Solusi Tuntas Penanganan DBD


Oleh Maya Herlinawati

Muslimah Peduli Umat 


Tren meningkatnya kasus penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) telah tampak, bahkan menyebabkan banyak korban kematian, seperti marak terjadi di beberapa wilayah Indonesia.


Bagaimana Solusinya?


Dinkes Pemprov Jawa Barat, sejak Januari 2024, telah mencatat kasus DBD berada pada angka 11.508 kasus. Dari angka tersebut, ada 96 kasus kematian. Di wilayah Jakarta hingga tanggal 18 Maret 2024, kasus DBD meningkat pesat menjadi 1729 kasus. Diprediksi akan terus meningkat hingga bulan Mei 2024 yang akan datang. Dinkes Kabupaten Bogor periode Januari-Februari 2024, mencatat empat orang meninggal dunia karena terjangkit DBD setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Dinkes Kalimantan Timur (4/3) menerangkan bahwa kasus DBD menjadi 2.320 kasus, dan tujuh orang meninggal dunia.


DBD adalah penyakit endemis, yang banyak tersebar di wilayah tropis seperti di Indonesia. 


Penyakit DBD dibawa melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus dengue. Nyamuk ini merupakan penyebab demam berdarah yang akan menularkan virus saat menggigit dan menghisap darah korbannya. Jenis nyamuk ini biasanya menyerang di pagi dan sore hari. 


Wabah DBD terus berulang sampai membawa kematian. Hal ini jelas membutuhkan solusi komprehensif dan mendasar. Tindakan preventif dan kuratif perlu dilakukan semaksimal mungkin untuk mencegah kenaikan kasus DBD yang berulang.


Pencegahan penyebaran penyakit DBD selayaknya dilakukan oleh berbagai pihak individu, masyarakat dan negara. Upaya yang dilakukan dengan penyuluhan, larvasida, dan gerakan fogging untuk memberantas sarang nyamuk aedes aegypti. Gerakan 3 M yaitu menguras bak penampungan air secara rutin, menutup dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas, dan pemberian vaksin DBD merupakan upaya pencegahan DBD.


Sistem kapitalisme yang diemban negara-negara di dunia saat ini hanya menerapkan aturan buatan akal manusia.  Sehingga solusi yang dibuat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup hanya bersifat pragmatis tidak tuntas pada akar permasalahanya, seperti saat ini bagaimana cara mengentaskan wabah DBD.


Ekonomi kapitalis menjadikan kesehatan sebagai ajang yang menjadi sektor jasa dengan dibisniskan layaknya transaksi jual beli. Sebagai contoh, vaksin DBD sudah tersedia tetapi untuk mendapatkannya tidaklah gratis. 


Rendahnya edukasi dan literasi pemerintah yang belum optimal juga memungkinkan masyarakat minim pengetahuan seputar DBD, sehingga menurunkan kewaspadaan mereka terhadap penyakit ini.


Semua ini terjadi karena sistem kapitalisme tidak menjamin kebutuhan dasar pokok rakyat seperti pendidikan dan kesehatan, kemiskinan berdampak gizi buruk, sanitasi lingkungan tidak sehat, dan layanan kesehatan berbayar mahal.


Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam mewujudkan kesehatan setiap individu rakyat. Sebagaimana hadist Rasul saw , "Penguasa adalah pengurus, ia bertanggung jawab atas kepengurusan rakyatnya." (H.R. Imam Bukhari dan Imam Ahmad)


Masyarakat yang sehat dan unggul hanya bisa terwujud pada sistem pemerintahan yang menerapkan syariat Islam secara kafah dalam bingkai negara Khilafah, a'la minhajj nubuwah.


Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post