Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bahaya Sistem Toguht Biang Keladi Penjajahan

Friday, August 02, 2024 | Friday, August 02, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:41:01Z

Oleh : Novita Ratnasari, S. Ak.

Ketika penyiksaan di Gaza di copy paste oleh oknum pro penjajah berhasil merenggut nyawa seorang demostran pro palestina. Menurut informasi, korban tewas lantaran sempat dikeroyok oleh massa ormas adat pasukan Manguni Makasiouw.

Sore itu, terjadi aksi ricuh tak terkendali antara masa aksi free palestina dan ormas bitung yang diduga pro zionis karena mengibarkan bendera Davin, sabtu (25/11/2023).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Manado Yaser Bin Salim Bachmid mengharapkan aparat keamanan dan pemerintah menelusuri bentrokan yang terjadi di Bitung, Sulawesi Utara. Aparat juga diminta mengusut sampai tuntas kasus tersebut. (Republika.co.id.jakarta.)

*Bagaimana penanganan dalam hukum toguht?*

Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, sejauh ini hanya menggelar deklarasi damai antara Ormas Adat Minahasa dan Organisasi Keagamaan Islam di Kota Bitung.

Padahal kalo kita runut rangkaian pemicu aksi heroik ini berawal perbedaan pandangan terkait menyoal Palestina vs Zionis laknatullah. Dimana demonstran aksi bela palestina memandang saudara kita sesama muslim sedang di bantai, genosida, perampasan lahan secara paksa, bahkan penjajahan oleh zionis yang mengakibatkan penderitaan umat islam berkepanjangan sampai detik ini.

Polemik ini sangat bertolak belakang oleh sudut pandang ormas adat tersebut dimana dari identitasnya (pengibaran bendera laknatullah zionis) menunjukkan eksistensinya pro penjajah. Dimana mereka berargumen bahwa Palestina lah yang teroris sesuai play victim di media sosial yang notabennya di kuasai yahudi.

Keadaan disana mulai keos setelah acara aksi bela palestina selesai dengan damai ditutup solat berjamaah dan doa bersama tetapi ada oknum dari ormas membakar bendera tauhid dan palestina dengan sengaja, padahal aksi ini mendapatkan izin dari aparat setempat. Ini adalah point penting bahwa aksi yang berlangsung adalah resmi bukan ilegal.

Bisa kita lihat seseorang akan menggambarkan karakter idolanya. Ketika idolanya adalah para mujahid, para penghafal al-qur’an, dan para penegak syariat jelas yang terinstal pada penggemarnya ga jauh-jauh dari hal baik. Ketika mengetahui saudara kita di genosida maka melakukan galang dana, donasi, doa bersama, boikot prodak pro penjajah, dan yang terbaru yaitu julid fisabilillah. Berbanding terbalik dengan seseorang yang mengidolakan penjajah pasti aktivitasnya menggambarkan kekerasan, ingin menang sendiri, dan sudah menjadi tabiatnya menyalah-nyalah kan apapun yang tidak sejalan dengan visi misinya, kepentingannya, atau pandangan hidup mereka.

Sangat disayangkan langkah pemerintah dalam menangani kasus ini, ketika hanya menangkapi pelaku pembuat kericuhan, dan deklarasi damai kedua belak pihak. Seakan-akan menutup mata dan bungkam mengenai pengibaran bendera Davin di negeri ini, yang jelas-jelas secara konstitusi dilarang.

*Benarkah Negeri Konoha Merdeka?*

Larangan ini diatur dalam Peraturan Mentri Luar Negeri (Permenlu) Nomor 3 tahun 2019 tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemda dalam Bab X Hal khusus poin B nomor 150 yang ditandatangani Menlu Retno Marsudi.

Tidak ada hubungan secara resmi antara pemerintah indonesia dalam setiap tingkatan dengan zionis laknatullah; Tidak diizinkan pengibaran/penggunaan bendera, lambang, dan artibut lainnya serta mengumandangkan lagu kebangsaan penjajah di wilayah Republik Indonesia, isi peraturan Menlu tersebut. (CNBC Indonesia)

Hal ini karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan zionis dan tidak mengakui adanya negara penjajah tersebut. Tak heran jika muncul peraturan yang melarang mengibarkan bendera dan mengumandangkan lagu kebangsaan zionis di Indonesia.

Korelasi antara larangan ini dan langkah tegas terhadap penjajah harusnya dituangkan dalam tindakan nyata, justru dengan adanya kejadiaan ini memberikan bukti bobroknya sistem thoguth ini (dibaca:Demokrasi-Sekulerisme).

