuk bermuatan anak-anak, di dunia maya. Konten muncul di media online dan juga permainan atau game online yang begitu mudah diakses anak-anak saat ini.
“Angka itu menempatkan Indonesia di peringkat kedua di ASEAN,” kata Usman Kansong. (Bisnis.com)

Tentu saja ini adalah temuan yang mencengangkan sekaligus peringatan keras, bahwa di balik angka itu pasti jauh lebih besar lagi jumlahnya, karena tidak semua kejadian dilaporkan, seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat puncaknya saja.

Dampak Pornografi terhadap Perilaku Anak

1. Pengaruh pornografi terhadap perkembangan psikologis dan otak anak.
Paparan pornografi di usia dini dapat merusak perkembangan psikologis anak, mengganggu pembentukan konsep diri (karakter) dan relasi sosial yang sehat. Anak yang terpapar pornografi cenderung memiliki pandangan yang salah tentang hubungan seksual, menganggap perilaku yang ditampilkan dalam konten tersebut sebagai hal yang normal dan dapat diterima dalam kehidupan nyata.

Kecanduan pornografi juga dapat menyebabkan gangguan perkembangan pada otak anak. Saat melihat berbagai konten yang mengandung pornografi, maka otak akan merespon penuh oleh hormon dopamin. Hormon ini membuat otak merasa lebih tenang dan senang, serta dapat menyebabkan kecanduan seperti pada penggunaan narkoba, bahkan bisa lebih buruk lagi. Banyaknya hormon dopamin pada otak mendorong seseorang untuk terus mengakses pornografi dengan lebih porno/vulgar lagi dari sebelumnya agar mendapatkan ketenangan dan kesenangan.

Ada beberapa kondisi psikologi pada anak yang mendorong mereka mengakses konten pornografi. Kondisi itu disebut dengan BLAST atau boring (bosan), lonely (kesepian), angry (marah), stress (tertekan), dan tired (lelah). Ketika berada dalam kondisi itu, anak-anak cenderung mencari pelarian ke arah negatif sehingga merugikan dirinya sendiri. (Pusdiknas.polri)

2. Normalisasi kekerasan seksual karena gangguan emosi pada anak.
Konten pornografi sering kali mengandung unsur kekerasan atau pemaksaan, ketika sering diakses/ditonton oleh anak-anak pada akhirnya dapat menormalisasi tindakan kekerasan seksual di mata anak-anak.
Anak-anak yang sering terpapar konten pornografi dapat mengembangkan perilaku agresif dan melihat kekerasan seksual sebagai sesuatu yang biasa. Hal ini dapat memicu mereka melakukan tindakan kriminal, seperti pelecehan atau kekerasan seksual terhadap teman sebaya atau orang lain, juga berisiko mendorong anak untuk terlibat dalam bentuk kekerasan lain di luar konteks seksual, seperti bullying atau pelecehan fisik. Bahkan banyak anak juga terlibat sebagai pelaku dalam penyebaran konten pornografi. Fenomena ini sering terjadi melalui media sosial atau aplikasi perpesanan , di mana anak-anak terlibat dalam kegiatan seperti penyebaran gambar atau video yang bersifat pornografi. Anak-anak bertransformasi yang dari awalnya sebagai konsumen saja berubah menjadi pelaku/produsen konten porno.

3. Menurunnya empati dan kesadaran sosial.
Pornografi yang obyek utamanya mengekspose tubuh manusia, khususnya perempuan, dan menjadikan manusia sebagai objek pemuas nafsu, dapat menyebabkan anak kehilangan rasa empati terhadap orang lain dan tidak mampu memahami atau merespons perasaan orang lain dengan benar.

Anak-anak yang terpapar pornografi mungkin melihat orang lain sebagai objek, bukan sebagai individu yang memiliki nilai dan hak, yang pada akhirnya mendorong perilaku tidak bermoral dan kejahatan.

Kejahatan Anak Meningkat Akibat Pengaruh Pornografi?

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) ada 66,6 persen anak laki-laki dan 62,3 persen anak perempuan di Indonesia menyaksikan kegiatan seksual (pornografi) melalui media daring (online).

