Oleh: Lilik Solekah, SHI
(Ibu Peduli Generasi)
Realita yang sangat memprihatinkan, dan miris! 79 tahun dinyatakan merdeka namun kesenjangan antara desa dan kota belum juga terselesaikan. Bambang Soesatyo alias Bamsoet yang menjabat sebagai ketua MPR RI saat ini mengatakan bahwa pembangunan desa memiliki peran sentral dalam mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah. Pembangunan desa ini diklaim dapat memeratakan Pembangunan dan membawa kesejahteraan masyarakat desa.
Namun sayangnya realitanya tidak demikian. Hingga hari ini masih banyak penduduk miskin di desa, dan masih banyak desa tertinggal. Penduduk miskin, jalanan berlubang, bahkan lewat menyebrang sungai yang tidak ada jembatan. Anggaran desa hanya untuk mereka yang berkuasa sampai jalan menuju ke sawah yang dimilikinya diperhalus, namun beda realita dengan jalanan yang sering dilalui oleh rakyat biasa. Sehingga tidak heran jika marak urbanisasi terlebih paska lebaran ini juga membuktikan adanya kesenjangan tersebut.
Rakyat koar-koar pun jarang terdengar aspirasinya. Adapun hanya sebagai pemantas sistem saat ini boleh bersuara lantang namun untuk didengarkan nanti dulu, siapa dirimu? Apa pangkatmu? Jika diviralkan baru lah tau dan sedikit ditambal sulam agar diam mulutmu.
Terlebih dalam sistem hari ini, maraknya korupsi bahkan oleh pejabat desa, menjadikan pemerataan hanya ilusi. Pembangunan jalan yang tertulis di pinggir jalanan setelah rampung tertera dana hingga triliunan. Namun naasnya belum ada seminggu jalanan tersebut sudah mencuat bebatuan. Lagi-lagi impian rakyat kecil untuk lewat jalanan mulus harus dikubur kembali. Sistem hari ini hanya untuk membesarkan perut pribadi, perut keluarga, sanak saudara serta orang-orang terdekatnya.
Pun masyarakatnya dalam sistem kapitalistik tidak ada yang bisa dipercaya. Diturunkan semen guna pembangunan ada yang menyembunyikan, diturunkan batu di ulu (ditelan) begitu pun pasir, besi dan lain sebagainya untuk pembangunan mereka ada saja yang mengambil dengan dalih “Ini uang negara juga hak saya. Sehingga jika diambil satu karung dua karung tidak apa-apa.” Mereka tidak berfikir dampaknya pada jalan yang mau dibangunya segera rusak kembali.. Sudah dana lewat beberapa kantong manusia sampai level bawah pun masih berbuat curang. Dan lagi-lagi semua masyarakat yang kena imbasnya.
Begitupun sistem desentralisasi yang diterapkan juga mengakibatkan tidak merata karena kemampuan daerah yang berbeda-beda. Inilah sistem kapitalistik yang diemban kini. Digelontorkan dana seberapapun dan upaya apapun selama sistem yang dianutnya adalah kapitalisme sekuler maka hasilnya akan sama.
Hanya Sistem Islam kaffah yang penguasanya berperan sebagai rain. Pengurus umat yang akan melaksanakan pembangunan secara merata di semua wilayahnya. Didukung sistem sentralisasi, semua daerah akan dalam pantauannya.
Dalam sistem Islam pejabat dan pegawai yang amanah akan terwujud. Sehingga desa yang maju dan rakyat sejahtera sebagaimana di wilayah kota pun akan tercapai. Sebab dalam Islam hukuman, hak, kewajiban akan disamakan kedudukannya sebagai warga negara. Tidak ada kata yang menjabat sebagai penguasa harus kaya.
Bisa kita nalar dengan akal sehat, bahwa baldatun toyyibatun warobbun ghofur itu akan terwujud. Bukan sekedar teori namun telah terbukti. Bagaimana tidak, dari aspek:
Pertama, penguasanya sudah amanah, ketika dana keluar dari baitul mal untuk pembangunan sarana dan prasarana maka tak sepeserpun masuk kantong pribadi karena hidupnya tidak akan dimasuki barang haram sedikitpun.
Kedua, Masyarakat yang bertakwa tidak akan pernah mau mengambil sesuatu barang sekecil apapun yang bukan menjadi haknya. Dan juga saling menasehati dalam kebaikan.
Ketiga, Penguasa yang amanah akan menindak siapapun itu yang mengambil harta yang bukan haknya dengan sanksi yang tegas dan menjerakan.
Dari sini tidak akan ada celah yang namanya korupsi atau pembangunan yang sia- sia . Semua pembangunan fasilitas umum adalah tanggung jawab negara secara merata. Ingat akan kisah masa keemasan Islam dimana khalifah Umar Bin Khattab RA. Bertutur : “Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di kota Baghdad (Iraq), niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya dan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?’.
Khalifah Umar berkata demikian, karena menyadari beratnya menjadi seorang pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
No comments:
Post a Comment