Nasionalisme, penyebabnya bungkamnya penguasa muslim terhadap genosida Palestina, seluruh negeri muslim termasuk Konoha.

Palestina sebenarnya amat dekat dengan wilayah kaum muslim : Libanon, Yordania, dan Mesir merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Palestina. Palestina pun berada di tengah-tengah negara Arab yang kaya dan merdeka. Namun mereka bungkam dari penderitaan umat islam di Palestina. Sekat-sekat nasionalisme ini lah pemecah belah kaum muslimin di penjuru dunia. Sehingga untuk melakukan sebuah tindakan saja harus dengan perizinan PBB dan solusi pun dilimpahkan kepada PBB.

Keadaan ini mengkonfirmasi kepada dunia bahwa sebenarnya yang merdeka hanya lah Gaza, meski hidup dalam lingkaran penjara terbesar dan dalam bayangan 24 dihantui ledakan rudal tetapi pemikiran mereka bebas dari ide-ide sekuler. Keseharian mereka sebuah kepastian menunjukkan identitas 100% muslim. Sangat tidak balence dengan negeri kaum muslim termasuk konoha secara fisik nyaman tetapi siapa sangka secara pemikiran sedang tempur, gazwul fikri (perang pemikiran) banyak sekali ide-ide sekulerisme dan keturunannya yang mendarah daging ke dalam hati dan pikiran nya, sehingga melawan kemaksiatan jelas terindra di depan mata saja memilih mengencam atas dasar kemanusiaan semata.

*Kenapa Indonesia wajib membela Palestina?*

Dizaman ini kebenaran menjadi rancu ketika media banyak mengaruskan hoax lebih dominan dari pada realitanya. Selain perang fisik di Palestina, kita pun sebenarnya perang pemikiran dimana medannya adalah media sosial. Untuk mendapatkan sebuah kebenaran yang pasti harus jeli dengan banyaknya berita beragam yang media suguhkan. Salah memilih berita, salah informasi yang didapat, mengakibatkan bereaksi menjadi salah dan beraksi pun salah.

Kita sepakati dulu bahwa yang terjadi antara Palestina dan zionis adalah penjajahan dan perang agama. Pada tahun 1896 Teodor Hezl menulis buku berjudul “Der Judenstaat” artinya “Negara Yahudi” berangkat dari situ di tahun 1948 Israel mendirikan entitae sebuah negara di Palestina diresmikan oleh PBB. Kemudian pembantaian dimulai sampai sekarang. Padahal di tahun 637 M khalifa Umar Bin Khatab menerima kunci Al Quds dari Patrik Sophronius, sekaligus menandai perpindahan status tanah ini dari dikuasai oleh Romawi, menjadi dalam kekuasaan kaum Muslim.

Jadi alasan sangat jelas ketika Indonesia mayoritas muslim membela Palestina karena tanah itu tanah kaum muslim, dan ada didalam konstitusi Indonesia.

Pada Pembukaan UUD 1945 paragraf pertama berbunyi, “Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh karena itu maka penjajah harus diatas dunia harus dihapuskan,…”

Pada paragraf ke 4 berbunyi, “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi, dan keadilan sosial,…”

Inilah perlunya kita belajar agar tidak keblinger oleh pemahaman yang salah dan tidak valid.

*Pendidikan Islam VS Kurikulum Merdeka*

Ini lah penting nya kurikulum Islam dalam sistem pendidikan, yang akan melahirkan generasi emas dengan pisau analisis tajam kerangka berpikirnya Mustanir (cemerlang) dan ‘amikon (mendalam), umat akan belajar sejarah islam untuk menentukan langkah masa depan, umat akan dididik dengan standar syariat Allah, melahirkan para Mujtahid, Ilmuan Mustanir, Pemimpin Adil, dan perempuan nya dididik menjadi madrasatul ula yang kelak dari rahimnya melahirkan para generasi emas. Hanya dalam tinta sejarah islam dan kurikulum islam seorang mendapatkan banyak gelar dan itu mayoritas. Contohnya yang booming Ubaidillah Al Jarroh, seorang periwayat hadist, panglima perang, hafizh al-qur’an, dan kepercayaan Rasullah.

Lain ladang lain ilalang, ketika umat menerapkan sistem toguht (Demokrasi-Sekulerisme) ideologi selain islam, akan melahirkan pula kepribadian selain islam, melahirkan pola pikir dan pola sikap nya standarnya ganda. Contoh memaknai taat hanya ibadah fardhiyah saja, cukup sholat, zakat, puasa ramadhan 1 bulan sudah ahli ibadah. Ketika persoalan dunia dari pergaulan sampe tataran negara bikin undang-undang sendiri yang kapan pun bisa direvisi sesuai kepentingan dan kekuasaan.

