Sekularisme Dalang Dibalik Merebaknya Prostitusi Online


Oleh: Zuliyama, S.Pd.

(Aktivis dakwah muslimah)


Wanita dikenal sebagai sosok pembentuk peradaban. Apabila wanitanya baik, maka baik pula peradabannya. Namun, apabila rusak wanitanya maka rusak pula peradabannya. Hal ini karena baik buruknya wanita akan turut mempengaruhi orang lain, namun tidak dengan laki-laki. Sayangnya zaman sekarang banyak kita jumpai kasus yang mencoreng nama baik perempuan, baik dilakukan dalam keadaan terpaksa mapun secara suka rela dengan angan-angan mendapatkan kebahagiaan. 


Dilansir dari tribunnews.com (14/3/2024), Kasat Reskrim Polresta Bogor, Kompol Luthfi Olot Gigantara mendapatkan sebanyak 20 orang wanita yang bekerja sebagai pekerja seks komersil (PSK). Pekerjaan ini diwadahi oleh Dimas Tri Putra (27) si mucikari yang menjalankan bisnis online prostitusi online sejak tahun 2019. “Sementara semuanya mereka sudah dewasa. Mereka dikirimnya ke Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan, Bandung. Semuanya bersumber dari mucikari ini,” kata Luthfi. 


Sementara itu, dilansir dari belitung.tribunnews.com (15/3/2024), Tim gabungan yang melibatkna jajaran Satpol PP bersama tim gabungan dari Polres Belitung, BNNK serta stakeholder terkait ini menemukan lima pasangan bukan suami istri dan empat wanita yang terindikasi terlibat prostitusi online saat sedang menyisir beberapa hotel di sekitaran Kota Tanjungpandan. “Setelah kami turun ke lapangan, masih ditemukan adanya beberapa pasangan bukan suami istri dan wanita yang terindikasi melakukan prostitusi online,” ujar Kasat Pol PP Belitung Hendri Suzanto.


Sekularisme Biang Keladi Munculnya Prostitusi


Merebaknya prostitusi online tentu begitu miris untuk diamati mengingat betapa mulianya seorang wanita dan betapa berpengaruhnya kondisi wanita terhadap masyarakat. Sayangnya, itulah yang menjadi fakta di lapangan sebagai penggambaran betapa buruknya kondisi wanita saat ini. Persoalan ekonomi, gaya hidup hedonis, putus asa, kompleksnya persoalan sosial budaya, proses degradasi moral atau maraknya sikap permisif merupakan beberapa faktor pemicu terjadinya prostitusi berdasarkan apa yang disampaikan oleh Nyemas Danu Ulandari seorang mahasiswa ilmu hukum dalam jurnalnya. 


Jika diamati lebih lanjut, beberapa faktor tersebut bersumber dari satu masalah dasar berupa penerapan sistem sekularisme yang amat dibangga-banggakan negeri tercinta kita ini. Sistem sekularisme meniscayakan adanya pemisahan agama dari kehidupan atau dengan kata lain Allah sebagai pencipta tidak berhak mengatur kehidupan manusia sebagai makhluknya. 


Persoalan ekonomi tak jarang seringkali terucap sebagai faktor dari banyaknya kasus kejahatan yang ada di negeri ini, tak terkecuali kasus prostitusi yang turut menghiasi. Sistem sekularisme dengan sistem ekonomi kapitalismenya sungguh dapat memelaratkan penduduk negeri ini. Pola pikir kapitalis menilai semua perbuatan yang dilakukan semestinya dapat menghasilkan uang atau materi sebagai sesuatu yang dianggap sumber kebahagiaan. Mirisnya, mendominasinya pola pikir ini turut serta pada diri pemerintah atau pengurus rakyat. Tugas mengurusi dan mengayomi rakyat bukan lagi sekedar tugas, melainkan juga sebagai sarana untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Pelayanan rakyat malah diperjual belikan, ada uang ada pelayanan. Maka tak heran muncul kalimat seperti orang miskin tak boleh sakit, karena begitu mahalnya biaya kesehatan yang harus ditanggung rakyat. Ada juga kalimat, yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Hal ini akibat si miskin yang bukannya diurusi oleh negara malah dibebani berbagai pembayaran yang makin memelaratkan rakyat. Adapun si kaya yang sudah kaya malah diberi kewenangan untuk mengelola hak milik rakyat banyak dan mendapatkan lebih banyak keuntungan.


Adapun gaya hidup hedonis, putus asa, kompleksnya persoalan sosial budaya, proses degradasi moral atau maraknya sikap permisif tak lain muncul karena jauhnya individu maupun masyarakat dari nilai-nilai ketakwaan. Selain itu, mereka juga begitu menjunjung tinggi prinsip kebebasan. Semua boleh dilakukan asal tidak mengganggu hak orang lain. Aikibatnya, ramai-ramai masyarakat bertindak sesuka hati dan kemaksiatan pun merajalela seolah telah menjadi makanan pokok demi mendapatkan materi. 


Islam Menghapus Tuntas Kasus Prostitusi Online


Wanita sangatlah dimuliakan dalam islam, baik ketika menjadi seorang anak, menjadi seorang istri ataupun menjadi seorang ibu. Tabiatnya yang lemah bahkan tak menjadi penghalang keutamaannya. Olehnya itu, islam begitu menaruh perhatian khusus terhadap wanita. 


Banyaknya kasus prostitusi online yang menjamur pun tak akan ditemukan dalam masyarakat yang menerapan sistem islam. Faktor ekonomi  yang digadang-gadang sebagai pemicu segala masalah akan dinihilkan dalam islam. Wanita khususnya tidak akan pusing memikirkan masalah kebutuhan yang tak terpenuhi karena ia bahkan tak dibebani kewajiban menafkahi dirinya sendiri melainkan sebagai pihak yang dinafkahi. Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. Al Baqarah 233 yang artinya: “Dan kewajiban ayah memberi makan kepada para ibu dengan cara yang makruf.”  Hal ini juga tercantum dalam hadits Rasulullah “Hak mereka (istri) atas kalian (suami) adalah agar kalian memberi rezeki dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik” (HR Muslim) dan dalil-dalil lainnya.


Sementara itu, setiap individu masyarakat khususnya wanita akan dididik untuk senantiasa taat kepada Allah dengan mengikuti apa yang Ia perintahkan serta menjauhi apa yang Ia larang. Ketaatan inilah yang menjadi pencegah dari berbagai kemaksiatan penyebab kerusakan yang kian menjamur termasuk kasus prostitusi. Sifat hedon misalnya akan jarang ditemukan dalam masyarakat islam. Hal ini karena mereka begitu yakin bahwa di akhirat kelak, barang yang mereka belanjakan akan dimintai pertanggung jawaban hingga mereka akan senantiasa berhati-hati dalam setiap pengeluarannya. Selain itu, hal ini didukung pula dengan bertanggung jawabnya negara terhadap rakyatnya sehingga tidak membiarkan konten, tayangan, tontonan dan produksi film porno sebagai pemicunya beredar di masyarakat. 


Banyaknya keutamaan tanpa cacat dalam aturan islam tersebut tentu hanya akan bisa dirasakan jika kita menerapkan sistem islam secara menyeluruh. Maka menjadi kewajiban atas setiap muslim dan kebutuhan atas setiap masyarakat untuk memperjuangkan tegaknya aturan islam tersebut. Wallahu a’lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post