Tanpa Islam, Jaminan Keamanan Sulit Diwujudkan

 

Oleh. Irohima

(Pegiat Literasi) 



Jika seorang perempuan menangis karena disakiti oleh laki-laki. Maka setiap langkah laki-laki tersebut dikutuk oleh para malaikat.”

( Ali Bin Abi Thalib )


Sebuah ungkapan pernah dilontarkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib yang menggambarkan betapa dahsyatnya dampak dari perbuatan menyakiti perempuan. Bukan hanya dosa yang didapatkan tapi juga hidup yang jauh dari keberkahan karena di setiap langkah para pelakunya, malaikat selipkan kutukan. Naudzubillah min dzalik. Lantas bagaimana dengan kondisi sekarang, di mana kekerasan pada perempuan makin marak terjadi di negeri ini ?.


KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga kembali terjadi, kali ini RFB, seorang istri mantan Perwira Brimob mengalami KDRT sejak tahun 2020 hingga terakhir 3 Juli 2023 oleh suaminya yang menyebabkan RFB mengalami luka fisik dan psikologis. Saat ini sang suami MRF telah ditahan (Kompas, 22/03/2024). 


Di sisi lain kasus KDRT yang menimpa seorang istri terjadi di Deli Serdang berujung pada pembacokan ibu mertua oleh menantu, yang tidak senang lantaran ditegur terkait KDRT yang dilakukan pada anaknya (kumparanNEWS, 22/03/2024). Fakta  yang lebih memilukan, kejadian di Tapanuli Utara, seorang kakek (58 tahun) tega mencabuli keponakan perempuannya sendiri yang berusia 11 tahun.


Banyak faktor yang memicu terjadinya KDRT, diantaranya adalah perselingkuhan, persoalan ekonomi, adanya budaya patriarki, campur tangan orang ketiga dalam keluarga, terjerat utang serta judi, dan adanya perbedaan prinsip hidup. Namun yang menjadi akar permasalahan semua itu adalah tidak adanya fungsi perlindungan dalam keluarga. 


Fungsi seorang suami, ayah, atau kakek sebagai pencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, pendidik anak dan pelindung keluarga dari segala bentuk marabahaya termasuk kekerasan justru hilang, malah berganti menjadi pelaku kekerasan dan menelantarkan keluarga.


 Cara pandang terhadap kehidupan yang terlanjur terkontaminasi oleh sekularisme juga turut mempengaruhi sikap dalam interaksi dan hubungan keluarga. Sekularisme yang kerap menghilangkan fitrah, menjadikan kita sosok yang egois dan individualis, tidak peka, tidak memiliki empati bahkan tidak punya rasa welas asih dan kasih sayang terhadap sesama anggota keluarga. Padahal adanya rasa sayang dan saling mengasihi akan mewujudkan perlindungan dalam keluarga. 


Anak-anak dan kaum perempuan akan merasa terlindungi oleh sosok seperti ayah, suami, dan kakek hingga mereka akan meyakini bahwa rumah adalah tempat yang paling aman. Kondisi keluarga yang harmonis dan saling mengasihi inilah yang kelak menjadi salah satu penentu terbentuknya ketahanan keluarga.


Maraknya KDRT menunjukkan rapuhnya ketahanan keluarga. Keadaan keluarga yang solid, sejahtera, maju dan memiliki dasar keagamaan yang kokoh dan merupakan faktor pembentuk ketahanan keluarga kini lambat laun hilang, ini adalah bukti jika negara telah gagal memberikan jaminan keamanan dalam rumah kepada rakyatnya.


Kegagalan ini disebabkan oleh penerapan sistem sekuler liberal yang menjauhkan agama dari kehidupan serta menjadikan landasan kebebasan dalam setiap tindakan. Tidak ada batas halal haram, semua dikerjakan tanpa peduli aturan Tuhan.


Butuh solusi yang hakiki untuk keluar dari persoalan ini. dan satu-satunya solusi adalah Islam. Dalam Islam, keluarga merupakan institusi terkecil yang strategis dalam jaminan perlindungan keluarga, maka dari itu Islam akan menjamin terwujudnya perlindungan keluarga melalui berbagai sistem. Islam akan memberlakukan sistem pendidikan yang akan melahirkan individu yang bertakwa dan berkepribadian Islam.


 Individu yang berkepribadian Islam akan senantiasa menyayangi sesama apalagi terhadap keluarga. Sistem pendidikan dalam Islam juga akan mencetak individu yang berakhlak mulia, tidak saling menyakiti, dan saling menghormati. Negara dalam Islam juga akan memberlakukan sistem ekonomi yang bisa menjamin kesejahteraan seluruh rakyat, hingga persoalan ekonomi yang terkadang menjadi pemicu terjadinya kekerasan dapat dicegah bahkan dihilangkan.


 Sistem peradilan yang mengikuti aturan syara juga akan memberi sanksi yang tegas dan berefek jera kepada para pelaku kekerasan, pencabulan dan juga pembunuhan hingga kasus kekerasan tak akan berulang.


Kita perlu solusi yang tuntas dan bersifat jangka panjang, bukan solusi yang setengah-setengah dan tak menyentuh akar permasalahan. Hanya Islam lah  yang bisa menyelesaikannya, untuk itu bersegeralah kembali pada aturan Islam, karena Islam merupakan sebaik-baik aturan.


Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post