Sistem ini eksis ketika umat islam menginstal filsafah asing yang melahirkan ide-ide liberal. Sehingga sangat wajar ketika kedzoliman nyata di depan mata dan terjebak pada sistem ini malah menikmati penderitaan sesama muslim, hanya bisa mengencam dan donasi yang sejatinya itu bukan solusi tuntas.

Didalam sistem ini (Demokrasi-Sekulerisme) kebijakan berdasarkan kepentingan dan ditentukan siapa pemilik modal. Ketika konstitusi harusnya syariat Allah tapi berkhianat ke sistem toguht menjadi biasa ketika pelanggaran itu di normalisasi. Pengibaran bendera Davin (entitas zionis Israel) tidak ditindak lanjuti padahal jelas ada peraturan yang mengatur. Ketika kemerdekaan hanya di fisik bukan pemikiran menjadi normal tindak kriminal terjadi dan solusi nya tidak melahirkan hukuman jera. Contoh pengibaran bendera penjajah dianggap biasa, penistaan agama-klarifikasi-minta maaf-clear seperti itu terus pola penanganan kejahatan di negeri konoha ini (sistem toguht) sehingga peluang besar orang melakukan hal serupa dan beragam.

Kurikulum Merdeka melahirkan generasi strawberi, sandwich generation, generasi yang notabennya rapuh mudah mentalilnes, stress dikit loncat dari gedung, tidak bisa mengikuti lifestyle bacok teman, karena dalam KBM (kegiatan belajar mengajar) murid dididik sebagai alat pencetak uang, pelajarannya mengarah ke profesi dengan tujuan jelas setelah lulus kerja apa? tidak balence dengan pengurangan jam KBM mata pelajaran keagamaan, murid tidak didik bagaimana menjadi ingsan taat agama, bagaimana melahirkan generasi yang berkepribadian islam sehingga cuek bebek ketika dihadapkan oleh persoalan diluar kepentingan.

Didalam sistem pendidikan toguht ini murid belajar sejarah versi kolonial dan sejarah islam pun banyak yang dikubur dan kaburkan, sehingga jelas menjadi rancu penyebab utama genosida di Palestina. Padahal pendiri zionis adalah PBB, menjadi komedi ketika solusi diserahkan kepada PBB. Jika PBB serius memberikan solusi two-stage nation kenapa tidak dari awal 1948? Padahal penduduk Palestina sejak Perang Dunia ke dua statusnya sudah stateless (tidak dianggap manusia) Kenapa baru di tahun 2023 setelah saudara muslim Palestina berlumur darah selama75 tahun.

Dengan terang-terangan Amerika Serikat mendeklarasikan ke dunia berjalan bersama zionis (pro penjajah) dimana PBB itu dilahirkan oleh Amerika, seharusnya umat bisa berpikir mustanir dalam segala persoalan. Tetapi sayangnya hanya dalam sistem islam (dibaca: khilafah) melahirkan generasi yang memiliki kerangka berpikir kritis dan analisis tajam.

*Kembalikan syariat islam memimpin dunia*

Belajar dari tinta emas sejarah, Islam gemilang memimpin dunia selama 13 abad menguasai 1/3 benua, kurang bukti apa lagi bahwa islam sebaik-baiknya ideologi? Mau berapa lama lagi penderitaan ini? Mau berapa banyak kasus lagi? Mau sampai kapan?

Sudah cukup penderitaan untuk seluruh kaum muslim, ketimpangan ini akan terus berlanjut jika umat merasa aman ada di sistem ini. Umat harus cepat tanggap menjernihkan pemikirannya, unistal ide-ide asing dan upgrade ke pemikiran islam.

Hanya dengan islam umat akan aman dan nyaman, seperti dalam sejarah tiga entitas agama (yahudi, nasrani, dan islam) hidup damai dibawah naungan sistem islam (khilafah). Sejarah menunjukkan kepada dunia selama 1192 tahun Palestina Merdeka dengan Khilafah, berbanding terbalik selama 106 tahun penjajah berkuasa. Tidak ada seperempatnya sendiri tetapi penderitaannya dirasakan seluruh dunia.

Ini saatnya istiknafil hayati (melanjutkan kehidupan islam) karena umat sudah di ujung tebing yang curam dan menakutkan dalam artian khilafah menjadi urgensi umat saat ini. Sehingga perkara-perkara melanggar syariat khalifa akan bertindak tegas dan adil dalam memutuskan perkara sesuai syariat.

Wallahu’alam bisowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update