Prostitusi Online Merajalela, Islam Solusi Nyata

 


Oleh. Uty Maryanti


Pesatnya perkembangan teknologi dari waktu ke waktu tentu membuat penggunanya merasa dimudahkan dalam berbagai bidang. Tidak kita mungkiri teknologi yang semakin modern pada zaman ini membuat kehidupan tersisipi aktivitas online, seperti belanja online, transfer antar bank online, serta aktifitas online yang disalah gunakan oleh segelintir orang untuk memperkaya dirinya. 


Dilansir dari tribunnews (14/03/2024) Germo Dimas hasilkan Rp.300 Juta dari prostitusi online. Pelaku menjalankan bisnis prostitusi online di Kota Bogor, Jawa Barat. Dalam aksinya ia menjual 20 perempuan dengan tarif hingga 30 juta kepada pria hidung belang di berbagai wilayah indonesia, pelaku sudah menggeluti bisnis haram tersebut sejak 2019. Dua puluh PSK yang dimiliki Dimas semuanya sudah dewasa dan datang dari profesi yang beragam yakni caddy golf, selebgram, mantan pramugari hingga putri kebudayaan. Mereka dikirimkan ke Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan, Bandung, dan semua bersumber dari si mucikari Dimas ini, ungkap Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Luthfi Olot Gigantara.


Sejatinya akar masalah dari semua ini adalah akibat diterapkannya sistem sekularisme, yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Wajar, jika jauh dari agamanya membuat akidahnya lemah, sehingga tidak merasa diawasi Allah. Maraknya kasus prostitusi di Indonesia menjadi salah satu bukti rusaknya moral generasi saat ini. Orientasi materi yang menjadi dasar tujuan hidup dan kebahagiaan tidak lagi memandang halal haram, untung dan rugi menjadi tolok ukur dalam segala aktivitas yang mereka lakukan, jika bermanfaat dan mendatangkan banyak pundi-pundi uang maka akan terus dilakukan.


Sekularisme yang diemban saat ini pun membuat masyarakat memiliki cara pandang yang memisahkan aturan agama dari kehidupan, maka wajar jika kebanyakan masyarakat berprilaku liberal tanpa mempedulikan halal dan haram. Ditambah sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan telah menciptakan kemiskinan dimana pada pelaksanaannya meliberalisasi atau membebaskan seluruh kepemilikan publik, sehingga menciptakan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kondisi perekonomian yang sempit dan pandangan hidup yang salah telah mendorong masyarakat mendapatkan uang dengan cara yang instan tanpa perlu bersusah payah.


Hukum yang tumpul dan tebang pilih serta tidak menimbulkan efek jera turut mengambil peran. Akibatnya pelaku kejahatan prostitusi tidak kapok. Tidak ada sanksi yang melindungi masyarakat dan ditakuti para pelaku, pun tidak ada sanksi pidana bagi PSK dan pengguna jasa PSK, yang ada hanya hukum pidana bagi penyedia jasa atau mucikari yang mencari keuntungan dari pelacuran tersebut.


Maka diperlukan sistem yang kuat untuk memberantas prostitusi dengan tuntas. Yakni sistem Islam, dalam pandangan Islam prostitusi atau pelacuran adalah bisnis haram yang tidak boleh ada dalam kehidupan Islam. Meski bisnis ini mendatangkan keuntungan yang menggiurkan, dalam pandangan Islam pelacur (pekerja seks komersial) adalah profesi hina pelakunya layak mendapatkan sanksi yang berat baik di dunia dan akhirat.


 Pasalnya pelacuran apapun bentuk dan macamnya adalah termasuk zina. 

Islam yang memiliki seperangkat aturan, salah satunya sanksi terhadap pelaku tindak kejahatan seksual dan prostitusi. Bagi pelaku yang sudah menikah akan dirajam sampai mati dan pelaku yang belum menikah dicambuk seratus kali cambukan. Adapun bagi fasilitator bisnis ini seperti mucikari dapat dikenakan sanksi ta’zir, bisa berupa cambuk, pemenjaraan hingga hukuman mati. Islam memiliki sistem sanksi yang tegas. 


Sistem sanksi dalam Islam sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa), dalam hal ini kemaksiatan dan kejahatan seksual akan mudah diatasi dengan efektif dan efisien juga tuntas.


Sungguh hanya sistem Islam lah yang mampu melindungi masyarakatnya dari tindakan maksiat. Maka sudah saatnya kita tinggalkan sistem rusak saat ini dan kembali pada Islam kafah. 


Wallahu a’lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post