Dari data tersebut juga terdapat 34,5 persen anak laki-laki pernah terlibat pornografi atau mempraktikkan langsung kegiatan seksual, dan 25 persen anak perempuan. (Suarasurabaya)

Banyaknya kasus kejahatan anak yang terjadi dewasa ini karena tidak ada upaya yang komrehensif mulai dari keluarga, lingkungan sekolah/masyarakat, serta peran strategis negara untuk menekan pornografi, kemudahan mengakses situs porno bahkan yang tanpa sengaja kebuka karena gencarnya iklan di berbagai situs yang sering diakses anak-anak, dan juga lemahnya peran negara untuk memberikan hukuman bagi pelaku dan minimnya upaya pencegahannya terhadap pemberantasan situs-situs porno.

Alih-alih untuk memberikan pendidikan yang benar, negara justru memfasilitasi dengan adanya peraturan pemerintah yang mengharuskan sekolah menyediakan alat kontrasepsi untuk siswanya dengan alasan menyelamatkan alat reproduksinya karena belum siap untuk kehamilan.

Islam Solusi Komprehensif Menyelesaikan Persoalan Pornografi

Kekomprehensifan sistem Islam dalam mencegah pornografi terletak pada batasan yang jelas tentang pornografi sehingga tidak menimbulkan perdebatan, seperti dalam sistem demokrasi tentang definisi dan batasan pornografi yang selalu berubah dari waktu ke waktu.

Aurat bagi perempuan adalah seluruh bagian tubuhnya kecuali bagian wajah dan kedua telapak tangannya. Oleh karenanya, perempuan wajib mengenakan jilbab dan pakaian yang sesuai anjuran agama Islam. Sedangkan batasan aurat bagi laki-laki adalah anggota tubuh antara pusar hingga lutut. Dengan batasan yang baku maka akan memudahkan untuk menghukumi apakah termasuk pornogafi atau tidak, termasuk segala jenis tulisan, gambar, suara dan bunyi yang melanggar ketentuan syariat Islam mengenai batasan aurat, hubungan seksual serta larangan untuk memberi rangsangan seksual dalam kehidupan umum.

Islam sangat memperhatikan bagaimana pergaulan dan interaksi antara laki-laki dan perempuan begitu terjaga. Selain kewajiban untuk menutup aurat bagi perempuan dan laki-laki, ada perintah untuk menundukkan pandangan bagi laki-laki, semua ini tentu saja bersandarkan akidah Islam dalam setiap perbuatanya.

Islam memiliki 3 pilar utama dalam memberantas pornografi:

Pertama, orang tua dan pendidik harus berperan aktif di dalam pengawasan dan pembatasan akses anak-anak terhadap konten yang tidak sesuai dengan usia mereka, termasuk pornografi. Selalu memantau aktivitas anak di internet, penggunaan gadget, dan lain-lain, serta memberikan pengertian tentang perbuatan baik-buruk, terpuji-tercela, menyampaikan risiko dari konten yang mereka konsumsi dapat membantu mencegah paparan pornografi.

Kedua, masyarakat yang hidup dalam sistem Islam akan memiliki kepedulian yang tinggi dalam mengontrol perilaku masyarakat jika terjadi penyimpangan di tengah masyarakat, tidak takut untuk beramar makruf nahi munkar, bukan masyarakat yang cuek dan individualis seperti saat ini.

Ketiga, peran penting pemerintah dalam penerapan hukum yang tegas bagi siapa saja yang melanggar ketentuan dan regulasi ketat yang diberlakukan terhadap dunia siber, serta menindak tegas platform yang menyebarkan atau memfasilitasi penyebaran konten pornografi. Selain itu, kampanye edukatif tentang bahaya pornografi dan kejahatan anak juga harus diperluas.

Pilar-pilar tersebut akan menjalankan fungsinya masing-msing karena dorongan akidah Islam yang telah menjadi asas dalam kehidupannya, apapun peranannya baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun pemimpin pemerintahan.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update